Berita

Aksi demo mahasiswa Papua di Jakarta/Net

Publika

Makar dan Separatisme

KAMIS, 29 AGUSTUS 2019 | 11:52 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

BELANDA dan Inggris via Australia main di Papua. Jadi duri dalam daging Indonesia.

Belakangan "Penumpang Gelap" back up Separatis Papua's campaign. Mempermasalahkan Bendera Morning Star di depan Istana Merdeka. Mereka ikut-ikutan terlibat merongrong kedaulatan. Intermingled antara "Makar" dan "Separatisme".

Free West Papua ingin memisahkan diri. Bukan kudeta merebut pemerintahan pusat. Karena itu, respons Rezim Jokowi pun beda.


Pasca-World War II, sebuah era baru dimulai. Proses "decolonization" terjadi. Negara-negara baru berdiri. Dasarnya adalah teritorial peninggalan colonizers.

Arrangement ini disepakati. Malaysia tidak masuk wilayah NKRI karena koloni Inggris. Papua New Guinea masuk Class C League of Nations mandate karena koloni Jerman. Filipina jadi negara sendiri karena koloni Amerika.

Sebelum ekspansi Inggris, tidak ada Kerajaan Lokal menguasai daerah di Timur Laut India. Wilayah itu dikuasai Inggris. Setelah decolonization, masuk teritori India.

Teritori Republik Tiongkok (before PRC) ditentukan sebagai Penerus Dinasti Qing dengan peta seluas 13.100.000 km persegi. Penetrasi USSR membuat Outer Mongolia dan Korea lepas. Namun usaha separatis Tibet dan Uighur ditumpas. Jadinya Peta Tiongkok sekarang hanya seluas 9,6 juta km persegi.

Teritori Indonesia sudah fix saat Jerman, Italia, Jepang, dan Hungaria tanda tangani treaty "spheres of influence" pada 27 September 1940. The Dutch East Indies fell into Japan's sphere.

Dutch–Indonesian Round Table Conference menyepakati klausul "The Kingdom of the Netherlands unconditionally and irrevocably transfers complete sovereignty over Indonesia to the Republic of the United States of Indonesia, and thus recognises the Republic of the United States of Indonesia as an independent and sovereign Nation."

"Complete sovereignty" artinya dari Sabang sampai Merauke. Jangan ditafsir macam-macam.

Timor Leste adalah Koloni Portugis. Bulan November 1975, Pemerintah Indonesia memutuskan menganeksasi Timor Timur untuk mencegah ekspansi komunis di Indonesia's back yard.

Karena bukan Koloni Belanda, Fretelin Xanana Gusmao punya alibi merdeka. Tidak demikian ceritanya di masalah Papua.

"Self-determination" tidak bisa dijadikan pijakan Free West Papua Movement. "Self-determination" adalah konsep yang dimainkan Woodrow Wilson dan Vladimir Lenin sebagai alat legitimasi rebutan spheres of influence antara kapitalis dan communist empires.

Indonesia bisa menggunakan alasan "Threat of Anarchy" dan "Self Defense" menumpas gerakan Separatis Papua.

Provokator rasis Tri Susanti sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Dana Otonomi Khusus besar sekali. Salah satunya buat biaya sekolah pemuda-pemudi Papua. Sayangnya di antara mereka ada yang terlibat Gerakan Anti-Indonesia.

Para Penumpang Gelap yang tempo hari menyelinap di Tubuh Relawan 02 sekarang gencar bully Pemerintah Indonesia dan Presiden Jokowi.

Dalam rangka mendelegitimasi Jokowi, mereka jadi Pro-Separatis Papua. Jelas-jelas makar. Hati-hati. Para Patriot Indonesia yang bapak-bapaknya gugur di Papua mencatat.

There is a time when The Patriots would come to handle you free-rider bastards
.


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya