Berita

Batik Garutan/RMOLJabar

Nusantara

Hari Batik Nasional, Nestapa Perajin Lokal Diserang Produk China

KAMIS, 03 OKTOBER 2019 | 02:27 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Hari batik nasional diharapkan tak sekadar perayaan dengan memakai kain batik, melainkan berjayanya batik buatan lokal.

Seperti yang diharapkan Agus Sugiarto (53), penerus pembuat batik Garutan Saha Deui (SHD). Agus berharap, batik lokal bisa menjadi unggulan di negeri sendiri.

"Hari batik itu bukan sekadar hanya pakai batik. Tapi minimal tahu batik lokal dan bisa memakainya," kata Agus dilansir Kantor Berita RMOLJabar, Rabu (2/10).


Bukan tanpa alasan, Agus yang meneruskan orangtuanya ini merasakan pasang surut pemasaran batik. Namun diakuinya tahun ini jadi yang paling berat bagi Agus.

"Tahun 2015 dan 2016 penjualan batik masih bagus. Banyak pesanan dari wilayah Garut dan luar daerah. Tapi sejak 2017, penjualan batik menurun 40 persen," jelasnya.

Agus memproduksi dua jenis batik, yakni tulis dan cap. Setiap dua bulan rata-rata ia memproduksi batik tulis sebanyak delapan potong yang dikerjakan empat pekerja. Sedangkan batik cap sebanyak satu kodi atau 20 potong per 10 hari.

"Buat batik tulis tergantung pesanan juga sih. Satu potong itu butuh waktu dua bulan. Kualitas sangat kami jaga," katanya.

Ada beberapa faktor yang membuat kecilnya keuntungan penjualan batik, mulai dari tingginya harga bahan baku, hingga serangan produk impor.

Batik tulis berukuran 2,6 meter x 1,05 meter dijual sekitar Rp 1,5 juta. Sedangkan batik cap ukuran 2,30 meter x 1,05 meter seharga Rp 200 ribu. Mahalnya harga batik lokal karena proses produksi yang butuh waktu lama.

Ia melanjutkan, orang awam akan sulit membedakan produk batik lokal dan batik impor. Sekilas, batik yang banyak dijual di toko-toko besar akan dikira sebagai batik hasil perajin di Indonesia.

"Yang dijual di toko itu paling batik impor dari China. Harganya saja di bawah Rp 100 ribu. Kalau batik lokal harganya di atas Rp 200 ribu," kata Agus yang sejak tahun 2000 meneruskan usaha batik Garutan.

Oleh karenanya, ia memberikan tips membedakan produk batik lokal dan impor. Pertama batik impor biasanya dibuat menggunakan mesin. Cetakan gambar dan catnya sangat rapi, dan warna yang dihasilkan bisa lebih dari empat.

"Kalau batik lokal walau batik cap itu hanya bisa tiga warna. Terus warnanya sering ada yang keluar garis. Kalau yang impor sangat rapi warna dan garisnya," tandasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Fakta Sidang Blueray Cargo: Kode BC1 Mengarah ke Djaka Budi Utama

Senin, 15 Juni 2026 | 18:15

Anak Buah Bahlil Irit Bicara Usai 7 Jam Diperiksa KPK

Senin, 15 Juni 2026 | 18:08

KPU Patok Anggaran Rp4,6 Triliun di Tahapan Awal Pemilu 2029

Senin, 15 Juni 2026 | 17:59

IHSG-Rupiah Menguat Sore Ini Usai AS-Iran Sepakat Damai

Senin, 15 Juni 2026 | 17:47

Demo Mahasiswa Ucapkan Selamat Atas Kegagalan Prabowo-Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 17:46

Wapres Gibran Terima Perwakilan Mahasiswa di Tengah Unjuk Rasa

Senin, 15 Juni 2026 | 17:23

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

Senin, 15 Juni 2026 | 17:19

Demi Kepercayaan Masyarakat, Mahasiswa UBK Desak MBG Dihentikan

Senin, 15 Juni 2026 | 17:06

Komisi II DPR: KPU dan Bawaslu akan Tetap Eksis di 2027

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

DPR Minta Kejagung Tingkatkan Anggaran Perkara untuk Kejati dan Kejari

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

Selengkapnya