Berita

Jaya Suprana/Istimewa

Jaya Suprana

Kelirumologi Debat Capres

MINGGU, 11 AGUSTUS 2019 | 11:09 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MENGADU mereka yang berambisi menjadi presiden untuk berdebat secara terbuka lewat siaran televisi memang secara ekonomis-bisnis sangat lukratif diperjualbelikan di pasar bebas sebagai produk industri hiburan. Meski secara psikopolitis, manfaat hasilnya bisa diperdebatkan.

  Kemampuan

Kemampuan berdebat mungkin perlu untuk menjadi pengacara ulung atau anggota DPR, namun tidak terlalu relevan bagi seorang kepala negara. Yang dibutuhkan seorang kepala negara sebenarnya bukan keahlian berdebat, tetapi kemampuan secara menyeluruh menatalaksana suatu lembaga kepemerintahan yang luar biasa kompleks.


Meliputi anekaragam bidang mulai dari keamanan, ketertiban, kesejahteraan, keadilan, perumahan, kependudukan, kependidikan, keagamaan, sampai kemanusiaan.

Apalagi debat termasuk suatu kemampuan yang sulit bahkan mustahil diukur secara tepat, benar, dan baku. Seperti mengukur kemampuan seorang olahragawan saat berlari, melompat, melempar, atau mengangkat.

Prestasi olahraga memang lebih bisa diukur secara akurat berdasar kaidah ukuran yang telah disepakati bersama, ketimbang prestasi debat.

Hiburan

Adu debat pilpres merupakan produk mahakarya industri hiburan dipelopori oleh Amerika Serikat yang memang unggul dalam industri hiburan di planet bumi. Namun sebenarnya patetis alias menyedihkan campur menggelikan bagaimana masing-masing kelompok pendukung capres sibuk mengklaim bahwa tokoh junjungan mereka berhasil mengalahkan tokoh lawan politik masing-masing dalam adu debat.

Sehingga yang tampil pada kenyataan adu debat pilpres akhirnya tidak ada yang kalah, sebab semua (harus) menang. Yang lebih sibuk debat malah para pendukung dalam membela junjungan masing-masing.

Namun selama masyarakat masih senang menonton adu debat pilpres tentu sah-sah sajalah apabila adu debat pilpres yang sebenarnya mubazir untuk memilih capres yang baik tetap diselenggarakan di persada Nusantara tercinta ini.

Yang penting rakyat merasa terhibur dan pemilik perusahaan TV serta perusahaan penyelenggara adu debat bisa memetik keuntungan dana berlimpah dari kegiatan adu debat. Selaras semboyan pragmatisme plus kapitalisme sejati: Maju Tak Gentar, Membela Yang Bayar! MERDEKA!

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan dan Pusat Studi Kelirumologi.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya