Berita

Joko Widodo dan Prabowo Subianto berjabat tangan/Net

Politik

Oposisi Atau Rekonsiliasi

SENIN, 08 JULI 2019 | 19:13 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PEMUDA Pekalongan bernama Wahono bunuh diri. Dia minum air sabun dan gantung diri. Karena putus cinta. Kalah saingan. Emosi. Frustasi. Marah.

WHO memperkirakan ada 1 kasus bunuh diri setiap 40 detik. Mereka membuat keputusan dengan emosi ngga stabil. Makanya ada proverb; "Don't make decisions when you're angry".

Brian Lee, seorang manager product Lifehack mengatakan, "These days, being too angry is a complete waste of energy".


Terlebih di arena political struggle. Setelah 350 tahun, Belanda ditekuk Jepang hanya dalam perang 1 minggu. Terkaing-kaing, ngibrit dan keluar dari Nusantara.

Aktifis kemerdekaan pecah dua kubu. Sukarno-Hatta milih metode "Koperatif". Sedangkan Sjarir dan Amir Sjarifoeddin memutuskan terus merilis perlawanan terhadap fasis Jepang. Lewat jalur underground.

Pastinya, para pengikut hard-liner Golongan Non-Koperatif Musso, Sjahrir, Amir Sjarifoeddin rame mengecam dan hujat-hujat Sukarno-Hatta.

Amir Sjarifoeddin dikenal dekat dengan Musso (PKI) sejak tahun 1935. Dia mendirikan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang bersifat koperatif Belanda melawan Fasisme.

Jepang menggulung aktifitas perlawanan. Amir Sjarifoeddin ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Kabar vonis tersebut sampai ke telinga Sukarno-Hatta. Lalu mereka mengintervensi sehingga hukuman mati diubah menjadi hukuman seumur hidup dan dibebaskan setelah Indonesia merdeka.

Entah apa jadinya bila saat Jepang masuk, Sukarno-Hatta berpikir dengan emosi dan baper. "You can’t control your emotions, but you can control your response," kata Penulis John Weirick.

Oposisi dan rekonsiliasi jadi tema sentral pasca Putusan MK yang menangkan Paslon Jokowi-Makruf.

Di medsos, rame seruan-seruan oposisi. Di jalanan sepi-sepi saja. Fadli Zon mengatakan grassroot punya logikanya sendiri. Survei Andre Rosiade menghasilkan data 60% pendukung Prabowo-Sandi terima putusan MK.

Teori politik mengharuskan sebuah partai bisa mengambil posisi oposisi bila next periode ingin menjadikan ketua umumnya sebagai Capres di next periode.

Hendarsam Marantoko, lawyer yang sangat berperan mengeluarkan Eggi Sujana dari penjara Polda, mengatakan "Ada gerakan kader dan simpatisan dari 'mantan' yang mendeskreditkan Partai Gerindra dan Pak Prabowo terkait isu rekonsiliasi supaya rencana masuk kabinet yang sudah mereka jalankan setelah quick count dapat berjalan soft landing".

Hendarsam Marantoko yang juga kader Partai Gerindra menutup kultwitnya dengan "Cieee..."

Saya ngga tau partai apa yang dia maksud. Tapi jelas ada intrik. Artinya, partai ini berusaha mencegah Gerindra masuk kabinet dengan berbagai modus provokasi dan ancam mengancam. Karena bila Gerindra menerima ajakan Jokowi masuk pemerintahan, itu sama saja mengurangi jatah partai tersebut.

Oposisi atau rekonsiliasi harus diputuskan dengan kepala dingin. Jangan emosi. Jangan takut intimidasi. Jangan pake marah. Lima tahun lagi, petanya berbeda.

Saya lebih memilih sikap tegak lurus bersama Pak Prabowo-Sandi. Loyalty is Royalty. Apa pun yang mereka putuskan nanti, saya akan dukung penuh. Karena saya yakin mereka lebih tau yang terbaik untuk negeri ini.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya