Berita

Jaya Suprana/Istimewa

Jaya Suprana

Bela Rasa Kemanusiaan

SELASA, 10 SEPTEMBER 2019 | 08:44 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

TERBERITAKAN bahwa 22 negara melayangkan surat terbuka ke pejabat urusan hak asasi manusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Surat itu berisi kecaman atas perlakuan China terhadap Uighur dan kelompok minoritas lainnya di Xinjiang.

Kecaman
Kecaman disampaikan duta besar 22 negara di PBB termasuk seluruh negara Uni Eropa, Swiss, Australia, Kanada, Perancis, Jerman, dan Jepang. Melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Dewan HAM PBB, Coly Seck, dan Komisi Tinggi HAM PBB, Michelle Bachelet.

Semua menguatirkan sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa ada penahanan sewenang-wenang serta pengawasan dan pembatasan di luar batas yang menargetkan warga Uighur dan kaum minoritas lainnya di Xinjiang. Petisi itu juga mendorong China untuk menghentikan penahanan sewenang-wenang dan memberikan "kebebasan bergerak kaum Uighur dan komunitas minoritas dan Muslim lainnya di Xinjiang."

Semua menguatirkan sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa ada penahanan sewenang-wenang serta pengawasan dan pembatasan di luar batas yang menargetkan warga Uighur dan kaum minoritas lainnya di Xinjiang. Petisi itu juga mendorong China untuk menghentikan penahanan sewenang-wenang dan memberikan "kebebasan bergerak kaum Uighur dan komunitas minoritas dan Muslim lainnya di Xinjiang."

Dugaan penindasan terhadap etnis Uighur diawali kelompok pemerhati HAM, Amnesty International, yang pada September 2018 melaporkan pemerintah China menahan sekitar satu juta orang Uighur di penampungan layaknya kamp konsentrasi. Di sana, para tahanan dilaporkan didoktrin supaya mengamalkan ideologi komunis dan menanggalkan identitas kesukuan mereka.

Otoritas China juga dituduh mengekang hak-hak masyarakat Xinjiang untuk beribadah. Berdasarkan kesaksian sejumlah warga Xinjiang, aparat China melakukan penahanan secara sewenang-wenang sejak 2014.

Pujian
Namun tak lama kemudian muncul berita tandingan bahwa para Duta Besar 37 negara termasuk Rusia, Arab Saudi, Nigeria, Aljazair, Korea Utara bersatupadu dalam menulis surat terbuka kepada PBB untuk membela perlakuan penguasa China terhadap warga Uighur dan minoritas lainnya di wilayah Xinjiang.

"Kami memuji prestasi luar biasa China di bidang hak asasi manusia," demikian bunyi surat tersebut yang juga ditandatangani oleh Myanmar, Filipina, Zimbabwe, dan lainnya.

"Kami mencatat bahwa terorisme, separatisme, dan ekstremisme agama telah menyebabkan kerusakan besar pada orang-orang dari semua kelompok etnis di Xinjiang," imbuh surat tersebut seperti dilansir kantor berita AFP.

"Sekarang keselamatan dan keamanan telah kembali ke Xinjiang," demikian isi surat tersebut.

Kepentingan

Dua pemberitaan tentang Uighur yang saling berlawanan arah itu seyogianya menyadarkan kita semua agar jangan mudah termakan berita politik yang masing-masing jelas memiliki kepentingan yang beda satu dengan lainnya. Wajar apabila setiap negara dan bangsa memiliki kawan dan lawan sesuai dengan kepentingan diri masing-masing.

Hari ini kawan besok bisa jadi lawan. Sebagai warga Indonesia saya juga tidak suka apabila ada pihak asing ikut campur urusan dalam negeri Indonesia.

Bela Rasa
Namun sebagai insan manusia yang sedang mempelajari kemanusiaan, seyogianya saya wajib tetap memiliki semangat bela-rasa apabila pada kenyataan ada sesama manusia sedang menderita. Seperti para warga Hong Kong yang sedang berjuang mempertahankan hak asasi mereka sebagai manusia, para warga Papua yang masih merasa didiskriminir, para pengungsi yang terpaksa mengungsi akibat masalah politik, ekonomi atau bencana alam.

Pun para rakyat tergusur atas nama pembangunan, anak-anak yang tidak sekolah sebab tidak mampu membayar biaya pendidikan, para pasien yang terlantar akibat tidak mampu membayar biaya kesehatan, serta sesama manusia yang hak asasinya sebagai manusia belum terpenuhi.

Namun saya juga wajib seksama menunaikan Jihad Al Nafs menaklukkan diri sendiri dalam mengungkapkan bela-rasa terhadap sesama manusia yang sedang menderita, agar jangan sampai malah memperparah penderitaan sesama manusia yang sedang menderita.

Bisa saja akibat keterbatasan kemampuan maka saya tidak bisa menolong sesama manusia yang sedang menderita. Namun sebaiknya janganlah saya malah ikut menyemooh, menghina, menghujat, bahkan memfitnah demi menyelakakan sesama manusia yang sedang menderita.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya