KANTOR Berita Politik RMOL memberitakan tentang beredarnya tulisan seorang warga dari luar Banyuwangi berisi stigma "Arabisasi" terhadap gagasan halal tourism yang dicetuskan Pemkab Banyuwangi.
Hindu
Umat Hindu menilai tulisan berjudul "Di Tanah Hindu Itu, Arabisasi Dipaksakan Tumbuh" tersebut menzalimi seluruh masyarakat Banyuwangi.
Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi, I Komang Sudira menegaskan, penyebaran tudingan Arabisasi merupakan kezaliman keji terhadap masyarakat Banyuwangi. Tidak ada umat di Banyuwangi yang berpikiran seperti yang dimaksud oleh tulisan tersebut.
Umat Hindu Banyuwangi selama ini hidup penuh toleransi dengan umat beragama lainnya. Tidak ada intimidasi, tidak ada pengekangan, bahkan jajaran pimpinan Pemkab Banyuwangi kerap datang ke acara-acara keagamaan yang diselenggarakan umat Hindu.
"Tulisan itu dibangun untuk kepentingan pribadi, entah siapa yang menyuruh, di umat Hindu tidak ada semacam itu. Itu sudah menzalimi masyarakat Banyuwangi. Kami percaya dengan hukum karmapala. Saya harap tidak perlu khawatir, kalau berlaku jahat ingin merusak kerukunan Banyuwangi, maka mereka akan menerima akibatnya," ujarnya dalam pertemuan bersama para tokoh lintas agama dan budayawan di Rumah Adat Osing, Pendopo Banyuwangi.
Menurut Komang, pihak yang menulis stigmatisasi "Arabisasi" itu pasti tidak memahami Banyuwangi yang justru malah merayakan perbedaan dengan berbagai atraksi seni-budaya khas kearifan lokal berbagai suku yang hidup di kabupaten tersebut, mulai Suku Osing, Suku Bugis, Suku Madura, Suku Jawa, keturunan Arab, India dan China.
Bhinneka Tunggal IkaSebagai cantrik Gus Dur yang berupaya mempelajari makna pluralisme terkandung di dalam Bhinneka Tunggal Ika, saya menghargai dan menghormati sikap umat Hindu di Banyuwangi melawan fitnah beraroma stigmasisasi SARA rawan memecah-belah bangsa!
Stigma Arabisasi sama dengan stigma Cinanisasi, Jawanisasi, Sundanisasi, Batakisasi, Bugisisasi, Malukunisasi, Papuanisasi dan sasi-sasi seterusnya, sebagainya serta sejenisnya.
Saya pribadi memiliki cukup banyak sahabat sesama warga Indonesia yang cinta Indonesia maka sama sekali tidak berniat melakukan Apapunisasi terhadap Tanah Air Udara yang mereka cintai.
Hentikan StigmatisasiStigmatisasi beraroma SARA sangat manjur dan ampuh demi memecah-belah bangsa.
Secara empiris, kaum penjajah sudah membuktikan bahwa stigmatisasi beraroma SARA merupakan senjata paling manjur untuk memecah-belah demi melumpuhkan bangsa yang ingin mereka jajah.
Jika tidak setuju suatu kebijakan, silakan kritik kebijakan tersebut namun jangan menggunakan stigmatisasi beraroma SARA.
Sebaiknya stigmatisasi beraroma SARA dihentikan kecuali memang ada yang ingin melanjutkan jurus divide et empera warisan kaum penjajah demi menghancurkan persatuan dan kesatuan di persada Nusantara tercinta ini.
Penulis adalah rakyat Indonesia yang mendambakan bangsa Indonesia hidup damai di dalam bingkai falsafah Bhinneka Tunggal Ika.