Berita

Donald Trump dan Hassan Rouhani/Net

Muhammad Najib

Menanti Pertemuan Donald Trump Dengan Hassan Rouhani

RABU, 28 AGUSTUS 2019 | 17:48 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

Presiden Perancis Emmanuel Macron menjamu tamu-tamunya dari 6 negara maju yang tergabung dalam kelompok negara-negara G-7, sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diselenggarakan di kota Biarritz, Perancis.

Sebelum acara dibuka secara resmi, pada Senin (26/8) di tempat diselenggarakannya KTT Macron menerima  Menlu Iran Mohammad Javad Zarif. Dikabarkan Macron dan Zarif berbicara lebih dari tiga jam.

Pada saat memberikan sambutan penutupan, Macron menyampaikan bahwa dirinya sedang mempersiapkan pertemuan antara Presiden Amerika Donald Trump dengan Presiden Iran Hassan Rouhani.


Pertemuan diharapkan akan dilakukan dalam beberapa pekan ke depan, untuk menemukan penyelesaian atas ketegangan yang terjadi antara kedua negara, akibat keluarnya Amerika dari Joint Comprehensive Plant of Action (JCPOA) yang berujung pada sangsi yang diderita oleh Iran.

Seluruh kepala negara anggota G-7 hadir dalam pertemuan ini, termasuk Presiden Amerika Donald Trump. Dikabarkan Trump tidak menyukai kehadiran Zarif, akan tetapi ia tidak kuasa menolaknya.

Paling tidak ada dua pesan penting yang perlu ditangkap dari manuver politik yang dilakukan oleh Presiden Perancis dalam perhelatan yang amat penting tersebut.

Pertama, Perancis dan sekutu-sekutunya paling tidak yang tergabung dalam Uni Eropa, tidak begitu saja mengikuti kemauan Amerika dalam masalah nuklir Iran. Jika Amerika tidak segera mengubah langkah keras yang diambilnya, apalagi sampai menggunakan kekuatan militer, maka Perancis dan sekutu Eropanya akan mengambil jalan sendiri.

Kedua, Perancis dan sekutu-sekutunya mencoba menekan Amerika untuk mengubah pendekatan yang digunakan, dengan lebih mengedepankan pendekatan non militer. Dengan kata lain, Perancis mendorong Washington  untuk menyelesaikannya dengan cara diplomatik, dan Paris siap menjadi mediator.

Dalam kontek pertarungan diplomatik antara Washington vs Teheran, tampaknya Teheran berhasil memanfaatkan momentum yang amat penting ini dengan cerdik. Atau mungkin saja akibat Washington yang ke lewat jumawa, sehingga kecolongan di panggung politik besar dan bergengsi yang seharusnya menjadi miliknya, mengingat yang hadir adalah sekutu Amerika sendiri.

Jika pertemuan antara Trump dengan Rouhani tidak terjadi, maka Iran akan mendapatkan satu poin kemenangan. Penolakan Amerika akan dimaknai sebagai penolakan atas inisiatif Perancis ini.

Sedangkan bila pertemuan antara orang nomor satu Amerika dengan orang nomor satu Iran terwujud, maka Iran akan mendapatkan dua poin kemenangan. Hal ini disebabkan digelarnya pasukan Amerika secara besar-besaran yang bertujuan menekan dan menggertak Iran ternyata gagal.

Meskipun demikian, jika kemungkinan kedua yang terjadi diperkirakan perundingan tidak akan mudah, mengingat Washington tidak hanya akan berusaha mengendalikan kemampuan nuklir Iran, sebagaimana dilakukan pada JCPOA yang ditandatangani tahun 2015, akan tetapi juga akan menambah klausul baru terkait upayanya untuk juga mengendalikan kemampuan rudal Iran yang berkembang dengan pesat.

Di sisi lain Teheran menegaskan perundingan dengan Amerika baru bisa dimulai, jika sangsi ekonomi terhadap Teheran dicabut terlebih dahulu. Selain itu, Ayatullah Ali Khameni sebagai pemimpin spiritual tertinggi yang memiliki hak veto dalam masalah ini, telah menegaskan bahwa program rudal Iran tidak untuk dinegosiasikan.

Menurut Reuters sampai bulan lalu, akibat embargo Amerika, ekspor minyak Iran terus menurun sampai sekitar 300.000 ribu barrel perhari. Padahal pihak Iran menginginkan bisa mengekspor minimal 700.000 barrel perhari. Dan Iran menginginkan bisa terus meningkatkan ekspor minyaknya, sampai 1,5 juta barrel pe rhari, sesuai kemampuan produksi maksimalnya.

September mendatang Majelis Umum PBB di New York, akan mengadakan sidang. Diperkirakan Trump dan Rouhani akan hadir pada hajatan akbar ini. Kita tunggu, apakah inisiatif Presiden Perancis kali ini akan berhasil atau tidak.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya