Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Mahasiswa Sang Revolusioner

SELASA, 24 SEPTEMBER 2019 | 04:30 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

TELAH saya sebutkan dalam beberapa tulisan saya yang bisa di googling tentang mahasiswa, bahwa mereka adalah avant garde alias garda terdepan kaum revolusioner.

Hariman Siregar, legendaris dalam gerakan mahasiswa, menyebutkan bahwa kekuatan mahasiswa adalah "deep feeling" tentang nasib bangsanya. Jika situasi bangsa memburuk maka mereka akan tersadarkan.

Saya sendiri harus menambahkan bahwa kekuatan mahasiswa terletak dari idealisme mereka, independensi dan kemampuan kekinian mereka menggunakan big data dan IT dalam merespons situasi yang ada.


Tesis ini saya kemukakan untuk menjawab kegelisahan banyak pihak yang bingung apa dan kemana arah gerakan mahasiwa saat ini. Pertanyaan ini muncul karena terkesan tiba-tiba saja gerakan mahasiswa ini menguasai seluruh ruang publik dan semakin radikal.

Dalam banyak analisa merujuk pada masa lalu, memang gerakan mahasiwa biasanya bertahap dari tingkat kampus ke tingkat kota baru ke tingkat nasional di Jakarta (DPR dan Istana). Namun, anehnya, sekarang sudah ada pada semua tingkatan.

Professor emeritus Shoshana Zuboof dari Harvard University dalam bukunya "The age of Surveillance Capitalism", 2019, justru mengatakan era  ini ditandai dengan "the unprecedented", sesuatu yang tidak disangka-sangka muncul.

Jadi memang sejarah di masa lalu tidak harus terjadi dalam skenario yang sama di masa kini. Gerakan mahasiwa saat ini mampu datang dengan cepat menguasai ruang publik. Itu fakta.

Memang dari segi tema, spektrum tuntutan terkesan bervariasi. Namun, sasaran  mereka sebenarnya jelas, melawan pada pusat/elite kekuasaan zalim. Dalam hal ini sementara adalah DPR RI, yang dianggapnya melumpuhkan KPK, via revisi UU KPK. Triger undang-undang KPK ini adalah permulaan. Namun, teriakan revolusi sudah terjadi di beberapa daerah, seperti demo mahasiwa hari ini di Malang, dan teriakan Jokowi turun, sudah diteriakkan di Makassar.

Mahasiwa yang diduga "tidur" selama ini, lalu terkesan tiba-tiba bergerak, kemudian dicurigai adanya pihak-pihak yang menunggangi. Pada saat bersamaan, Moeldoko, Ketua KSP mengeluarkan pernyataan bahwa ada upaya kelompok-kelompok tertentu menggagalkan pelantikan Presiden Jokowi, 20 Oktober mendatang.

Namun, tentu saja dugaan dan kecurigaan terhadap mahasiswa seperti itu kurang beralasan. Gerakan mahasiwa adalah gerakan yang sifatnya historis. Sehingga kesadaran historis itu mengantarkan klaim mahasiwa untuk eksis sebagai pelaku kontrol sosial. Dalam perspektif kesadaran kelas, dalam analisa kaum Marxian, mahasiwa tentu berpikir tentang previlage itu, bahwa mereka harus menunjukkan eksistensi dan eksklusifitasnya sebagai sebuah kelompok sosial.

Koeksistensi antara munculnya gerakan mahasiswa saat ini dengan adanya kelompok-kelompok sosial yang dituduhkan Moeldoko, tentu saja dapat terjadi. Di Hongkong pun, misalnya, gerakan mahasiwa Hongkong selama 12 minggu terus menerus, bersinergi antara idealisme mahasiswa Hongkong bertemu dengan kekuatan kapitalis Hongkong dan kelompok-kelompok Triad yang anti hukum ekstradisi RRC. Namun, idealisme mahasiswa Hongkong tetap berada pada jalur idealisme alias jalur revolusi.

Hanya saja dugaan dan kecurigaan itu tidak mampu mereduksi kesadaran politik mahasiwa saat ini. Mahasiswa sebagai kelas menengah sadar (tercerahkan), tentu selama bertahun tahun belakangan ini menyerap problema sosial yang ada. Secara kesadaran, semua data dan peristiwa  yang diproduksi sistem sosial yang timpang, akan mengakumulasi dalam kegelisahan jiwa jiwa muda mereka.

Kasus kebakaran hutan dan asap yang mematikan yang kesannya dianggap sepele serta bertahun tahun. Kasus- kasus terkait kemiskinan buruh dan sulitnya  lapangan kerja, kasus rasisme di Papua, ekonomi yang memburuk disertai hutang luar negeri yang terus membengkak, penguasaan kekayaan disegilntir elite dan terkahir kasus revisi UU KPK yang ganjil prosesnya, telah menyentuh sanubari jiwa-jiwa muda ini. Maka, ketika situasi politik kekuasaan an sich seperti pilpres mereda, mahasiswa punya kesempatan masuk ke ruang publik. Dengan demikian, gerakan ini adalah gerakan idealisme, gerakan moral dan revolusioner.

Catatan Akhir

Gerakan mahasiswa saat ini sudah kembali. Jogya, Surabaya, Malanh, Bandung, Bogor, Makassar, Papua, Medan, Aceh, Riau, dlsb sampai Jakarta, telah ditandai gerakan mahasiwa. Berbagai kepentingan kelompok non mahasiswa berusaha mungkin mencari keuntungan dari gerakan ini. Alias upaya penunggangan. Namun, mahasiswa bukanlah orang orang naif dan bodoh. Karena kekuatan mahasiswa adalah pada idealisme, independensi dan kemampuan mereka mengartikulasikan kepentingannya.

Ketika sudah seluruh kota gerakan mahasiswa bergerak, maka mereka akan bergerak lama. Ini akan melewati batas-batas siklus politik, seperti urusan pelantikan Jokowi nanti. Karena gerakan ini akan bersifat revolusioner, yang menggugat soal nilai (value) atas sistem sosial kita yang rapuh. Saat ini DPR dikecam mahasiswa sebagai penjahat. Sebentar lagi akan menyasar juga pada eksekutif. Sehingga kemungkinan reformasi jilid dua akan terulang kembali.

Kita, di luar kekuatan-kekuatan mahasiswa, perlu memikirkan bagaimana kekuatan revolusioner ini menemukan jalannya dengan damai. Membangun dialog tanpa berniat menunggangi. Yakni dengan melihat mereka sebagai "moral force" dari bangsa kita yang sudah kehilangan moral.

Selamat datang gerakan mahasiswa, selamat datang kaum revolusioner.

Penulis adalah Direktur Sabang Merauke Institute


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya