Berita

Aksi pegawai KPK tolak revisi UU KPK/RMOL

Politik

Sejarah Akan Mencatat Kematian KPK Di Era Jokowi

SABTU, 07 SEPTEMBER 2019 | 00:58 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Ratusan Pegawai hingga Pimpinan Komisi Pemberantasan Koruosi (KPK) menggelar aksi menolak revisi UU 30/2002 tentang KPK. Dalam aksinya, mereka membentangkan poster penolakan revisi UU KPK dan mengitari seluruh Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (6/9).

Di sela-sela aksi, salah seorang Pegawai KPK, Henny Mustika Sari memberikan orasi atas penolakan terhadap revisi UU KPK yang dinilai melumpuhkan pemberantasan korupsi. Menurut dia, sejumlah serangan bertubi-tubi datang dari segala penjuru untuk melemahkan KPK pada setiap era kepemimpinan.

Henny berharap kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak menjadi sejarah kematian KPK.


"Presiden Abdurahman Wahid merancang KPK, Presiden Megawati Soekarno Putri melahirkan KPK, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melindungi KPK. Jangan sampai sejarah mencatat KPK mati pada masa Presiden Joko Widodo," tegas Henny dalam orasinya di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (5/9).

Lebih lanjut, Henny menyatakan KPK adalah lembaga independen dan diberikan UU khusus dalam mengaturnya. Artinya, kehadiran KPK sebagai pembeda tidak boleh disusupi dan diintervensi oleh kekuasaan.

Karenanya, jika KPK sudah diintervensi dan tak independen, KPK bakal mati.

"Untuk itu, hari ini kami lebih dari 1.000 insan KPK yang ada di Gedung bersepakat menghentikan kerja sejenak sebagai pertanda KPK telah mati dan bersama-sama berduka pada hari ini," lanjut Henny.

Karenanya, hanya satu permintaan dari seluruh pegawai KPK, yakni agar Presiden Jokowi bertindak dan memainkan perannya sebagaimana dilakukan presiden-presiden sebelumnya.

"Hentikan revisi UU KPK!," tandasnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Prabowo Kumpulkan Ratusan Pengurus Kadin se-Indonesia di Istana

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:26

Larangan Dapur MBG Gunakan Barang Bersubsidi Sudah Tepat

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:25

Cegah Gagal Panen, Komisi IV DPR Minta Pemerintah Antisipasi Dampak El Nino

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:03

Indonesia-Tiongkok Perkuat Kemitraan Strategis Berbasis Ekonomi Hijau

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:53

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dinilai Paling Siap, Palangka Raya jadi Percontohan Digitalisasi Perlinsos Berbasis IKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:33

Praperadilan Ketiga Roy Suryo, Ahli Perkuat Dalil Permohonan Ganti Rugi Rp206 Juta

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:32

Jakarta Gandeng Banten Bangun Kawasan Ketahanan Pangan Terpadu

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:27

Digitalisasi Perizinan Tutup Celah Perdagangan Satwa Liar Ilegal

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

IHSG Sesi I Menguat 29 Poin, Saham TINS DEWA dan BBCA Paling Memikat Investor

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

Selengkapnya