Berita

Presiden Jokowi/Net

Politik

Perppu KPK Buah Simalakama Bagi Jokowi

MINGGU, 29 SEPTEMBER 2019 | 13:48 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Presiden Joko Widodo dihadapkan pada situasi dilematis, seperti menelan buah simalakama jika benar-benar menerbitkan Perppu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Mungkin dapat meredam gelombang protes dan memulihkan citra politik pemerintah. Namun, konsekuensinya akan mencederai sistem dan praktek ketatanegaraan," ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia Ade Reza Hariyadi kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (29/9).

Ade menjelaskan, suatu UU yang telah diputuskan oleh DPR lalu dengan mudahnya dibatalkan ketika ada tekanan massa, ditambah dengan alasan-alasan menerbitkan Perppu yang sangat tergantung penafsiran subjektif Presiden, dapat menjadi preseden buruk dalam ketatanegaraan.


"Juga berpotensi menjadi sandungan dalam relasi eksekutif dan legislatif di kemudian hari," terang Ade.

Selain itu, Perppu juga masih akan diuji dalam proses legislasi di DPR agar dapat di-Undangkan sehingga tidak ada kekosongan hukum.  

Menurut Ade, tidak ada jaminan bahwa aspirasi Presiden akan sama dengan aspirasi DPR dan dalam situasi politik yang stabil.

"Jika Presiden menolak menerbitkan Perppu, maka Presiden harus mencari cara yang efektif untuk meredam protes dan meraih kepercayaan publik," paparnya.

Meski demikian, Presiden akan mendapat dukungan mayoritas di DPR dan menjaga sistem ketatanegaraan yang berlangsung.

Sedangkan publik dapat memanfaatkan mekanisme judicial review ke MK untuk menguji konstitusionalitas norma dalam UU KPK.

Ade menekankan polemik penolakan revisi UU KPK akan menjadi ujian bagi kualitas kepemimpinan Jokowi.

"Pro kontra RUU KPK akan menjadi ujian bagi kualitas dan kapasitas kepemimpinan Presiden dalam mengelola masalah kenegaraan," pungkasnya. 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Rabu, 30 September 2026 | 10:27

Komisi IX DPR Dorong Pekerja Platform Digital Masuk RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Rabu, 30 September 2026 | 10:18

Rupiah Menguat, Intip Proyeksinya Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 | 10:07

Prabowo Dorong Rehabilitasi Pengguna Narkoba Berbasis Pendidikan dan Teknologi

Rabu, 30 September 2026 | 10:04

Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence

Rabu, 30 September 2026 | 09:50

Dugaan Suap Bela Parahiyangan Investindo Mirip Perkara Summarecon

Rabu, 30 September 2026 | 09:39

Jokowi Sengaja Tunjukkan KTA PSI di Kandang Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 09:36

Jokowi Menyadari Dirinya dan Gibran Sedang Diserang

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Indonesia Usulkan Mekanisme Koordinasi Lintas Negara Berantas Penipuan Daring

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Selengkapnya