Berita

BEM UI enggan masuk ke tataran politik praktis/Dok BEM UI

Politik

Tolak Terjebak Politik Praktis, BEM UI Fokus Gerakan Kritis

KAMIS, 17 OKTOBER 2019 | 12:20 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Munculnya sejumlah RUU yang disahkan menjelang akhir jabatan DPR periode 2014-2019 tidak hanya menimbulkan spekulasi tentang hidden agenda pemerintah dan DPR, namun juga memantik gelombang protes mahasiswa di berbagai daerah.

Aksi penolakan sejumlah RUU, terutama RUU KPK marak dilakukan mahasiswa di berbagai daerah.  Sikap mahasiswa yang demikian masif ini memicu tudingan bahwa gerakan mahasiswa ditunggangi kelompok politik tertentu.

Pasalnya, isu Perppu KPK dianggap sebagai entry point untuk mendelegitimasi pemerintahan Jokowi dan mengganggu pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2019-2024.


Menanggapi isu tersebut, Divisi Kajian Strategis BEM UI, Sekar Mentari menampik pihaknya ditunggangi kepentingan politik praktis.

Menurutnya, hingga saat ini BEM UI masih menggodok beragam opsi dalam merespons sejumlah RUU. Termasuk RUU KPK melalui forum Chief Executive Meeting (CEM) dengan melibatkan seluruh BEM Fakultas.

"Kami menolak setiap upaya pelemahan pemberantasan korupsi atau KPK," ujar Sekar dalam Diskusi "Dinamika Gerakan Mahasiswa: Tuntutan Pengesahan RUU PKS di Persimpangan Jalan (?)" di Kampus UI Depok, Rabu (16/10).

"Namun kami juga membuka semua opsi gerakan apakah melalui dukungan terhadap Perppu, judicial review, maupun alternatif lainnya," tambahnya.

Sekar juga mengklarifikasi bahwa penolakan BEM UI untuk bertemu dengan Presiden Jokowi didasari pandangan bahwa seharusnya tidak hanya mahasiswa saja yang diundang.

"Namun juga melibatkan kelompok masyarakat yang menaruh perhatian terhadap masalah pemberantasan korupsi," jelas Sekar.

Sementara soal pelantikan Presiden terpilih pada 20 Oktober 2019 mendatang Sekar berharap acara tersebut segera dilaksanakan. Sehingga BEM UI tidak lagi menjadi korban framing bahwa akan menjadi bagian untuk mengganggu proses pelantikan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya