Berita

Woodhenge Jerman/Net

Jaya Suprana

Woodhenge Jerman

SELASA, 02 JULI 2019 | 08:17 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MONUMEN Stonehenge dan sejenisnya di Inggris telah tersohor sebagai situs yang digunakan oleh masyarakat masa Neolitikum-Akhir untuk menandai peristiwa-peristiwa astronomi, merayakan berlalunya musim serta mengubur para almarhum mereka.

Poemmelte

Ternyata 4300 tahun yang lalu, manusia telah melakukan ritual serupa Stonehenge di Poemmelte yang kini berada di dalam wilayah Jerman.


Situs Poemmelte berbentuk lingkaran gundukan tanah, parit, dan deretan tiang kayu yang berada di sebuah kawasan barat daya Berlin. Mengingat usia situs itu dibangun di sekitar waktu yang sama dengan Stonehenge, beberapa peneliti menyatakan bahwa Poemmelte bisa terkait dengan monumen terkenal di kepulauan Inggris serta situs-situs serupa yang tersebar di seluruh daratan Eropa.

Sejak tahun 1980-an, arkeolog dan pakar Stonehenge, Timothy Darvill dari Bournemouth University telah menyatakan hadirnya monumen seremonial kuno di daratan Eropa utara yang beberapa di antaranya bahkan lebih tua dari Stonehenge

Woodhenge


Dari tahun 2005 hingga 2008, penggalian dipimpin oleh arkeolog André Spatzier dari Kantor Negara untuk Warisan Budaya di Baden-Württemberg, Jerman, dan François Bertemes di Martin Luther University di Halle-Wittenberg, Jerman, menemukan sekumpulan lubang dan lubang tiang di mana pagar atau tiang terbuat dari kayu, sehingga situs itu dijuluki sebagai Woodhenge.

Dalam studi terbaru, peneliti menganalisis item yang tersimpan di dalam lubangnya selama era Poemmelte sekitar 300 tahun, yang terjadi pada masa transisi antara zaman Neolitikum Akhir dan Perunggu Awal.

Pada fase paling dini, deteksi radiokarbon menunjukkan masa sekitar 2300 SM, lubang-lubang itu dipenuhi dengan potongan-potongan yang telah rusak dari bejana minuman berbahan keramik seperti gelas, kendi dan cangkir, kapak batu, batu penggilingan, dan tulang hewan. Ukuran mereka menunjukkan bahwa semuanya dihancurkan secara ritual sebelum dibuang ke dalam lubang.

Ritual Pengorbanan

Ada juga temuan dari periode tersebut berupa potongan-potongan mayat 10 anak-anak dan perempuan. Empat di antaranya menyandang kerusakan tengkorak yang parah dan patah tulang rusuk tepat sebelum saat kematian mereka.

Dibandingkan dengan penguburan beberapa pria yang diatur dengan hati-hati di salah satu cincin tanah Poemmelte, para wanita dan anak-anak dilemparkan secara sembarangan ke dalam lubang.

Alasan kematian mereka tetap menjadi misteri, namun ritual pengorbanan merupakan kemungkinan penjelasan. Sisanya, dikubur dengan cara yang sama termasuk sejumlah batu giling, batu gerinda, dan tulang binatang, berikut dengan segenggam tulang manusia tanpa tubuh.

Ini menandakan pada tradisi penggunaan yang berkelanjutan turun menurun.

Kelirumologi


Hasil penelitian terhadap situs “Woodhenge Jerman” di Poemmelte membuktikan bahwa apa yang disebut sebagai ilmu sejarah apalagi arkeologi tidak statis mandeg di tempat namun berkelanjutan dinamis berkembang sambil mengoreksi diri sendiri.

Arkeologi merupakan satu di antara sekian banyak bukti bahwa apa yang disebut sebagai ilmu sekadar sebuah buatan manusia yang mustahil sempurna. Namun kesadaran atas ketidak-sempurnaan justru merupakan suatu daya yang seyogianya secara kelirumologis terus-menerus digunakan untuk melakukan penyempurnaan diri alias lestari mengoreksi diri sendiri tanpa henti demi gigih berkelanjutan berupaya mendekati kesempurnaan.

Kelirumologi merupakan enerji penggerak mekanisme peradaban. Jika manusia berhenti mengoreksi kekeliruan yang pasti mereka lakukan akibat ketidak-sempurnaan mereka, maka peradaban akan mandeg alias statis berhenti di tempat.

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya