Berita

Jaya Suprana

Kemelut Hong Kong Bab 2

KAMIS, 15 AGUSTUS 2019 | 08:57 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

NYARIS sebulan setelah saya menulis naskah Kemelut Hong Kong (21 Juli 2019) ternyata kemelut Hong Kong belum berakhir.

Bahkan terjadi eskalasi unjuk rasa warga dari jalan raya merangsek masuk ke pusat perbelanjaan bahkan kemudian bandara internasional yang menyebabkan penerbangan macet total. Konsulat Jenderal RI sigap bereaksi memulangkan para WNI  ke Tanah-Air-Udara demi keselamatan mereka masing-masing.

Tampaknya kepolisian Hong Kong sudah habis kesabaran maka tak segan bermata gelap melakukan kekerasan yang sudah termasuk kategori pelanggaran HAM.


Geopolitik internasional juga memanas sehingga  Republik Rakyat China merasa perlu memaklumatkan larangan terhadap armada kapal perang Amerika Serikat  berkeliaran di kawasan lautan sekitar Hong Kong.

Qatar

Dalam perjalanan kembali dari tugas kebudayaan di Moskow, saya menyempatkan diri singgah ke Qatar untuk melihat sejauh mana persiapan pembangunan infra struktur menyongsong penyelenggaraan World Cup Sepakbola pada tahun 2022 mendatang.

Di Doha saya sempat berjumpa seorang warga Hongkong yang identitasnya wajib dirahasiakan agar beliau tidak terkena dampak tak diinginkan. Sang warga Hong Kong menyatakan bahwa   masyarakat Hong Kong kali ini gigih melakukan perlawanan terhadap pemerintah Republik Rakyat Cina demi mempertahankan demokrasi hadir di Hong Kong.

Apalagi pada saat serah-terima Hong Kong dari Inggris ke RRChina telah dijalin kesepakatan tertulis bahwa pemerintah RRChina tidak akan mengusik demokrasi di Hong Kong seperti yang telah dinikmati masyarakat Hong Kong pada masa di bawah kekuasaan kepemerintahan kerajaan Inggris. Apa yang kini sedang terjadi di Hong Kong dianggap sebagai pelanggaran kesepakatan tertulis tersebut.

Trauma

Alasan utama lainnya adalah sebagian masyarakat Hong Kong termasuk moyang sanak-keluarga warga Hong Kong yang saya jumpai di Qatar sempat merasakan penderitaan hidup di daratan utama China sehingga melarikan diri ke Hong Kong dengan berbagai cara mulai dari sebagai penumpang gelap bus atau truk sampai menyeberangi lautan dengan tongkang.

Bagi yang kurang beruntung bisa lanjut melarikan diri ke Kanada atau Inggris sehingga terpaksa tetap bermukim di Hong Kong menderita trauma masa lalu maka sangat amat terlalu tidak ingin kembali berada di bawah kekuasaan RR China yang memang tidak demokratis.

Maka warga Hong Kong yang sedang bekerja di Qatar itu sesumbar dengan semangat rawe-rawe-rantas-malang-malang-putung secara moril mendukung perlawanan masyarakat Hong Kong terhadap pemerintah dan kepolisian Republik Rakyat Cina.

Tanpa niat ikut campur urusan internal Hong Kong versus Republik Rakyat China, saya pribadi memanjatkan doa permohonan kepada Yang Maha Kuasa berkenan menyadarkan segenap pihak yang sedang berselisih paham apalagi frontal bertarung secara ragawi untuk sudi saling menahan diri untuk musyawarah-mufakat bersama mencari jalan ke luar dari permasalahan yang dihadapi demi menghentikan kemelut serta kembali menghadirkan suasana damai-sejahtera di Hong Kong sebagai satu di antara beberapa kawasan ekonomi paling gemilang di planet bumi ini. AMIN.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan yang mendambakan perdamaian di planet bumi. 

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya