Berita

Jaya Suprana/Istimewa

Jaya Suprana

Upaya Memanusiakan Pendidikan

SELASA, 30 JULI 2019 | 08:28 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAYA kurang sreg dengan apa yang disebut sebagai kurikulum. Tidak ada insan manusia sama dan sebangun dengan insan manusia lain-lainnya, maka terasa kurang senonoh apabila manusia dipaksakan  seragam satu dengan lain-lainnya.

Kurikulum adalah ciptaan manusia, sementara manusia adalah ciptaan Tuhan. Maka kurang senonoh pula apabila ciptaan Tuhan dipaksakan untuk tunduk kepada ciptaan manusia.

Namun industri pendidikan sudah terlanjur dihadirkan untuk melayani kebutuhan massal, maka produk pendidikan juga terlanjur dimassalkan dengan berbagai penyeragaman termasuk kurikulum yang bahkan dinasionalkan.


Akibat pengindustrian pendidikan, seorang siswa di pedalaman Papua diseragamkan dengan seorang siswa di Aceh. Mmeski sebenarnya saling beda kebutuhan pendidikan, akibat perbedaan lingkungan alam mau pun kebudayaan.

Tidak ada upaya memanusiakan pendidikan. Sayang, saya pribadi hanya terbatas cuma menggerutu belaka, tanpa berani mewujudkan upaya memanusiakan pendidikan menjadi kenyataan.

Salam

Syukur alhamdullilah, di Yogyakarta, ada seorang perempuan jauh lebih perkasa ketimbang saya yang katanya lelaki ini. Sri Wahyaningsih tidak cuma menggerutu seperti saya, namun perkasa mewujudkan perlawanan terhadap industrialisasi pendidikan dengan mendirikan Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta yang praktis tidak memiliki kurikulum yang menyeragamkan pendidikan.

Salam memanusiakan pendidikan dengan mendekatkan manusia ke realita kehidupan serta lingkungan alam dan kehidupan.

Salam memerdekakan para siswanya untuk melakukan riset sebagai pembelajaran bagi diri masing-masing yang memang saling beda satu dengan lain-lainnya.

Beda

Sekolah yang didirikan Sri Wahyaningsih pada 2000 di tengah area persawahan di daerah Nitiprayan, Yogyakarta membalik tatanan pendidikan yang selama ini kita tahu. Salam beda sukma dengan sekolah yang lazim kita jumpai di segenap pelosok planet bumi masa kini.

Jika di sekolah formal, tiap semester anak-anak wajib mengikuti 8-10 mata pelajaran yang sudah ditentukan oleh Kemendikbud, di SALAM mereka memilih sendiri topik riset mereka.

Misalnya si Didi meminati jamu maka dia melakukan riset tentang jamu. Ia harus belajar juga soal jenis tanaman jamu, cara bertanam, jenis penyakit dan metode pengobatan, industri obat-obatan. Bahkan soal roda ekonomi yang bergulir di isu soal jamu.

Dari satu topik, pengetahuan meluas ke berbagai macam hal. Dengan metode memanusiakan pendidikan, pengetahuan yang muncul adalah pengetahuan yang benar-benar dibutuhkan oleh siswa. Tak akan ada pertanyaan galau “Kemarin itu susah-susah belajar fisika gunanya buat apa ya?” atau “Ujian matematika disuruh ngitung ribet banget, padahal tiap hari yang kepakai gini doang?”.

Sampai sekarang saya belum menemukan manfaat saya dipaksa belajar goniometeri. Menurut Wahya, dengan riset, anak-anak memiliki pemikiran kritis dan pemikiran solusif. Karena mereka memilih sendiri topiknya, jadi tidak ada pengetahuan yang dipaksakan.

Bahkan banyak dari mereka yang sudah punya penghasilan sendiri, karena tak jarang produk hasil riset mereka bisa langsung dijual. SALAM juga punya kegiatan bernama Pasar Legi dan Pasar Ekspresi di mana siswa-siswanya boleh menjual produk hasil buatan mereka sendiri.

Pemanusiaan

Kesadaran Sri Wahyaningsih tentang pemanusiaan pendidikan pertama kali muncul saat mengikuti kegiatan Romo Mangun (YB Mangunwijaya) di bantaran Kali Code, Yogyakarta. Romo Mangun melakukan cara pembelajaran seiring-setujuan dengan Jean Jacques Rousseau pada abad XVIII di Prancis.

Sebagai pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan, saya sangat mengagumi, menghargai dan menghormati prakarsa Sri Wahyaningsih mendirikan SALAM. Tidak ada manusia yang sempurna maka tidak ada karsa dan karya manusia termasuk pendidikan yang sempurna.

Maka upaya pemanusiaan pendidikan juga tidak sempurna sama halnya dengan ketidaksempurnaan penyeragaman pendidikan apalagi industrialisasi pendidikan yang sudah terbukti penuh bopeng-bopeng ketidaksempurnaan.

InsyaAllah, ketimbang saling mengritik, menyemooh, dan menghujat, jelas lebih produktif dan konstruktif apabila ikhtiar memanusiakan pendidikan dan sistem industrialisasi pendidikan maupun sistem pendidikan apa pun justru saling mengerti, menghormati, menghargai demi saling menyempurnakan diri masing-masing dengan saling belajar satu dengan lain-lainnya.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya