Berita

Tentara AS/Net

Muhammad Najib

Akhirnya Donald Trump Menemukan Jalan Untuk Menarik Pulang Tentaranya Dari Suriah

SELASA, 08 OKTOBER 2019 | 15:34 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

AMERIKA Serikat memutuskan untuk menarik pulang tentaranya dari Suriah, setelah mengalami kekalahan. Keputusan Gedung Putih ini sempat tertunda pelaksanaannya, karena ditentang oleh sekutu-sekutu Amerika yang membantu operasi militernya di Suriah.

Semula tentara Amerika yang didukung sejumlah negara Barat, Israel, dan negara-negara Arab Teluk, terjun ke medan tempur di Suriah dengan tujuan utama menggulingkan rezim Basyar Al Assad yang pro Iran dan Rusia.

Cerita perang Suriah dimulai dari gelombang musim semi Arab yang juga melanda negeri ini sejak tahun 2011. Rakyat Suriah turun ke jalan menuntut demokratisasi.  


Rezim Assad kemudian menghadapinya dengan menggunakan senjata. Akibatnya, rakyat melawan dengan menggunakan senjata pula.

Amerika dan sekutunya, kemudian memanfaatkan kelompok-kelompok perlawanan ini untuk menggulingkan rezim yang mengendalikan Damaskus. Berbagai bentuk dukungan kemudian diberikan, mulai dukungan politik, logistik, pelatihan militer, sampai senjata, dan personil militer.

Rezim Assad yang kewalahan menghadapi perlawanan ini, ditambah gempuran Israel yang menjadi tetangganya tidak pernah berhenti, kemudian meminta dukungan dari negara-negara lain.

Rusia dan Iran kemudian habis-habisan membantu Assad. Rusia memandang Suriah sebagai satu-satunya sekutu Moscow yang tersisa, setelah rezim Khadafi dan Saddam Husein rontok. Sementara Iran memandang Suriah sebagai fron terdepannya dalam menghadapi Israel.

Sebagaimana diketahui, dalam pertarungan bertahun-tahun yang mengakibatkan ratusan ribu orang meninggal dunia, dan jutaan orang mengungsi, penguasa Damaskus akhirnya keluar sebagai pemenang.

Donald Trump kemudian memerintahkan tentara Amerika untuk pulang, karena telah kehilangan alasan utamanya untuk tetap berada di situ. Tentu saja sekutu-sekutunya keberatan dengan keputusan mendadak yang dibuat Gedung Putih.

Israel sebagai sekutu Amerika yang bertetangga dengan Suriah paling keberatan. Perginya tentara Amerika, tentu akan diikuti oleh tentara-tentara asal Eropa, yang akan membuat Israel akan menghadapi Suriah sendirian.

Suriah saat ini berbeda dengan sebelumnya, mengingat sejumlah penasehat militer asal Rusia dengan peralatan tempurnya masih berada di sana, ditambah tentara Iran dan gerilyawan Syiah yang datang dari Lebanon dan Irak masih berada di sana. Jika Assad menggerakkannya untuk mengambil kembali Dataran tinggi Golan miliknya yang diduduki Israel, maka dipastikan Tel Aviv akan kewalahan.

Sekutu Amerika lain yang juga keberatan adalah kelompok perlawanan Kurdi. Karena mereka akan kembali berjuang sendiri untuk memperoleh kemerdekaan.

Suku Kurdi mendiami wilayah yang berbatasan dengan Suriah, Turki, dan Irak. Mereka dianggap sebagai gerakkan separatis di tiga negara tersebut. Karena itu, Damaskus, Ankara, dan Bagdad memiliki sikap yang sama dan sering bekerjasama dalam menghadapinya, termasuk dengan menggunakan senjata.

Merapatnya Ankara Ä·e Teheran dan Moscow secara tidak langsung mendekatkan Ankara ke Damaskus, yang memberikan jalan bagi keduanya untuk membereskan kelompok perlawanan Kurdi yang berada di perbatasan kedua negara.

Kelompok perlawanan Kurdi selama ini kuat karena mendapatkan perlindungan dari Amerika. Washington telah memberikan isyarat tidak keberatan tentara Turki masuk, dengan kompensasi bahwa Ankara juga tidak mentolerir ISIS beroperasi di wilayah itu.

Bagi Ankara operasi militer ini perlu dilakukan, bukan saja untuk melumpuhkan gerakkan separatis Kurdi, akan tetapi sekaligus untuk membangun wilayah penyangga di perbatasannya dengan Suriah, serta untuk membuat jalur aman bagi pulangnya pengungsi Suriah yang jumlahnya hampir tiga juta, yang tentu sangat membebankan ekonominya.

Walaupun Trump sangat tidak suka dengan Erdogan, akan tetapi kini ia harus berkoordinasi agar penarikan pulang tentaranya berjalan aman, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan ia juga harus berterimakasih, karena Turki akan mengambilalih  tanggungjawab keamanan wilayah yang ditinggalkannya. Dengan demikian Trump punya alasan kuat dalam menarik pulang tentaranya.

Kini tinggal Israel dan para pemberontak Kurdi yang gigit jari, karena harus menghadapi Damaskus dan Ankara sendirian.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Ketum PDIP Tinjau Kantor Baru Megawati Institute

Selasa, 20 Januari 2026 | 22:14

Polisi Bongkar Jaringan Senpi Ilegal Dipakai Begal, Dijual di Facebook Hingga Tokopedia

Selasa, 20 Januari 2026 | 22:09

Bupati Sudewo dan Tiga Kades Kajen Resmi Ditahan, Digiring ke Rutan Pakai Rompi Oranye

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:53

Wapres Gibran Blusukan ke Pasar Borong Daun Bawang

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:48

Istana Rayakan Prestasi Timnas Maroko sebagai Runner-Up Piala Afrika 2025

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:32

Polisi Sudah Periksa 10 Saksi dan Ahli Terkait Pelaporan Pandji Pragiwaksono

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:29

Komisi II Hanya Fokus Revisi UU Pemilu, Bukan Pilkada

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:22

Thomas Djiwandono Mundur dari Gerindra Usai Dicalonkan Jadi Deputi Gubernur BI

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:10

Bupati Pati Sudewo dan Tiga Kades Patok Harga hingga Rp225 Juta per Jabatan Perangkat Desa

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:00

Daftar 28 Perusahaan Sumatera yang Izinnya Dicabut Prabowo

Selasa, 20 Januari 2026 | 20:56

Selengkapnya