Berita

Ujang Komarudin/Net

Politik

Jika Gerindra Gabung, Oposisi Jadi Lemah Seperti Saat Orba

MINGGU, 13 OKTOBER 2019 | 22:49 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Sinyal Partai Gerindra bergabung ke barisan koalisi pemerintah semakin kuat. Terlebih pada malam ini, Minggu (13/10), Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto berkunjung ke kediaman Ketua Umum Nasdem Surya Paloh di Jalan Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan,

Menanggapi hal itu, pengamat politik Ujang Komarudin mengingatkan bahwa kekuasaan yang terlalu dominan bisa menghidupkan kembali masa-masa kediktatoran seperti saat Orde Baru. Sebab, penguasa tidak diimbangi dengan kekuatan oposisi sebagai penyeimbang.

Pemerintah memang butuh pemerintahan yang kuat, tapi di satu sisi juga butuh oposisi yang kuat dan tangguh agar tercipta keseimbangan,


"Jika Gerindra masuk, artinya pemerintah akan dominan dan menjadi kekuatan mayoritas, karena tidak ada kontrol. Ini berbahaya karena oposisi menjadi lemah. Mohon maaf, ini seperti yang terjadi pada orde baru," ujarnya kepada wartawan, Minggu (13/10).

Menurutnya, motif partai di luar pemerintah bergabung tidak lepas dari pertempuran tahun 2024 mendatang. Kehadiran mereka di barisan pemerintah setidaknya bisa menambah logistik bagi partai untuk bekal pemilu.

"Misalnya mendapat menteri, pasti untuk cari logistik (2024), maka semua rebutan," imbuhnya.

Secara terpisah, Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily juga mengingatkan kepada partai yang tidak ikut bertarung di pilpres bersama Joko Widodo-Maruf Amin agar tidak menjadi musuh dalam selimut saat bergabung.

“Jangan sampai mereka berada di dalam pemerintahan tetapi dalam posisi seperti oposisi. Tidak baik dalam kerangka demokrasi kita," kata Ace kepada wartawan, Minggu (13/10).

Sementara menanggapi kehadiran Gerindra dalam koalisi, Ace menilai pemberian dukungan kepada pemerintah merupakan hal yang positif. Namun begitu, dia tidak ingin dukungan diberikan karena berharap jatah menteri.

"Jika mau mendukung pemerintah itu positif, tetapi tidak harus ditindaklanjuti keharusan berada di dalam kabinet," katanya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya