Laut China Selatan kembali memanas. Merespons hal ini, Malaysia menyadari akan perlunya meningkatkan kemampuan pertahanan, terutama Angkatan Laut (AL) untuk menghadapi kemungkinan konflik.
Demikian yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Malaysia, Saifuddin Abdullah pada Kamis (17/10), seperti yang dilansir dari The Globe and Mail.
Sejak beberapa pekan terakhir, terutama sejak bulan lalu ketika kapal perusak AL Amerika Serikat mulai berlayar di dekat pulau-pulau yang diklaim China, situasi di kawasan kembali memanas.
China menyalahkan AS karena telah meningkatkan ketegangan dengan mengirim kapal perang dan pesawat militer di sana.
Menanggapi hal ini, Saifuddin mengatakan Malaysia bisa saja mengeluarkan nota protes pada AS. Namun dengan kekuatan Angkatan Laut dan maritim yang dimiliki saat ini, Malaysia berada di posisi yang kurang menguntungkan, terutama jika terjadi konflik.
"Kapal Angkatan Laut Kerajaan Malaysia lebih kecil dari kapal penjaga pantai dari China. Kami tidak ingin (konflik) terjadi, tetapi aset kami perlu ditingkatkan, sehingga kami dapat mengelola perairan kami dengan lebih baik jika ada konflik antara kekuatan utama di Laut Cina Selatan," ujar Saifuddin kepada parlemen.
Seakan sepakat dengan menlunya, Perdana Menteri Mahathir Mohammad juga mengatakan Malaysia terlalu kecil untuk berdiri di atas kekuatan Asia, termasuk ketika kapal-kapal China mensurvei teritorial Malaysia untuk minyak dan gas tanpa izin.
Meski demikian, Saifuddin mengatakan Malaysia akan terus mendorong non-militerisasi Laut China Selatan dan menyerukan pendekatan baru dengan ASEAN.
"Laut China Selatan seharusnya tidak menjadi titik konflik di antara negara-nagara. Kami konsisten pada hal itu di forum internasional seperti ASEAN, di mana kami mengangkat konsep pengendalian diri dan non-militerisasi di Laut China Selatan," katanya.