Berita

Bhima Yudistira/Net

Politik

Tantangan Makin Berat, Tim Ekonomi Jokowi Harus Dirombak Total

SABTU, 05 OKTOBER 2019 | 00:55 WIB | LAPORAN:

Periode kuartal III-2019 sudah resmi ditutup seiring bulan September berakhir. Meski penghitungan pertumbuhan ekonomi belum dirilis, namun sejumlah pihak sudah menyampaikan rasa pesimistis ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas 5 persen.

Sekuritas-sekuritas besar asing juga memproyeksikan hal senada. Seperti JP Morgan Chase yang memprediksi ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,9 persen, sedang Deutsche Bank memperkirakan di level 4,8 persen.

Menanggapi hal tersebut, pengamat ekonomi dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menguraikan bahwa kebijakan yang diambil tim ekonomi Joko Widodo selama ini salah kaprah. Hal tersebut yang kemudian membuat ekonomi gagal tumbuh pesat.


Dia menyoroti sejumlah kebijakan tim ekonomi yang salah kaprah. Salah satunya, pembiaran terhadap industri manufaktur sebagai motor pertumbuhan yang lesu darah. Kemudian suku bunga Bank Indonesia yang tinggi di periode 2015 hingga 2017.

“Ini membuat pengusaha malas ekspansi. Perhatian terhadap sektor manufaktur juga kurang karena kran impor dibuka lebar. Ya jangan heran pengusaha milih jadi importir dibanding industrialis," katanya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (04/10).

Atas alasan itu, dia menyarankan Jokowi untuk memerintahkan para pembantu di sektor ekonomi untuk tidak membuat asumsi pertumbuhan ekonomi baik, di RPJMN maupun APBN, terlalu muluk. Sehingga tidak terkesan sebatas memberi angin segar pada publik.

“Sebaiknya dibuat realistis saja,” tegasnya.

Sementara menjelang perombakan kabinet, Bhima juga meminta kepada Jokowi untuk bisa merombak total tim ekonomi di periode kedua. Sebab, tantangan ke depan semakin berat. Sementara kebijakan tim ekonomi selama ini selalu salah kaprah.

"Perlu dirombak total karena tantangan ke depan makin berat. Khususnya pos Menko, Mendag, Menteri BUMN, dan Menkeu,” pungkasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya