Berita

Benjamin Netanyahu/Net

Muhammad Najib

Menyongsong Pemilu Ulang Di Israel

SELASA, 27 AGUSTUS 2019 | 05:59 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

PEMILU di Israel yang berlangsung pada bulan April, meskipun menempatkan Partai Likud yang dipimpin Benyamin Netanyahu dan koalisinya yang mengusung dirinya sebagai calon Perdana Mentri kembali muncul sebagai pemenang. Akan tetapi Bibi panggilan akrabnya gagal dalam membentuk kabinet.

Kegagalannya disebabkan partai  Yisrael  Beiteinu yang dipimpin Avigdor  Liberman yang menjadi sekutunya, menolak bergabung dalam pemerintahan. Partai Liberman ini sebenarnya kecil, akan tetapi sangat menentukan jumlah minimal untuk menjadi mayoritas di Kneseset sesuai Undang-undang Pemilu di Israel. Penolakan Liberman ini disebabkan sejumlah syarat yang dimintanya tidak disetujui oleh Bibi.

Sesuai dengan Undang-undang yang berlaku di Israel, ketika sampai tenggat waktu yang ditetapkan, Kabinet belum juga berhasil dibentuk oleh pemenang, maka dilakukan pemilu ulang.


17 September , bulan depan pemilu ulang akan dilaksanakan. Menurut sejumlah jejak pendapat, tidak akan banyak perubahan perolehan kursi di Kneseset (Parlemen) dibanding pemilu empat bulan lalu.

Bigitu juga situasinya dengan kandidat Perdana Mentri, Benyamin Netanyahu calon dari Likud dan koalisinya, masih mengungguli Benjamin Gantz yang diusung oleh koalisi Biru-Putih.

Dalam kampanyenya Bibi selalu menekankan tiga hal: Menolak berdirinya negara Palestina; Aneksasi Tepi Barat; dan menempatkan Iran sebagai ancaman utama negara Zionis tersebut.

Sementara itu, Benjamin Gantz yang menjadi lawannya dalam kampanyenya menolak aneksasi Tepi Barat, mengambang dalam masalah negara Palestina, dan selalu mendengungkan kelemahan lawannya sebagai petahana, yang dimata publik Israel dituduhnya sebagai korup dan pembohong. Bagian terakhir ini sebenarnya yang menjadi daya tarik paling kuat dari sang penantang.

Bibi sebagai petahana yang berhasil menjadi Perdana Mentri Israel terlama, tampaknya tetap menggunakan jurus klasiknya, yakni dengan mengeksploitasi perasaan terkepung dan terancam rakyatnya. Dirinya kemudian tampil sebagai pemimpin yang kuat dan pemberani yang siap melindungi mereka dengan carenghajar siapa saja yang dianggap sebagai ancaman.

Implikasi dari strategi ini adalah rangkaian kekerasan selalu muncul setiap menjelang pemilu. Bedanya, jika sebelumnya rakyat Palestina baik di Tepi Barat maupun Gaza yang jadi sasaran, atau Rakyat Lebanon, atau Rakyat Suriah, maka kali ini milisia-milisia sekutu Iran yang jadi sasaran, baik yang berada di Irak, Lebanon, Yaman, maupun Suriah.

Selain untuk keperluan jangka pendek kampanyenya dalam rangka pemilu, Bibi juga memanfaatkan kelemahan musuh-musuh Israel, akibat kurangnya suplai logistik akibat embargo yang dijatuhkan Amerika terhadap Iran.

Bagi Hizbullah di Lebanon, Al Hashd Al Shaabi di Irak, Houthi di Yaman, dan berbagai milisia Syiah yang beroperasi di Suriah, serangan-serangan Israel kali ini menguji ketahanan dan ketangguhan mereka menghadapi negara Zionis saat dukungan logistik dari Teheran sangat minim akibat embargo.

Mampukah mereka bertahan,  atau malah semakin kuat? Hal ini tentu sangat ditentukan oleh militansi dan semangat mereka di medan tempur.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya