Berita

Ilustrasi

Jaya Suprana

Kemelut Hong Kong

MINGGU, 21 JULI 2019 | 08:29 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAYA tidak hidup di Hong Kong maka tidak secara langsung dapat mengikuti perkembangan politik di Hong Kong. Maka saya tidak berani memberi komentar tentang kemelut yang sedang terjadi di Hong Kong.

Sinofobia

Namun dari apa yang saya dengar para warga Hong Kong yang pindah ke luar negeri   menjelang berakhirnya masa sewa Inggris terhadap Hong Kong 1997 serta apa yang saya dengar dari sanak-keluarga saya yang kebetulan berdomisili di Hong Kong, saya memberanikan diri mengambil kesimpulan.


Cukup banyak warga Hong Kong secara psikososiopolitis menderita Sinofobia. Ironisnya, alasan Sinophobia justru berasal dari pengalaman positif yang dialami warga Hong Kong pada masa di bawah kekuasaan kolonialis Inggris yang berlanjut sampai batas akhir masa sewa Hong Kong oleh Inggris 1 Juli 1997.

Pada hakikatnya para warga Hong Kong kuatir mereka tidak bisa menikmati hidup di bawah kekuasaan pemerintah Republik Rakyat China senikmat seperti pada masa di bawah kekuasaan pemerintah kerajaan Inggris.

Maka mereka yang Anglofiliak (cinta serba Inggris) memilih migrasi ke wilayah negara-negara perkesemakuran Britania Raya terutama Vancouver, Kanada yang sama-sama berada di kawasan samudra Pasifik di kawasan iklim mirip Hong Kong.

Revolusi Kebudayaan

Namun ada pula yang menderita Sinofobia kaliber parbang (parah banget) akibat trauma pengalaman terpaksa menyelamatkan diri ke Hong Kong pada masa Revolusi Kebudayaan sedang melanda daratan China.

Secara pribadi jiwa-raga mereka mengalami sendiri angkara murka kebengisan  Laskar Kebudayaan China. Seorang sanak-keluarga saya yang pada masa remaja ikut hwe-kuok  alias pulang ke Tanah Leluhur  dari Indonesia ke China secara pribadi mengalami sendiri betapa kejam para pejuang Revolusi Kebudayaan China.

Sebagai seorang pianis sangat berbakat, beliau terpaksa tak berdaya melawan angkara murka para Laskar Kebudayaan China yang tega menghancurkan ke dua belah tangan beserta seluruh jari-jemarinya dengan menggunakan hantaman laras bedil.

Dengan kondisi kedua tangan beserta jari-jemarinya lumpuh akibat kekejaman Laskar Kebudayaan China, beliau melarikan diri dari Beijing ke Hong Kong.

Bukan akibat cinta Hong Kong, namun karena sudah tidak tahan hidup di Beijing.

Penyeberangan ke pulau Hong Kong dilakukan dengan bersembunyi sebagai penumpang gelap di bagasi sebuah bus.

Sebagai sesama pianis , sepenuhnya saya dapat memahfumi betapa berat derita yang harus dipikul oleh sanak-keluarga saya tersebut.

Mohon dimaafkan saya tidak bisa menyebut nama beliau yang kini masih bermukim di Hong Kong demi mencegah dampak tak diinginkan terjadi pada beliau.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya