Berita

Armada Laut/Net

Pertahanan

Berlomba Membangun ‘Blue Water’ Di Kawasan Asia Pasifik

MINGGU, 25 AGUSTUS 2019 | 21:15 WIB | LAPORAN: A KARYANTO KARSONO

Lima tahun terakhir negara-negara di kawasan Asia Pasifik kian terlihat jelas kecenderungan mengembangkan kekuatan maritim. Tak sekedar kekuatan tempur maritim biasa, tapi sudah mengarah pada kemampuan yang kerab disebut “blue water”.

“Blue water”, kemampuan mengerahkan kekuatan militer (military projection) lewat laut dalam jangkauan jarak yang jauh. Seperti apa capaian “blue water military” sejumlah negara Asia Pasifik? Tulisan ini merupakan pembuka untuk telaah berikutnya.

Salah satu ciri kemampuan “blue water” sebuah angkatan laut adalah kepemilikan kapal-kapal perang berjangkauan layar yang jauh, melintasi batas negara atau batas regional. Agak sulit menyebut angka untuk parameternya, tapi secara informal angkatan laut sebuah negara dikatakan masuk kategori “blue water navy” jika mampu mengirimkan kekuatan militer lautnya dalam jarak di atas 10.000 kilometer lengkap dengan logistiknya.


Selain kapal-kapal perang berkemampuan tempur langsung (penyerang), kapal-kapal perang yang berfungsi sebagai komando armada (fleet command) wajib dimiliki angkatan laut berkategori “blue water”.

Beberapa jenis bisa disebut (mulai dari yang terkecil) yaitu kapal pendarat dok, kapal serbu amfibi hingga kapal induk (carrier). China, Jepang, Korea Selatan, dan Australia adalah negara-negara Asia Pasifik yang dalam lima tahun terakhir terlihat mengembangkan “otot” maritim.

Kemampuan proyeksi kekuatan militer secara “blue water” memang perlu disikapi dengan bijak. Apalagi letak Indonesia yang berada di persimpangan antara dua samudera besar (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik). Selain merupakan salah satu alur laut lalu lintas maritim tersibuk di dunia.

Namun kemampuan “blue water navy” itu juga tak perlu selalu dipandang negatif. Dalam sebuah operasi kemanusiaan penanggulangan bencana alam, kemampuan tersebut sangat bermanfaat. Dalam sebuah operasi militer selain perang (OMSP) skala besar, digunakan untuk penanggulangan bencana alam yang dahsyat. Hanya “blue water navy” yang bisa mengirim bantuan dalam jumlah besar secara cepat.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

Jokowi Sangat Menghindari Pembuktian Ijazah di Pengadilan

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:59

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Paling Rumit kalau Ijazah Palsu Dipaksakan Asli

Jumat, 27 Februari 2026 | 02:00

UPDATE

Din Syamsuddin Nilai Serangan AS-Israel Bisa Porak-porandakan Dunia Islam

Minggu, 01 Maret 2026 | 12:14

Serangan AS-Israel ke Iran Bisa Picu Konflik Berkepanjangan

Minggu, 01 Maret 2026 | 12:02

Iran Tutup Selat Hormuz, Lalu Lintas Minyak Global Terancam

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:59

UI Tegaskan Demonstran yang Maki Polisi Bukan Mahasiswanya

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:41

AS-Israel Sama Sekali Tak Peka Dunia Islam

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:33

KPK Pastikan Anggota Komisi V DPR Terseret Kasus DJKA

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:23

Harga BBM Pertamina 1 Maret 2026: Non-Subsidi Naik Serentak, Pertalite Stabil

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:40

Serangan Trump ke Iran Retakkan Integritas Demokrasi Amerika

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:17

Khamenei Meninggal Dunia, Iran Umumkan 40 Hari Masa Berkabung

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:07

Kritik PDIP soal MBG Bisa Dipahami sebagai Peran Penyeimbang

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:04

Selengkapnya