Berita

Benjamin Netanyahu/Net

Muhammad Najib

Bibi Akhirnya Tumbang

JUMAT, 20 SEPTEMBER 2019 | 16:10 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

BENJAMIN Netanyahu yang akrab dipanggil Bibi akhirnya tumbang. Ia adalah Perdana Mentri Israel terlama dan termuda saat pertama kali terilih.

Dalam pertarungan sangat ketat Bibi yang didukung partai Likud melawan penantangnya Benny Gantz dari partai Biru Putih, sebenarnya berhasil unggul tipis.

Oleh karena Bibi harus membangun koalisi agar bisa mencapai dukungan minimal 50 persen plus 1 kursi, atau 61 anggota Knesset.


Bibi gagal mendapatkan dukungan partai Yisrael Beiteinu yang berhaluan Ultra Kanan yang dipimpin Avigdor Lieberman, yang menjadi koalisi tradisionalnya.

Penolakan Liberman untuk bergabung, disebabkan oleh persyaratan yang diajukannya ditolak oleh Bibi. Liberman meminta agar para rabi (penyeru agama Yahudi) muda diberi privilege untuk dibebaskan dari wajib militer, yang harus diikuti oleh seluruh warga Israel, yang menjadi bagian dari undang-undang negara Zionis tersebut.

Sementara partai-partai kecil lainnya, enggan bergabung dalam pemerintahan yang hendak dibemtuk Bibi, disebabkan perbedaan ideologi.

Sesuai dengan undang-undang pemilu di Israel, yang menyatakan bila sang pemegang mandat yang diberikan oleh Presiden gagal membentuk Kabinet, maka harus dilakukan pemilu ulang.

Jadi pemilu kali ini, yang dilaksanakan 17 September lalu, merupakan pemilu ulang dari pemilu yang dilaksanakan 9 April lalu.

Dalam pemilu kali ini hasilnya ternyata berubah, partai Biru-Putih memperoleh 33 kursi dan Likud 32 kursi. Keunggulan tipis ini, memberi kesempatan Benny Gantz menerima mandat dari Presiden Reuven Rivlin untuk membentuk Kabinet.

Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi: Pertama jika Gantz gagal membentuk Kabinet, maka harus dilakukan pemilu ulang kembali, sampai sang pemegang mandat berhasil membentuk Kabinet.

Kedua, jika Gantz yang didukung partai-partai tengah, termasuk partai-partai masyarakat Arab-Israel, dan partai yang berhaluan kiri, khususnya Partai Buruh, maka Benny Gantz akan menjadi Perdana Mentri Baru Israel.

Jika kondisi ini yang terjadi, maka Israel akan kembali berdamai dengan Palestina, dengan skema Two State Solution, sesuai janji partai-partai pendukungnya.

Ketiga, jika partai-partai pendukung Gantz gagal memperoleh 50 persen plus satu kursi di Knesset, maka pilihan lain adalah merangkul Likud.

Jika situasi ini yang terjadi, maka kabinet yang dibentuk dapat disebut sebagai 'Kabinet Persatuan Nasional', mengingat dibentuk oleh dua partai terbesar yang bersaing.

Implikasinya, akan terjadi negosiasi yang alot, mengingat keduanya memiliki ideologi yang berbeda,  dan memiliki agenda yang bertentangan.

Di luar masalah pembentukan kabinet dan agenda pemerintahan Israel kedepan, sejumlah pengamat menyoroti rahasia kekalahan Bibi, meskipun mendapat dukungan penuh dari Donald Trump, yang kini menghuni Gedung Putih.

Pertama, faktor di dalam negeri. Benjamin Netanyahu sudah terlalu lama memimpin Israel, sehingga ada semacam kejenuhan dan kelelahan mental rakyatnya, dengan sikap politiknya yang selalu mengobarkan perang. Ditambah kebijakan agresifnya pencaplok wilayah Palestina, dan tetangga-tetangganya seperti Lebanon dan Suriah.

Kedua, Bibi selain dikenal sebagai orang kuat, citranya sebagai pembohong dan pemimpin korup sangat menggerogoti wibawanya. Apalagi institusi hukum sudah memprosesnya, yang memungkinkan untuk mengantarnya ke penjara begitu ia kehilangan jabatannya.

Ketiga, faktor luar negeri. Meningkatnya kemampuan Suriah dalam melawan Israel, ditambah kemampuan militer Hammas menggempur Israel dari jalur Gaza, dan Hizbullah dari Lebanon Selatan, menyebabkan rakyatnya merasa semakin tidak aman.

Oleh sebab itu, kampanye agresif Bibi untuk mencaplok Tepi Barat milik Palestina dalam hari-hari terakhir masa kampanye menjadi bumerang, setelah ia mencaplok golan milik Suriah, dan memindahkan Ibukota Israel ke Yerusalem.

Keempat, keberhasilan tim kampanye Gantz untuk merebut suara pemilih komunitas Arab-Israel, yang biasanya skeptis untuk pergi ke kotak-kotak suara setiap kali pemilu. Kini mereka sangat bersemangat, dan berhasil menyumbang 13 kursi di Knesset.

Melihat kompleksitas peta politik yang ada, dan kerasnya pertarungan ideologi, serta kepentingan politik di tingkat global, terkait dengan banyaknya kepentingan negara lain terhadap penguasa negara Zionis ini, maka arah kebijakan Israel ke depan tetap tidak mudah diprediksi, dan bisa saja menimbulkan berbagai kejutan baru.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya