Berita

Joko Widodo berpidato visi Indonesia/Repro

Politik

Pidato Jokowi Menghibur Tapi Tak Visioner

SELASA, 16 JULI 2019 | 06:25 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Presiden terpilih, Joko Widodo baru saja melakukan pidato politik bertema Visi Indonesia pasca pertemuannya dengan Prabowo Subianto kemarin. Namun demikian, pidato yang berisikan visi pemerintahan Jokowi dalam lima tahun ke depan dinilai normatif dan sekadar menghibur para pendukungnya.

Pengamat sosial politik dari UNJ, Ubedilah Badrun berpandangan, Pidato Jokowi sekilas menarik lantaran sang Presiden keluar dari kebiasaannya, yakni bepidato tanpa teks.

Akan tetapi, substansi visi yang dibawakan Jokowi menjadi tak tersampaikan meski ditambah dengan pemilihan diksi yang menggebu-gebu.


"Secara substansial, visi yang dinarasikan dalam pidato Jokowi kurang visioner, terutama pada dua hal yang justru penting ditunggu-tunggu publik," kata Ubedilah dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin (15/7).

Pertama soal judul. Dikatakan Ubedilah, judul Visi Indonesia yang dipiih Jokowi secara umum tidak menggambarkan visi yang kuat tentang pengertian visi itu sendiri. Sebab visi adalah bicara tentang masa depan Indonesia selama masa kepemimpinanya lima tahun ke depan.

"Terutama misalnya Jokowi tidak bicara visi ekonomi lima tahun ke depan itu ekonomi Indonesia akan seperti apa, hanya terucap kita akan bekerja keras, bangun infra struktur, dan membuka investasi sebesar-besarnya. Itu bukan visi, tapi cara mencapai visi," lanjutnya.

Padahal, sambungnya, publik Indonesia dan dunia internasional berharap kejelasan visi ekonomi periode kedua ini, misalnya posisi ekonomi Indonesia lima tahun ke depan di tengah dinamika perang dagang Amerika dan China, seperti apa wajah ekonomi lima tahun ke depan di tengah surplus demografi, dan target angka pertumbuhan ekonomi lima tahun ke depan.

"Soal ini masih abstrak. Tidak terlihat dengan jelas," lanjut Ubedilah.

Kedua, Jokowi sama sekali tidak bicara Visi kemanusiaan Indonesia. Padahal problem hak asasi manusia di Indonesia saat ini sedang menjadi sorotan dunia internasional.

"Selama lima tahun periode pertama nyaris tidak ada satupun kasus hak asasi manusia yang tertangani dengan baik. Alih-alih menangani kasus HAM lama, justru hadir kasus HAM baru di periode pertama yang akan jadi beban pemerintah lima tahun ke depan, seperti penangkapan aktivis dan penembakan dengan peluru tajam peristiwa 22-23 Mei 2019 di Jakarta," tegas Ubedilah.

Visi kemanusiaan ini harusnya dibingkai dalam konteks visi demokrasi. Namun celakanya, kata dia, visi demokrasi tidak dinarasikan dalam pidato tersebut.

"Jika visi demokrasi dan hak asasi manusia Indonesia selama lima tahun ke depan tidak jelas, saya kira ini akan menjadi salah satu beban berat pemerintahan Jokowi selama lima tahun ke depan selain soal ekonomi yang tak tentu arah," tutup Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies(Cespels) ini.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah jadi 53 Orang, 135 Warga Luka-Luka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:27

Rusak Berat Diguncang Gempa, Hotel Jayakarta Suites Komodo Flores Tutup Sementara

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:43

SBY Minta Maaf

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:15

Tembus Jalur Laut, Bantuan Gempa M 7,7 Disalurkan ke Pulau Palue Sikka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:47

Polri Terbangkan 10 Anjing K9 untuk Cari Korban Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:12

3,4 Ton Logistik untuk NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:50

Reza Aulia Diberhentikan, Kursi Direktur Niaga Garuda Kosong

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:40

Kemendikdasmen Jangan Lamban Merespons Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:04

Retorika Janji Kemerdekaan

Minggu, 16 Agustus 2026 | 16:35

Jalur Alternatif Darat Penghubung Ende-Nagekeo Masih Terputus

Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:33

Selengkapnya