Berita

Indonesia harus punya rencana lebih matang untuk maksimalkan potensi halal/Istimewa

Bisnis

Indonesia Harus Punya Rencana Terukur Untuk Maksimalkan Potensi Besar Dalam Ekonomi Halal Dunia

JUMAT, 23 AGUSTUS 2019 | 17:47 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Indonesia harus memiliki panduan, pegangan terkonsolidasi, dan rencana aksi (action plan) terukur untuk dapat menjadi mesin ekonomi halal dunia. Dengan potensi ekonomi halal yang sangat besar, Indonesia diyakini akan mampu menjadi kekuatan ekonomi baru pada 2024.

Pandangan ini diungkapkan Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center, Sapta Nirwandar saat tampil menjadi pembicara kehormatan dalam high level discussion bertema 'Indonesia Menuju Pusat Ekonomi dan Keuangan Islam Dunia' di The Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta, Jumat (23/8). Sapta mengatakan, Indonesia diyakini mampu menjadi salah satu pemimpin pasar ekonomi syariah karena memiliki modal jumlah penduduk Muslim terbesar dunia.

Dia mengutip pesan dan arahan Presiden Joko Widodo pada peluncuran Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019 di Kantor Bappenas, 14 Mei 2019, soal potensi besar yang dalam produk halal. Berdasarkan data Global Islamic Economy Report di 2023 pengeluaran belanja masyarakat muslim dunia mencapai 3 triliun dolar AS.


"Sayangnya, menurut Global Islamic Economy Indicator, pada 2018 Indonesia masih menempati urutan yang kesepuluh dalam peringkat negara-negara yang menyelenggarakan ekonomi syariah. Dengan memiliki rencana aksi terukur, ditargetkan pada 2024 Indonesia dapat meningkat ke urutan kelima," kata Sapta Nirwandar.

Mantan Wakil Menteri Pariwisata itu optimistis target tersebut bisa tercapai bila didukung ekosistem yang kondusif. Dia menyontohkan Malaysia yang menerapkan konsep ekonomi halal pada produksi, layanan, infrastruktur, dukungan pemerintah, dan sumber daya manusia.

"Peluang yang didapatkan bila kita mengembangkan ekosistem industri halal di Indonesia yakni peluang domestik 218,8 miliar dolar AS. Pasar domestik akan tumbuh 5,3 persen hingga 2025. Peluang ekspor mencapai 249 miliar dolar AS," lanjut Sapta.

Selain itu, masih ada produk substitusi impor senilai 19,5 miliar dolar AS dalam impor produk ekonomi halal. "Industri halal di Indonesia berpotensi untuk menarik investasi asing secara langsung senilai 1 miliar dolar AS dan dapat membuka 127 ribu lapangan pekerjaan baru per tahun. Kita memiliki halal champions antara lain Indofood, Mayora, Garuda Food, Wardah, El Corps, dan lain lain," papar Sapta.

Untuk itu, menurut Sapta, dibutuhkan literasi dan edukasi sebagai konsumen negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. "Sayangnya masih belum ada strategi dan kebijakan pemerintah untuk memberikan kejelasan bagi konsumen dan produsen industri halal di Indonesia," tambah Sapta.

Sebagai contoh wisata halal, belum lama ini ada presepsi soal halal tourism itu ekslusive. Tetapi sebenarnya halal tourism itu extended services, tidak tertutup bagi kaum nonmuslim. Seperti yang dikatakan Bapak Wakil Presiden terpilih KH Maruf Amin yang juga Ketua Majelis Ulama Indonsia (MUI), bahwa bicara wisata halal, yang dihalalkan bukanlah destinasi atau tempat tujuan wisatanya, tapi pelayanannya.

"Termasuk di dalamnya hotel syariah, restoran syariah dan spa pun harus syariah. Potensi wisata halal di Indonesia sangat luar biasa. Sayangnya, belum ditangani secara serius. Karenanya peranan pemerintah dan pengusaha dalam mengembangkan produk dan jasa halal sangat penting, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Bahkan, wisata halal dapat memberikan manfaat bagi semua pihak," tutup Sapta Nirwandar.

Saat tampil pada pembukaan KH Maruf Amin yang juga Ketua Umum Dewan Pertimbangan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) menyampaikan sejumlah poin penting ekonomi syariah. Juga soal strategi, peluang, dan tantangan menuju masa depan ekonomi syariah di Indonesia.

Pada sesi diskusi yang digelar IAEI itu tampil tiga pembicara yakni Ketua Umum IAEI yang juga Menteri Bappenas RI Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Kemudian, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah, dan Adiwarman Azwar Karim dari Karim Consulting.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Langkah Prabowo Masukkan Budaya LGBTQ Ancaman Nonmiliter Patut Didukung

Minggu, 05 Juli 2026 | 08:18

Kenduri Cinta Tantang Jokowi Dialog Terbuka soal Ijazah

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:31

Program Kopdes Tak Boleh Abaikan Prinsip HAM

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:19

Wacana Dua Periode Anyep Bikin Relawan Beralih Dukung Gibran Maju Capres

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:05

Anomali Gembok Rp1 Juta Ditjenpas

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:53

JPU Kasus Ijazah Jokowi Bikin Takut Narasumber Hadiri Diskusi di Televisi

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:46

Burung Bicara Sebelas Kata

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:34

Eropa dalam Perang Salib Pertama (1096-1099)

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:27

Penalti Mbappe Bawa Les Bleus ke Perempat Final

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:21

Keuntungan BUMN Jadi Energi Baru Pembangunan

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:06

Selengkapnya