Berita

Peta terdampak tumpahan minyak Pertamina/Istimewa

Bisnis

Ajak Nelayan Angkut Limbah Minyak, Pertamina Dinilai Abaikan Keselamatan

SENIN, 29 JULI 2019 | 17:15 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pertamina melibatkan nelayan  dalam proses pembersihan tumpahan minyak mentah milik Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Hal tersebut sebagai bentuk ganti rugi Pertamina kepada nelayan yang tidak bisa melaut karena laut yang biasa dijadikan  mereka untuk mencari nafkah tercemar.

Kendati demikian, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai langkah yang diambil Pertamina ini dinilai kurang persiapan.


"Pelibatan warga dan nelayan dalam penanganan tumpahan minyak tanpa alat keselamatan kerja yang layak  dan atau sesuai SOP, harus dievaluasi kembali," ujar Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat Meiki W Paendong, saat berbicara di Kantor WALHI pusat di bilangan Mampang,  Jaksel,  Senin (29/7).

Pasalnya dalam proses pembersihan limbah minyak tersebut pegawai Pertamina dilengkapi perlengkapan dan baju safety.  Berbeda dengan nelayan yang menggunakan alat seadanya.

"Ini harus difokuskan, jangan nanti jadi masalah baru, " tegasnya.

Meiki memberi gambaran nelayan yang dilibatkan Pertamina itu dibagi  perkelompok. "1 kelompok nelayan  terdiri dari 4 perahu. 1 perahu tersebut diisi oleh 3-5 orang nelayan yang mampu membawa 60 karung, " paparnya.

Lebih detail Meiki bercerita 1 karung berisi 25 kg oil spill. Maka kalau di jumlah total oil spill yang terangkut oleh kelompok tersebut  sebesar 25 kg x 60 karung x 4 perahu = 6000 kg / 240 karung.

"Itu dalam 1 hari hanya 1 kali ritasi," ucapnya.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah penanganan limbah minyak pasca diangkut akan diapakan. "Katanya mau dibawa kecimalaya setelah itu masih tanda tanya," tambahnya.

WALHI menegaskan jangan sampai minyak yang diangkut  menambah masalah lingkungan dan sosial baru.

Untuk diketahui sebelumnya telah terjadi kebocoran minyak mentah dari anjungan lepas pantai YYA 1 di perairan Karawang  pada 12 Juli lalu yang mengakibatkan banyak kerugian diantaranya mengancam perairan laut disekitarnya termasuk Jakarta dan menghilangkan mata pencaharian masyarakat.


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Langkah Prabowo Masukkan Budaya LGBTQ Ancaman Nonmiliter Patut Didukung

Minggu, 05 Juli 2026 | 08:18

Kenduri Cinta Tantang Jokowi Dialog Terbuka soal Ijazah

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:31

Program Kopdes Tak Boleh Abaikan Prinsip HAM

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:19

Wacana Dua Periode Anyep Bikin Relawan Beralih Dukung Gibran Maju Capres

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:05

Anomali Gembok Rp1 Juta Ditjenpas

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:53

JPU Kasus Ijazah Jokowi Bikin Takut Narasumber Hadiri Diskusi di Televisi

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:46

Burung Bicara Sebelas Kata

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:34

Eropa dalam Perang Salib Pertama (1096-1099)

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:27

Penalti Mbappe Bawa Les Bleus ke Perempat Final

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:21

Keuntungan BUMN Jadi Energi Baru Pembangunan

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:06

Selengkapnya