Berita

Liem Koen Hian/Net

Publika

Irony Mr. Liem

SABTU, 24 AGUSTUS 2019 | 17:09 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

ADA sebuah mitos. Asalnya dari Undang-Undang tahun 1854. Kolonial Belanda menerapkan politik segregasi rasial. Ras kelas pertama adalah "Europeanen" dan pribumi Kristen/Katolik misalnya tentara KNIL dari Ambon;

Ras kelas kedua adalah "Vreemde Oosterlingen" (Timur Asing) seperti Tionghoa, Arab, India maupun non-Eropa lain; dan ras kelas ketiga adalah "Inlander", yang kemudian diterjemahkan menjadi "Pribumi".

Tanggal 10 Februari 1910 Pemerintah Belanda merilis Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap (WNO) atau UU Kawula Belanda.


Seiring berlakunya WNO, Pemerintah Belanda membentuk Volksraad dan Indie Weerbaar (Wajib Militer).

Tjoe Bou San dari Grup Sin Po memimpin perlawanan. Menurut Pieter Hendrik Fromberg, alasan perlawanan itu karena orang Tionghoa diperlakukan tidak adil dengan wijkenstelsel, passenstelsel & politie roll. Maka sejak abad 19 lahir Gerakan Tiongkok Raya.

Liem Koen Hian yang akrab dengan Pembesar PKI Tan Ling Djie menentang Grup Sin Po (China Sentris) dengan menyatakan:

"Nasionalisme Tiongkok bisa dipakai sebagai senjata buat usir musuh dari negerinya, buat Tionghoa peranakan itu senjata tidak ada gunanya... Dengan memain sama nasionalisme, di belakang hari kalau Tiongkok sdh jadi kuat, buat berbuat jahat pada bangsa Indonesia, seperti kaum imperialist di Tiongkok sekarang".

Liem Koen Hian terpengaruh Dr. Tjipto Mangunkusumo yang punya cita-cita membentuk sebuah bangsa dari orang-orang yang menganggap Indonesia sebagai tanah air, termasuk Indo-Belanda, peranakan Tionghoa, dan Arab.

Cita-cita Dr Tjipto Mangunkusumo segaris dengan konsep kebangsaan MH. Thamrin yang ikut-sertakan peranakan Tionghoa di dalamnya.

Di samping jadi lawan keras Sin Po, Liem Koen Hian juga menjadi musuh terperih Chung Hwa Hui (CHH) yang sangat Pro Belanda.

Dia menyatakan, "Hanya segelintir manusia seperti HH.Kan (Ketua CHH) yang berpendapat bahwa habisnya pemerintahan Belanda di sini dunia akan kiamat".

Akibat menentang dua kubu sekaligus, Liem Koen Hian dibacok pake golok saat turun di stasiun kereta Beos Jakarta-Kota dari Surabaya.

Saat itu, Hanya "Indische Partij" dan "PKI" yang membuka pintu bagi Tionghoa sebagai "anggota penuh".

PNI yang terpengaruh Gerakan Nasionalisme Asia Dr. Sun Yat Sen berpikir Tionghoa secara otomatis harus membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai praxis dari Ajaran Dr. Sun Yat Sen.

Karena kesulitan itu, maka di Bulan September 1932, Liem Koen Hian mendeklarasikan Partij Tionghwa Indonesia (PTI) di Surabaya. Anggaran Dasarnya tegas menyatakan PTI menyatakan ikut aktif memperjuangkan Indonesia merdeka.

Di bulan Agustus 1934, sebuah essay di Harian Mata Hari bikin heboh. Penulisnya adalah seorang rebel of his age bernama Abdurahman Rasyid Baswedan.

Artikel itu menyerukan agar Peranakan Arab bersatu dukung Indonesia Merdeka.

Bos Harian Mata Hari yang berdomisili di Semarang adalah Mr. Liem Koen Hian.

Atas dorongan bosnya, AR Baswedan mendeklarasikan berdirinya Partai Arab Indonesia (PAI) pada tanggal 04 Oktober 1934.

Supaya bisa fokus, AR Baswedan resigned dari Harian Mata Hari yang bersalary 120 gulden, setara 24 kuintal beras. "For the struggle," katanya.

AR Baswedan seorang tough journalist. Working not for money. Sebelumnya, dia juga pindah dari Sin Tit Po ke Harian Soeara Oemoem yang dipimpin Dr. Sutomo.

Padahal Liem Koen Hian sebagai "Hoofredactuer" membayarnya 75 gulden. Sedangkan Soeara Oemoem hanya beri 10-15 gulden.

Pejuang tangguh. Orang hebat. AR Baswedan punya cucu bernama Anies Rasyid Baswedan yang saat ini merupakan Gubernur DKI Jakarta ke 17.

Bulan Mei 1939, garis politik front persatuan anti fasis membentuk Gabungan Politik Indonesia disingkat GAPI.

Terdiri dari Gerindo, Parindra, Pasundan, Persatuan Minahasa, Partai Katolik, Sarekat Islam dan Partai Arab Indonesia.

PTI dan PAI diberikan status sebagai anggota luar biasa. PAI terima. PTI tolak. Harian Berita Umum kritik PTI sebagai oportunis. PTI menjawab:

"PTI bersedia menerima tanggung jawab & konsekuensi sbg anggota penuh GAPI, tetapi tidak mau menjadi anggota luar biasa...krn PTI tidak ingin jadi anak tiri dari seorang ibu indonesia".

PTI berkembang di Jawa Tengah dan Timur. Tapi di Jawa Barat mandek. Sebabnya karena struktur ekonomi Tionghoa di Jawa Barat dikuasai Tuan Tanah dan owner onderneming yang selaras dengan Penguasa Belanda.

Selain di Jawa Barat, PTI juga lumpuh di Medan. Hanya di Makasar, PTI bisa berkembang.

Tahun 1945, Liem Koen Hian menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Tahun 1947, Liem Koen Hian menjadi anggota delegasi Republik Indonesia yang menghasilkan Persetujuan Renville.

Tahun 1951, Liem Koen Hian tinggal di Tanah Abang. Punya Apotik. Tahun itu juga, dia kena razia Sukiman. Dia dicurigai sebagai leftist sympathizer. Masuk penjara. Dia kecewa. Lalu lepas kewarga-negaraan Indonesia.

Setahun kemudian, Tanggal 05 November 1952, Liem Koen Hian meninggal dunia di Medan. Sebagai orang asing...!!!

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

Pidato Berapi-api Jokowi di Rakernas PSI Diramalkan Jadi yang Terakhir

Minggu, 08 Februari 2026 | 02:33

UPDATE

Bebas Aktif Tapi di Bawah Komando Trump

Rabu, 18 Februari 2026 | 05:50

Prabowo Mirip Soeharto Tidak Mau Dispekulasikan Publik

Rabu, 18 Februari 2026 | 05:28

Belasan Siswa SMK Cedera Akibat Panggung Acara Perpisahan Ambruk

Rabu, 18 Februari 2026 | 04:58

Modeling Budidaya Lobster di Batam Penuhi Kebutuhan Imlek

Rabu, 18 Februari 2026 | 04:42

Polisi Lakukan Ekshumasi Selidiki Kematian Santri di Wonogiri

Rabu, 18 Februari 2026 | 04:21

Sate Maranggi Mbah Goen Hadirkan Sentuhan Budaya Sunda dan Wisata Alam

Rabu, 18 Februari 2026 | 03:58

Green Jobs Class Solusi Atasi Masalah Sampah di Kota Bandung

Rabu, 18 Februari 2026 | 03:36

TNI Gercep Atasi Sedimentasi di Perairan Aceh Tamiang

Rabu, 18 Februari 2026 | 03:19

Legislator PKB Minta Pemprov Hati-hati Terapkan Opsen Pajak Kendaraan

Rabu, 18 Februari 2026 | 02:59

Puluhan Warga Keracunan di Purworejo Tidak Terkait MBG

Rabu, 18 Februari 2026 | 02:33

Selengkapnya