Berita

Mega Surya paloh/Net

Politik

Megawati Dan Surya Paloh Matahari Kembar Di Lingkaran Jokowi

KAMIS, 03 OKTOBER 2019 | 13:23 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Partai pendukung presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019 lalu tampak sudah tidak solid lagi. Pasalnya, antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri dan Ketua Umum partai Nasdem Surya Paloh semakin menunjukkan ketidakharmonisan hubungan keduanya.

Mega dan Paloh, disebut-sebut sebagai matahari kembar yang berada di lingkaran Jokowi. Namun, keduanya tidak saling menginginkan ada yang merasa tersaingi.

"Tentu Mega dan Paloh ingin jadi orang paling berpengaruh di internal koalisi Jokowi. Bila perlu tak ada matahari kembar. Ini kan mataharinya ada dua. Ada Mega dan ada Paloh," kata pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu di Jakarta, Kamis (3/10).


PDIP, kata Ujang, sebagai partai pendukung Jokowi sejak Pilpres 2014 silam memang tidak suka dengan keberadaan partai Nasdem. Sebab, Nasdem saat itu mendapat jatah Jaksa Agung dari Jokowi.

"Sedangkan diawal pembentukan kabinet hanya ada segelintir menteri dari PDIP. Padahal PDIP partai pemenang Pemilu," kata Ujang.

Atas dasar itulah, lanjut Ujang, di 2019 ini PDIP enggan mengulangi peristiwa serupa yang dialami pada 2014 silam. Apalagi, pasca Pilpres 2019, Megawati melakukan pertemuan hangat dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

"Persaingan (PDIP vs Nasdem) makin menjadi. Pasca Pilpres, peta koalisi sedikit berubah. Mega sedikit mesra dengan Prabowo. Paloh bergandengan dengan Airlangga, Cak Imin, dan Monoarfa," demikian Ujang.

Diketahui, saat pelantikan DPR RI Periode 2019-2024 pada Selasa (1/10) lalu, Megawati berpapasan dengan Surya Paloh namun tak menyalami sebagaimana dilakukan Megawati kepada tokoh lainnya. Sikap Mega dan Paloh itu menjadi perbincangan hangat masyarakat hingga saat ini.


Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Swiss Tantang Argentina Usai Singkirkan Kolombia Lewat Drama Adu Penalti

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:45

Kemesraan Prabowo-Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:30

Khayal Seorang Revolusioner

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:15

Pengalaman Demokrasi India jadi Inspirasi Penting Indonesia

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:53

Sikap Tegas Rektor Untan Jalankan Statuta Universitas Tuai Apresiasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:23

Belajar dari Koperasi Pertanian Jepang

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:58

Prabowo: Saya adalah Pengagum Pribadi Shri Narendra Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:31

Kisah Seorang Anak Buruh Harian Lepas

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:13

Bahayakan Nyawa Banyak Orang, DPR Desak Polisi Berantas Maling Besi

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:59

Tinjau TPA Jatiwaringin

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:39

Selengkapnya