Berita

Jaya Suprana

Jaya Suprana

Kemanusiaan Versus Pragmatisme

SELASA, 09 JULI 2019 | 07:40 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DALAM diskursus tentang  penggusuran rakyat atas nama pembangunan kerap muncul anggapan bahwa kemanusiaan merupakan penghambat pembangunan.

Para pendukung penggusuran menegaskan bahwa rakyat miskin adalah sampah masyarakat yang wajib digusur demi pembangunan menuju masa depan yang lebih baik meski tidak jelas lebih baik bagi siapa.

Pada hakikatnya mereka yang tidak setuju penggusuran rakyat  harus rela terstigma anti pembangunan serta gagal paham makna  pragmatisme.


Bermanfaat Secara Pragmatis

Pragmatisme berasal dari kata Yunani: pragmatikos yang berarti cakap dalam bidang praktek. Pragmatisme  adalah aliran filsafat dipelopori William James dan John Dewey yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat kepada fakta akibat-akibat atau hasil yang bermanfaat secara praktis.

Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan terhadap individu-individu.

Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain.

Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja.  Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum.

Suatu gagasan  menjadi benar ketika memiliki fungsi manfaat . Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisikal sebagaimana yang dilakukan para pemikir kemanusiaan.

Fungsi

Teori  klasik tentang kebenaran mengenal dua posisi yang berbeda, yakni  teori korespondensi dan teori koherensi.

Teori korespondensi menekankan persesuaian antara si pengamat dengan apa yang diamati sehingga kebenaran yang ditemukan adalah kebenaran empiris,   sedangkan teori koherensi menekankan pada peneguhan terhadap ide-ide a priori atau kebenaran logis, yakni jika proposisi-proposisi yang diajukan koheren satu sama lain.

Selain itu, dikenal lagi satu posisi lain yang berbeda dengan dua posisi sebelumnya, yakni teori pragmatis.  Teori pragmatis menegaskan bahwa “apa yang benar adalah apa yang berfungsi “.

Semisal sebuah mobil dengan segala kerumitan mesin yang membuatnya bekerja. Namun yang sesungguhnya menjadi dasar manfaat nyata adalah jika mobil itu terbukti dapat bekerja atau berfungsi dengan baik.

Manusia

Pragmatisme terkesan meyakinkan. Namun contoh dengan permisalan mobil an sich  terasa kurang senonoh  sebab mobil bukan manusia.

Mobil tidak punya nyawa, tidak punya perasaan, tidak perlu cari nafkah sebab tidak punya kebutuhan sandang-pangan-papan untuk diri sendiri dan keluarga seperti rakyat miskin yang seyogianya kurang layak digusar-gusur atas nama pembangunan atau apa pun alasannya.

Namun penderitaan rakyat tergusur memang hanya bisa nyata dirasakan oleh mereka yang tergusur seperti Joko Widodo di masa kanak-kanak. Terkesan bahwa kemanusiaan lebih merupakan impian seorang pemimpi ketimbang keyakinan seorang penggusur yang realistis konsekuen menganut paham pragmatisme maka lebih mengedepankan das Sein ketimbang das Sollen.

Kemanusiaan

Bagi seorang penganut paham pragmatisme sejati, Pancasila mengandung nilai-nilai yang manfaatnya tidak langsung sertamerta terasa. Apa yang disebut sebagai nilai memang lebih abstrak ketimbang kenyataan yang bisa diukur alias accountable dalam praktek neraca rugi-laba.

Maka Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Indonesia rawan dianggap utopis akibat lebih merupakan das Sollen alias cita-cita ketimbang das Sein alias kenyataan.

Para kaum pragmatis tanpa ragu siap mengorbankan kepentingan rakyat miskin demi pembangunan infra struktur yang seharusnya bukan menyengsarakan namun menyejahterakan rakyat!

Kaum pragmatis tanpa berkedip siap mengorbankan The Small Picture demi The Big Picture!

Tujuan menghalalkan proses!

Pragmatisme jelas kurang selaras dengan semangat kerakyatan Jenderal Besar Soedirman yang senantiasa wanti-wanti berpesan ke para prajurit Tentara Nasional Indonesia untuk selalu siap mengorbankan diri sendiri masing masing namun jangan sekali-kali tega mengorbankan rakyat dalam perjuangan melawan kaum penjajah yang memang tidak merelakan Indonesia merdeka. (F)

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya