Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Hentikan Stigmatisasi

KAMIS, 03 OKTOBER 2019 | 11:27 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KANTOR Berita Politik RMOL memberitakan tentang beredarnya tulisan seorang warga dari luar Banyuwangi berisi stigma "Arabisasi" terhadap gagasan halal tourism yang dicetuskan Pemkab Banyuwangi.

Hindu

Umat Hindu menilai tulisan berjudul "Di Tanah Hindu Itu, Arabisasi Dipaksakan Tumbuh" tersebut menzalimi seluruh masyarakat Banyuwangi.


Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi, I Komang Sudira menegaskan, penyebaran tudingan Arabisasi merupakan kezaliman keji terhadap masyarakat Banyuwangi. Tidak ada umat di Banyuwangi yang berpikiran seperti yang dimaksud oleh tulisan tersebut.

Umat Hindu Banyuwangi selama ini hidup penuh toleransi dengan umat beragama lainnya. Tidak ada intimidasi, tidak ada pengekangan, bahkan jajaran pimpinan Pemkab Banyuwangi kerap datang ke acara-acara keagamaan yang diselenggarakan umat Hindu.

"Tulisan itu dibangun untuk kepentingan pribadi, entah siapa yang menyuruh, di umat Hindu tidak ada semacam itu. Itu sudah menzalimi masyarakat Banyuwangi. Kami percaya dengan hukum karmapala. Saya harap tidak perlu khawatir, kalau berlaku jahat ingin merusak kerukunan Banyuwangi, maka mereka akan menerima akibatnya," ujarnya dalam pertemuan bersama para tokoh lintas agama dan budayawan di Rumah Adat Osing, Pendopo Banyuwangi.

Menurut Komang, pihak yang menulis stigmatisasi "Arabisasi" itu pasti tidak memahami Banyuwangi yang justru malah merayakan perbedaan dengan berbagai atraksi seni-budaya khas kearifan lokal berbagai suku yang hidup di kabupaten tersebut, mulai Suku Osing, Suku Bugis, Suku Madura, Suku Jawa, keturunan Arab, India dan China.

Bhinneka Tunggal Ika

Sebagai cantrik Gus Dur yang berupaya mempelajari makna pluralisme terkandung di dalam Bhinneka Tunggal Ika, saya menghargai dan menghormati sikap umat Hindu di Banyuwangi melawan fitnah beraroma stigmasisasi SARA rawan memecah-belah bangsa!

Stigma Arabisasi sama dengan stigma Cinanisasi, Jawanisasi, Sundanisasi, Batakisasi, Bugisisasi, Malukunisasi, Papuanisasi dan sasi-sasi seterusnya, sebagainya serta sejenisnya.

Saya pribadi memiliki cukup banyak sahabat sesama warga Indonesia yang cinta Indonesia maka sama sekali tidak berniat melakukan Apapunisasi terhadap Tanah Air Udara yang mereka cintai.

Hentikan Stigmatisasi

Stigmatisasi beraroma SARA sangat manjur dan ampuh demi memecah-belah bangsa.

Secara empiris, kaum penjajah sudah membuktikan bahwa stigmatisasi beraroma SARA merupakan senjata paling manjur untuk memecah-belah demi melumpuhkan bangsa yang ingin mereka jajah.

Jika tidak setuju suatu kebijakan, silakan kritik kebijakan tersebut namun jangan menggunakan stigmatisasi beraroma SARA.

Sebaiknya stigmatisasi beraroma SARA dihentikan kecuali memang ada yang ingin melanjutkan jurus divide et empera warisan kaum penjajah demi menghancurkan persatuan dan kesatuan di persada Nusantara tercinta ini.

Penulis adalah rakyat Indonesia yang mendambakan bangsa Indonesia hidup damai di dalam bingkai falsafah Bhinneka Tunggal Ika.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya