Berita

Amran Sulaiman/Net

Kementan Bersinergi Tuntaskan Daerah Rentan Rawan Pangan

RABU, 24 JULI 2019 | 21:42 WIB | LAPORAN:

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi menekankan pentingnya kerja sama antar lembaga dan kementerian terkait dalam rangka penuntasan daerah rentan rawan pangan.

Hal ini kata dia, bertujuan agar semua program yang dijalankan secara sinergi mampu mengentaskan kemiskinan, khususnya mengurangi stanting pada ibu hamil.

"Tentu ini ada kaitanya dengan asupan pangan. Makanya kita libatkan juga dari berbagai unsur, termasuk Kementerian Kesehatan," kata Agung dalam acara Fokus Grup Diskusi (FGD) di Hotel Bidakara Grand Pancoran, Jakarta, Rabu (24/7).


Hal ini dilakukan melalui kerja sama dengan membangun infrastruktur secara masif, mengintensifkan peta ketahanan dan kerentanan pangan atau food security and vulnerability atlas (SFVA) serta menjalankan program Obor Pangan Lestari (OPAL).

"Program Opal dibuat untuk menjaga ketahanan pangan nasional dengan pemanfaatan lahan pekarangan. Dalam hal ini kita harus melakukan sinergi pembebasan daerah rawan pangan," jelasnya.

Menurut Agung, program Opal merupakan satu diantara program pengentasan kemiskinan yang sudah berjalan secara nasional baik di tingkat kota maupun kabupaten yang sangat rentan rawan pangan. Utamanya di wilayah Indonesia bagian Timur yang memiliki kendala pengairan.

Menurut Agung, hasil pemetaan Kementan pada kasus kerentanan rawan pangan ini diantaranya terjadi di daerah Sigi, Sulawesi Tengah. Di sana, kasus yang ditemukan bahkan sampai masuk kategori level kronis.

"Makanya kapasitas produksi pangan harus kita tingkatkan untuk mencukupi permintaan konsumsi. Tapi sudah kita inisiasi dengan program Obor Pangan Lestari seperti membangun koperasi usaha tani dan Kawasan Rumah Pangan Lestari. Semua ini menjadi upaya kita untuk meningkatkan ketersediaan pangan," katanya.

Dengan ini, Direktur Jenderal Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kirana Pritasari juga mendukung upaya Kementerian Pertanian dalam membangun penanganan kerentanan rawan pangan melalui program Opal.

"Menurut saya program ini juga ada kaitanya dengan penanganan stunting. Tentu kami sangat menyambut baik kerja sama ini untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, termasuk pentingnya ketahanan pangan di tingkat keluarga," katanya.

Menurut dia, penanganan stunting yang berkaitan dengan asupan pangan sangatlah penting untuk menghindari kondisi kronis, seperti penurunan tinggi badan dan penyusutan kesehatan dari rata-rata anak seusianya.

"Ini akan menjadi masalah besar bagi bangsa kita kalau kemudian generasi ini terus menjadi sumber daya manusia yang akhirnya tidak kompetitif tidak produktif dan nanti secara ekonomi akan mempengaruhi pembangunan bangsa kita," katanya.

Dari akademisi, Rektor Universitas Yarsi, Prof. Fasli Jalal juga mendukung langkah kongkrit Kementan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program Opal. Kata dia, program tersebut sudah mencakup program teknis lainya pada bidang ketahanan pangan.

"Terus terang ini sinergi yang luar biasa karena dari semua sisi sudah tersentuh, termasuk dari sisi makro yang biasanya tergantung pada kondisi lokal. Nah harapan kita, selain dari jaminan makro ini dengan dua instrumen keberdayaan masyarakat bahwa mereka sendiri yang mencukupi dulu di tingkat mereka," tukasnya.

Sekedar informasi, sinergi Fokus Grup Diskusi ini juga dihadiri Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), Kemendesa PDT Transmigrasi, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial Bappenas dan Lemhanas. Dalam paparnya, masing-masing perwakilan mendukung semua upaya penanganan rentan pangan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya