Berita

Foto: RMOL

Publika

Jangan Bunuh Demokrasi

KAMIS, 04 JULI 2019 | 14:54 WIB

SEJAK awal KPU mengumumkan "kemenangan" pasangan Jokowi Maruf, dilakukan pendekatan dengan menawarkan jabatan kepada kubu koalisi Prabowo Sandi.

Setelah MK menolak permohonan gugatan maka isu tawaran ini semakin gencar. Kubu Prabowo Sandi pun nampak ada yang goyah. Statemen pimpinan atau kader mengindikasi kegoyahan tersebut.

Pembubaran koalisi Prabowo Sandi menguatkan sinyalemen bebasnya masing masing partai melangkah demi kepentingan partainya dan menimbang tawaran jabatan untuk bergabung tersebut.


Jika sebagian besar, apalagi seluruhnya, partai koalisi Prabowo Sandi masuk dalam kabinet Jokowi Ma'ruf maka terancamlah demokrasi di negeri ini.

Dua bahaya terhadap demokrasi pertama, pemerintahan otokrasi atau oligarki yakni, kekuasaan berada di satu atau sekelompok orang di mana masyarakat atau rakyat terkooptasi dan hanya berkedudukan sebagai penerima alokasi kekuasaan. Partisipasi relatif tidak ada.

Kedua, hilangnya oposisi atau penyeimbang kekuasaan. Semua elemen berkumpul mengitari penguasa, termasuk kekuatan parlemen. Dalam posisi ini rakyat kehilangan saluran politik. Aspirasi benar-benar tersumbat.
 
Keterlibatan semua partai di kabinet menjadikan partai politik sekedar alat kepentingan pemerintah.

Ini artinya terjadi disfungsi kepartaian dalam sistem politik. Iklim politik menjadi tidak sehat. Rakyat akan bergerak mencari saluran politik sendiri.

Partai politik bukan sekedar diabaikan tetapi juga dikesampingkan bahkan dijadikan musuh publik. Kepercayaan akan hilang. Jangan harap pemilu dapat suara signifikan.

Apalagi jika ternyata pemerintahan yang didukung ternyata gagal menjalankan roda amanatnya. Akhirnya demokrasi hanya diwujudkan rakyat dengan satu mekanisme yaitu demonstrasi.

Sebaiknya partai partai koalisi Prabowo Sandi tetap berada di luar pemerintahan untuk menjamin berjalannya roda demokrasi.

Biarlah kini "kalah", apalagi diyakini kekalahan atas dasar kecurangan, namun dengan sikap kritis pro rakyat, maka pada Pemilu ke depan justru partai partai ini akan mendapat kepercayaan dan mandat rakyat.

Sebaliknya jika saat ini hanya karena satu dua jabatan Menteri lalu tidak bisa lagi kritis pada Pemerintah, maka dipastikan berat nantinya untuk mendongkrak suara rakyat.

Belum lagi karena dianggap oleh rezim sebagai partai "tak berkeringat" maka tempatnya tak mungkin berada pada posisi sentral. Hanya pinggiran saja. Menteri "abal abal" diberikan dan inilah kiprah yang percuma.

Jika partai koalisi Jokowi Ma'ruf menjadi kekuatan yang mendukung otoritarian atau tidak lagi merakyat, maka itu sama saja bahwa partai-partai ini telah menjadi "pembunuh demokrasi".

Sementara jika partai koalisi Prabowo Sandi kemudian ikut dalam pemerintahan rezim Jokowi Ma'ruf yang otoriter itu maka posisinya adalah "bunuh diri demokrasi".

Keduanya sama sama melakukan hal yang sama yaitu  "kejahatan demokrasi".



M. Rizal Fadillah
Pemerhati Politik  

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Korporasi Biang Kerok Karhutla Harus Dihukum Maksimal

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:32

Partisipasi Industri Lokal Menguat, 101 Calon Mitra PSEL Denera Lolos Seleksi

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:31

IHSG Rontok 1,29 Persen, Rupiah Cerah ke Rp18.112 per Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:27

Bahlil Curiga Singapura Jual Lagi Pasokan Gas RI ke Luar Negeri

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:12

Harga Emas Antam Turun Lagi, Beli Sekarang?

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:01

Andrea Bocelli Harus Cabut Dukungan ke Israel jika Ingin Konser di Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:43

Pemerintah Jangan Tutup Mata atas Nasib PMI di Malaysia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:25

Indonesia dan Singapura Harus Kompak Bongkar Jejak Korporasi Karhutla

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:14

Kopdes Jangan Malah Jadi Pesaing UMKM

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:05

Jakarta Tak Kalah dari Singapura Gelar Konser Dunia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 07:40

Selengkapnya