Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Masjidpreneur

SABTU, 29 JUNI 2019 | 06:55 WIB | OLEH: JOKO INTARTO

DUA orang ini tinggal berdekatan. Tapi tak saling kenal. Sampai suatu hari saya mempertemukan keduanya. Dua pekan lalu.

Zendy yang pengusaha property di Bekasi itu merasa galau. Sebagai ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) ia ingin mencarikan pekerjaan bagi warga miskin di sekitar masjid yang berstatus janda dan miskin.

Masjid punya uang. Dari infak para jamaah. Tapi pekerjaan untuk warga tak kunjung ketemu.


Memang tak mudah menemukan jenis pekerjaan itu. Karena keterbatasan skill, usia dan pendidikan mereka. "Ada ide?" tanya Zendi lewat whatsapp, menjelang tengah malam.

Saya tidak segera menjawab. Otak saya berpikir keras. Pekerjaan yang cocok untuk mereka adalah: harus mudah dikerjakan, harus ada yang menyediakan modal kerjanya, harus cepat perputaran uangnya dan harus terjamin pembelinya.

Aha! Akhirnya ketemu. Saya harus merekomendasikan nama pengusaha ini: Anang Sudjana. Raja industri boneka nasional yang pabriknya ada di Narogong, Bekasi Selatan.

Pikiran saya melayang pada pertemuan empat tahun lalu di pabriknya. Saat itu, Anang sedang merencanakan membuat buku praktis: Cara Menjahit Boneka Flanel. Buku itu akan dibagikan gratis kepada komunitas di Bekasi yang tertarik dengan jasa menjahit boneka.

Dengan bantuan buku, masyarakat akan paham cara menjahit boneka flanel. Setelah bisa, Anang akan merekrut mereka menjadi tenaga penjahit boneka. Menggunakan bahan yang sudah dipotong menjadi pola. Hasil produksinya dibeli Anang untuk memenuhi order pembelinya dari seluruh Indonesia.

Konsep produksi boneka di perusahaan Anang memang unik. Wakau punya pabrik, Anang tidak punya karyawan. Yang bekerja di pabrik adalah mitra usaha. Mereka umumnya warga sekitar yang telah lulus pelatihan menjahit boneka flanel.

Setiap pagi warga mengambil bahan kain flanel yang sudah dipotong sesuai pola. Bahan-bahan itu kemudian dijahit menjadi boneka. Sore hari hasil produksinya disetorkan ke Anang. Setelah lolos quality control, Anang membayar jerih payah mereka. Cash. Lunas.

Ada 300 komunitas yang kini bekerjasama dengan Anang. Umumnya komunitas ibu-ibu dan remaja putus sekolah.

Zendy senang bukan kepalang saat saya beri informasi soal model bisnis Anang itu. "Saya harus ketemu dia. Masjid siap memodali jamaah melalui infak produktif," katanya.

Tiba-tiba keesokan paginya, Zendy sudah laporan. "Pak Anang sudah saya kirimi pesan pendek minta waktu ketemu. Beliau sudah siap," terang Zendy.

Pertemuan perdana itu akhirnya berlangsung keesokan harinya. Lokasinya di pabrik boneka di kawasan Narogong. "Kami sepakat bekerjasama. Pak Anang yang siapkan bahan baku dan masjid menyediakan modal kerja untuk membeli mesin jahit," papar Zendy dengan sumringah.

Hari-hari selanjutnya, saya tidak memonitor lagi. Terlewati dengan kesibukan berbagai urusan lain.

Jumat malam, saya ikuti diskusi di grup Whatsapp yang saya admini. Seorang member grup melempar isu bagaimana cara membantu orang miskin dengan program ekonomi.

Di sela-sela rapat kerja Lazismu PP Muhammadiyah di Hotel Burza Jogjakarta, saya pun ikut nimbrung. "Satu dua hari lagi akan saya ceritakan bagaimana pengalaman saya mempertemukan pengusaha boneka dengan komunitas jamaah masjid yang akan saling bekerjasama dengan modal bank infak milik jamaah masjid," kata saya.

Jamaah masjid memang sangat berpotensi untuk mendirikan bank infak. Bank infak menerima dana infak dari jamaah dan menyalurkan dana itu kepada siapa saja yang perlu bantuan. Khususnya untuk membangun bisnis.

Ada banyak peluang usaha yang bisa dikelola dari masjid. Bila punya aula serbaguna, masjid bisa memanfaatkan untuk jasa perkawinan atau pertemuan warga. Bisnis turunannya banyak. Mulai jasa dekorasi, rias, catering hingga paket sewa mobil.

Masjid juga bisa membangun layanan lain seperti jasa akikah, jasa pendidikan dan jasa kesehatan. Semua bisa dimulai dengan modal dari bank infak.

Menurut Dewan Masjid Indonesia, ada 800 ribu masjid di seluruh Indonesia. Bila semua masjid punya bank infak dan bisa menghasilkan 10 bidang usaha, alangkah banyak orang-orang miskin yang bisa dibantu. Yang menganggur bisa bekerja. Yang kekurangan bisa lebih sejahtera.

Delapan ratus ribu masjid adalah jumlah yang sangat besar. Semua akan dimulai dari satu masjid. Sebagai model. Bila berhasil satu, kloning ke masjid berapa pun, hanya masalah waktu.

Penulis adalah seorang jurnalis.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya