Berita

Sulaeman Hamzah/Net

Politik

Sulaeman Hamzah: Masyarakat Papua Ingin Pemekaran Tujuh Wilayah Adat

SELASA, 01 OKTOBER 2019 | 18:36 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Pemerintah pusat diharap bisa memberikan perhatian khusus dan fokus dalam akar masalah di konflik yang terjadi di Papua.

Hal ini ditegaskan oleh Anggota DPR RI terpilih Dapil Papua dari Partai NasDem Sulaeman Hamzah. Menurutnya, akar masalah yang selama ini terjadi di Papua adalah masyarakat Papua ingin adanya pemekaran wilayah baik di Papua maupun di Papua Barat.

“Saat ini orang bicara di permukaan padam di permukaan tapi sebetulnya di bawah masih bergejolak, diharapkan masalah Papua ini aspirasi terakhir memang masyarakat menginginkan harus mekar menjadi mengikuti wilayah adat,” jelas Sulaiman usai pelantikan di Komplek DPR RI, Senayan, Selasa (1/10).


Sulaiman menambahkan,  pemekaran ini menjadikan provinsi yang mengikuti wilayah tujuh adat Papua. Dua di Papua Barat, lima di wilayah Papua. Hal itu guna mengantisipasi terjadinya gesekan antar etnis di bumi Cenderawasih.

“Seperti aspirasi yang pernah disampaikan oleh presiden dan juga yang berkembang selama ini sepanjang saya turun di dapil memang semua menginginkan mekar karena setiap wilayah adat ini kan berbeda-beda," paparnya.

"Dia punya kultur di sana karena itu gesekan terjadi bisa jadi antar kelompok wilayah adat, tadi itu kita harapkan tidak terjadi lagi mesti diikuti maunya masyarakat supaya dimekarkan,” lanjutnya.

Presiden Joko Widodo menyetujui adanya pemekaran wilayah di Papua dan Papua Barat. Hal ini disampaikan Jokowi saat menerima 61 tokoh Papua di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/9).

Dalam pertemuan itu, awalnya para tokoh Papua yang hadir meminta agar pemerintah melakukan pemekaran sebanyak lima wilayah di Papua dan Papua Barat.

Jokowi pun menyetujui pemekaran itu. Namun, ia hanya menyetujui dua atau tiga wilayah.
Menurut Sulaiman, pemerintah mau tidak mau harus melakukan pemekaran di Papua untuk menghentikan kerusuhan yang terjadi.

“Untuk jangka panjang mau tidak mau haris dimekarkan,” tutupnya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Matador Pulangkan Belgia di Menit Akhir

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:14

Pengadaan Batu Bara Belum Tentu Penyebab Blackout Sumatera

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:05

Ijazah Asli Jokowi Dipastikan Sama seperti Unggahan Dian Sandi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:45

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Jampidsus Febrie Resmi Mundur

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:23

Antara VAR dan Tuduhan Argentina Anak Emas FIFA

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:02

Pemerintah Dukung Kortastipidkor Usut Tuntas Perkara Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:35

Pernyataan Febrie Dinilai Upaya Kendalikan Narasi di Tengah Deretan Fakta

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:33

Demo Copot Jampidsus Febrie

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:24

Akademisi University Swedia Teliti Penanggulangan Bencana PMI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:11

Selengkapnya