Berita

Bawang goreng telah jadi icon bisnis Kota Palu/Istimewa

Publika

Bawang Goreng, Icon Bisnis Baru Kota Palu

SENIN, 16 SEPTEMBER 2019 | 14:08 WIB | OLEH: JOKO INTARTO

SAYA ke kota Palu lagi. Setelah meninggalkan Ibukota provinsi Sulawesi Tengah itu selama 20 tahun. Saya pernah tinggal di bibir Teluk Palu itu selama 6 tahun (1993-1999).

Banyak yang sudah berubah selama 20 tahun terakhir. Kotanya tambah padat. Penduduknya sudah lebih dari 250 ribu jiwa. Kawasan pemukiman warga kota juga semakin lebar. Hingga menyeberangi perbatasan dengan Kabupaten Sigi Biromaru dan Kabupaten Donggala.

Hanya dua hari saya berada di kota Palu. Tiba hari Sabtu. Kembali ke Jakarta hari Minggu.


Memang tidak banyak agenda saya di kota itu. Hanya mengunjungi lokasi pembangunan rumah sakit milik Muhammadiyah: RS PKU Siti Fadillah Supari.

Rumah sakit ini awalnya hanya klinik dokter biasa. Gara-gara bencana gempa dan tsunami, klinik akhirnya dilengkapi dengan kamar-kamar perawatan. Untuk melayani korban bencana yang harus opname.

Kegiatan pertolongan medis itu rupanya menarik perhatian berbagai lembaga donor. Masuklah sejumlah bantuan untuk klinik itu. Maka status sebagai klinik pratama meningkat menjadi klinik utama. Meningkat lagi menjadi RS tipe D. Dengan 50 ruang perawatan.

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas. Saya justru ingin mengulas tentang icon bisnis Kota Palu. Icon itu adalah bawang goreng.

Saya sebut bawang goreng sebagai icon bisnis Kota Palu karena semua kawan saya di Palu menjawab itu. Berarti bawang goreng telah identik dengan Kota Palu.

Perjalanan bawang goreng menjadi icon bisnis kota Palu ternyata cukup panjang. Dimulai 25 tahun lalu.

Adalah perusahaan perkebunan Hasfarm yang memulai penanaman bawang merah di dataran tinggi wilayah Sigi Biromaru. Program pertama hanya 10 hektar.

Bibit bawang merah didatangkan dari Sumenep, Madura. Bawang merah Sumenep terkenal sebagai bahan baku bawang goreng di restoran-restoran besar di Pulau Jawa karena rasanya yang khas: manis dan gurih dengan tekstur getas. Kalau dikunyah menimbulkan bunyi kriuk-kriuk.

Dua puluh lima tahun lalu, belum ada restoran di Palu yang mau membeli bawang goreng itu. Semua restoran membuat bawang goreng sendiri. Menggunakan bawang merah yang dibeli di pasar sayur.

Hasfarm pun mengirimkan bawang goreng itu ke restoran-restoran di Pulau Jawa. Kemudian menjadikan bawang goreng sebagai oleh-oleh khas Palu bagi para pelancong yang hendak kembali ke kota awalnya.

Hari ini saya mengunjungi sebuah outlet penjualan buah tangan khas Palu. Namanya Raja Bawang. Rupanya Raja Bawang mengolah dan memasarkan sendiri produk bawang gorengnya.

Bahan baku bawang merah itu tidak lagi dari Hasfarm. Tetapi sudah dari petani bawang merah di Biromaru. Berarti budidaya bawang merah sudah menyebar luas. Sudah menjadi pengetahuan masyarakat petani.

Di Bandara Sis Al-Jufri Mutiara, bawang goreng dipasang di berbagai outlet. Mereknya beragam. Kemasannya bagus-bagus.

Bawang goreng sudah identik dengan oleh-oleh dari Kota Palu. Kota Palu sudah identik dengan bawang goreng. Itulah yang saya sebut sebagai icon. Tepatnya: icon bisnis. Icon itu telah menggerakkan ekonomi dengan rantai yang panjang. Mulai hulu ke hilir.

Indonesia memiliki wilayah dengan karakter tanah yang unik. Masing-masing wilayah tidak sama. Selayaknya setiap wilayah memiliki icon bisnis yang berbeda-beda.

Icon bisnis itulah yang akan menggerakkan perekonomian rakyat. Sayangnya masih lebih banyak pejabat yang memahami icon dengan konsep monumen: membuat bangunan unik.

Bangunan yang menghabiskan dana besar itu pun mangkrak seiring dengan habisnya masa jabatan. Kemudian jadi bahan olok-olok rakyatnya sendiri.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya