Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Otokritik Bertrand Russel

JUMAT, 02 AGUSTUS 2019 | 09:56 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SETELAH berupaya mempelajari pemikiran para mahapemikir Barat, mulai dari Thales dari Miletus, Yunani Kuno sampai dengan Julia Kristeva dari Bulgaria masa kini, saya memberanikan diri menyimpulkan bahwa tidak seorang pun di antara para beliau yang berhasil secara paripurna sempurna tegas dan tepat menjawab pertanyaan “Apa makna hidup ?”

Tidak Sempurna


Para mahapemikir adalah manusia biasa maka mustahil untuk sempurna. Karena manusia memang sengaja diciptakan oleh Yang Maha Kuasa sebagai mahkuk yang tidak sempurna, namun dilengkapi dengan nurani serta naluri untuk senantiasa berikhtiar menyempurnakan diri.


Pada hakikatnya, para mahapemikir tidak lepas dari belenggu kelirumologis yang paling mendasar yaitu berupaya mencari dan menemukan kekeliruan kemudian berupaya mengoreksi kekeliruan demi mendekati kebenaran yang mustahil dicapai secara sempurna oleh manusia maupun pemikiran manusia yang tidak sempurna.

Proses berkelanjutan kelirumologis niscaya senantiasa mengoreksi kekeliruan secara perpetuum mobile itu pada hakikatnya merupakan enerji yang menggerakkan apa yang disebut sebagai peradaban sebagai upaya manusia mencari kebenaran dengan daya pemikiran yang mustahil sempurna.

Hanya sedikit mahapemikir yang berani jujur mengakui kemustahilan kesempurnaan daya pikir mereka. Di antara yang sedikit itu Bertrand Russel tampil di gugus terdepan.

Kesadaran dan kejujuran bahwa pemikiran diri tidak sempurna eksplisit dan implisit diungkap Bertrand Russel yang sengaja memilih judul buku tulisannya bukan “My Philosophy” atau “My Philosophical Thinking” tetapi “My Philosophical Development”, merupakan bukti bahwa sang mahapemikir Inggris ini tidak menganggap pemikiran sebagai sesuatu yang beku atau mandeg tetapi cair dan berkembang.

Gagal


Di dalam buku tersebut, Russel mengakui bahwa dirinya gagal dalam mencari “certainity” alias kepastian di dalam perjalanan pemikirannya sebagai upaya mencari kebenaran secara sempurna.

Otokritik pemikiran Bertrand Russel yang lestari dinamis berkembang menelusuri bab-bab My Present View Of The World, First Efforts, Excursions into Idealism, Revolt Into Pluralism, Logical Technique in Mathematics, Principuia Mathematica: Philosophical Aspects, Principia Mathematica: Mathematical Aspects, The External World, The Impact of Wittgenstein, Theory of Knowledge, Conciousness and Experience, Language, The Definition of “Truth”, Non-Demonstrations Inference, The Retreat from Phytagoras.

Secara dialektis Russel senantiasa menemukan pemikiran untuk melawan bahkan menggugurkan pemikiran dirinya sendiri.

Perilaku Russel tidak jauh beda dengan tingkah seorang anak yang membangun rumah-rumahan dari bahan pasir di tepi laut. Ketika tidak puas terhadap bangunan pasir yang berhasil dibangunnya, maka diruntuhkan kembali oleh sang anak untuk kemudian dibangun kembali, dan seterusnya, dan selanjutnya, sampai akhir hayat dikandung badan.

Menurut saya, kesakti-mandragunaan pemikiran Bertrand Russel justru terletak kepada kemampuan dan kemauan otokritik, akibat menyadari bahwa pemikiran dirinya mustahil sempurna maka senantiasa dan niscaya masih dapat disempurnakan.

Ojo Dumeh


Kerendahan hati Russel selaras dengan kearifan falsafah Ojo Dumeh yang mengingatkan manusia agar jangan tinggi-hati alias sombong dan takabur. Sehingga mentang-mentang berkuasa, tidak segan melecehkan, merendahkan, menindas, bahkan mengorbankan yang mereka kuasai.

Secara implisit, pemikiran Bertrand Russel  menerangkan bahwa mahkota peradaban bukan harta benda, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, agama, dll. Tetapi kemanusiaan. Otokritik Bertrand Russel menyadarkan para penguasa agar jangan alergi dikritik apalagi fobia dikritik.

Pada hakikatnya dikritik maupun otokritik alias dikritik oleh diri sendiri justru menyemangati manusia yang mustahil sempurna untuk terus-menerus tanpa henti mawas diri kemudian mengoreksi diri agar lestari. Agar makin berupaya mendekati kesempurnaan. MERDEKA!

Penulis adalah pembelajar pemikiran para mahapemikir.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

UPDATE

PBB Dorong Implementasi Segera Prinsip Bisnis Berbasis HAM di Indonesia

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:05

Membongkar Praktik Haram MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:00

Indonesia Sedang Hadapi Perang Sumber Daya

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:34

Berantas Korupsi di BGN jadi Bukti Prabowo Jalankan Amanat Reformasi 98

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:28

Warga Tuntut Pengurus P3SRS Apartemen Taman Rasuna Diberhentikan

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:07

Pemuda Katolik Dukung Kejagung Bersih-bersih BGN

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:40

Ketua SC Muktamar X PPP Ngaku Borong Kamar Lantai 10 untuk Persidangan

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:17

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Dadan Hindayana Cs Terlalu Berani Korupsi!

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:02

Badko HMI Sultra Laporkan Dua Perusahaan Tambang ke Kejagung

Rabu, 03 Juni 2026 | 23:50

Selengkapnya