Berita

Kilang Kopi Gayo di Aceh Tengah/Ist

Publika

Glyphosate Coffee

SENIN, 14 OKTOBER 2019 | 23:20 WIB | OLEH: JOKO INTARTO

NAMANYA keren ya? Jangan mudah tergoda. Sebab glyphosate atau glifosat adalah nama senyawa kimia yang beracun. Senyawa itu sekarang bikin heboh. Konon ditemukan di kopi Gayo. Benarkah?

Ini lampu kuning. Untuk masyarakat Aceh. Terutama pemerintah daerah Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Dua wilayah yang menjadi pusat produksi Kopi Gayo.

Kalau tidak segera bertindak, masyarakat petani kopi dan eksporter kopi Gayo akan menghadapi situasi yang kian sulit. Ujung-ujungnya pemerintah daerah yang merasakan dampaknya: ekonomi makin lesu dan pendapatan pajak pasti anjlok.


Semua gara-gara berita ini: Kopi Gayo ditolak di sejumlah Negara Eropa. Alasannya: kopi Gayo mengandung zat kimia berbahaya bernama glifosat.

Blaaar!

Berita kecil itu ternyata mirip bom. Segera menyebar luas dan menjadi sumber keresahan baru. Di kalangan pelaku usaha kopi Gayo.

Benarkah berita itu? Sebagian orang menyangkal. Berita itu tak lebih dari upaya para mafia kopi untuk menjatuhkan harga kopi Gayo.

Pendapat yang masuk akal. Kopi Gayo adalah kopi dengan harga istimewa. Di pasar kopi dunia, harganya USD 5,5 per Kg. Dua kali lipat di atas kopi rata-rata dari nelayan dunia mana pun yang hanya USD 2,2 per Kg.

Produksi kopi Gayo per tahun tidak kurang dari 31.300 ton. Sebanyak 87 persen di antaranya diekspor ke  berbagai negara. Terutama Amerika Serikat dan Eropa. Dari pasar ekspor, Kopi Gayo menghasilkan devisa kurang lebih Rp 2 triliun per tahun.

Lewat kampanye hitam melalui medis online, para mafia bisa mendapat keuntungan besar. Awalnya mereka menciptakan keresahan. Lewat pemberitaan. Agar kopi Gayo tidak laku.

Kalau kepepet, petani pasti akan menjual dengan harga murah. Padahal harga di end user tidak pernah turun. Di situlah permainannya. Di situlah penambahan keuntungannya.

Namun ada juga pihak yang  cenderung tidak mempersoalkan motif di balik berita negatif itu. Berita itu justru digunakan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki tata kelola usaha budidaya kopi Gayo.

Sebab, zat kimia berbahaya itu memang ada di perkebunan. Biasa digunakan petani kopi untuk membasmi gulma. Rerumputan di bawah pohon utama. Misalnya sawit dan kopi.

Gulma itu kalau dibiarkan bisa mengganggu pertumbuhan pohon utama. Merebut kesuburan lahan. Maka gulma harus dikendalikan. Disiangi. Disabit. Dicabut.

Tapi kebun begitu luas. Satu petani ada yang punya 30 hektar kebun kopi. Menyiangi kebun seluas itu butuh tenaga kerja yang tidak sedikit. Ongkosnya juga tidak murah. Waktunya lama.

Herbisida menjadi pilihannya. Digunakanlah senyawa kimia itu untuk membunuh gulma secara membabibuta. Gulma hilang. Masalah datang.

Pemakaian zat kimia berbahaya cenderung meningkat. Sebaliknya, zat-zat pembasmi hama tanaman yang sifatnya alami atau nabati cenderung berkurang.

Padahal gulma itu hanya rumput. Tumbuhan liar yang bisa menjadi sumber pakan untuk hewan ternak seperti kambing, sapi dan kerbau.

Mengapa tidak dikembangkan perkebunan terintegrasi antara kopi dengan ternak? Di Lampung, model ini berjalan dan hasilnya bagus. Kopinya tumbuh dengan baik. Kambingnya juga gemuk-gemuk.

Peternakan kambing yang terintegrasi dengan kebun kopi juga punya hasil samping yang menarik: pupuk organik. Dari kotoran kambing itu. Kabarnya, tanaman kopi bisa berproduksi bagus kalau dipupuk dengan kotoran kambing.

Di saat saya berkunjung ke Kabupaten Aceh Tengah pekan lalu, saya belum sempat melihat perkebunan kopi. Hanya melintasi sambil lalu.

Tapi di media online, saya peroleh sedikit data. Tentang pola budidaya kopi Gayo saat ini. Konon memang ada 10 persen petani yang menggunakan pola perkebunan anorganik. Selebihnya yang 90 persen mempertahankan perkebunan organik.

Jumlah petaninya bisa saja hanya 10 persen. Tapi produksi kopinya bisa lebih dari itu. Jangan-jangan kopi petani itu yang sekarang jadi biang persoalan? Wallahu a’lam.

Pemerintah daerahlah yang semestinya mengambil inisiatif. Misalnya, dengan menerbitkan qanun yang melarang  penggunaan pestisida dan herbisida di perkebunan kopi. Agar tidak seperti kata pepatah: akibat nila setitik, rusak susu sebelahnya. Eh, sebelanga.

Sikap pemerintah daerah ini sangat penting. Petani kopi perlu peran pemerintah untuk meyakinkan kembali pembeli di luar negeri.

Cobalah meniru pemerintah Jerman. Negara yang menjadi pusat produksi Glyphosate dunia. Pemerintah Jerman dan negara-negara Eropa sudah melarang penggunaan senyawa kimia itu. Mengapa di sini masih dibebaskan?

Ingatan saya pun melayang ke Takengon. Ke Kilang Kopi Aman Kuba. Perintis ekspor kopi di Takengon. Sejak zaman pra-kemerdekaan.

Apakah sejarah panjang kopi Gayo nanti hanya akan menjadi kenangan? Apakah Starbucks akan menghapus Kopi Gayo dari daftar menunya?

Jangan! Jangan sampai terjadi.

Tapi siapa yang mau minum Glifosat coffee? Jangankan orang asing. Saya pun ogah.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya