Berita

Bendera Palestina/Net

Publika

Muslihat Di Balik Kesepakatan Abad Ini

JUMAT, 28 JUNI 2019 | 02:23 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

DI tengah penolakan Palestina dan dunia Arab, konferensi ekonomi yang diberi nama:  "Peace for Prosperity" (Perdamaian untuk Kesejahteraan) dimulai di Manama yang menjadi ibukota Bahrain pada Selasa (25/6)

Konferensi ekonomi yang akan berlangsung selama dua hari ini, merupakan bagian dari proposal "Kesepakatan Abad Ini" (Deal of the Century) yang juga meliputi solusi politik antara Palestina dan Israel. Sampai saat ini bagaimana formula politik yang ditawarkan masih dirahasiakan. Meskipun demikian sudah bocor publik, disebabkan Palestina yang tentu saja sudah dilobi dan dibujuk menolaknya dengan tegas.

Menurut Penasihat Senior Gedung Putih Jared Kushner yang juga menantu Presiden Donald Trump, proposal baru ini ditawarkan untuk mengganti proposal sebelumnya yang dinilai mandeg dan mengalami kebuntuan. Proposal yang dipersiapkan Amerika dan Israel ini, sama sekali tidak menyinggung kemerdekaan Palestina, padahal kesepakatan antara Israel dan Palestina sebelumnya, secara tegas bermuara pada two state solution.


Kushner beralasan penyelesaian politik sulit dilakukan, sebelum masalah ekonomi Palestina terselesaikan. Sementara Presiden Mahmoud Abbas dan para petinggi Palestina melihat proposal yang menawarkan pembangunan fisik terutama infrastruktur, dan ekonomi yang diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat Palestina ini, merupakan perangkap sekaligus cara untuk membuat Palestina melupakan tuntutannya untuk merdeka.

"Palestina tidak akan menjual kemerdekaannya," demikianlah pernyataan berulangkali yang diungkapkan oleh sejumlah pejabat dari Ramallah.

Iming-iming ekonomi untuk mengalihkan tuntutan politik Inilah yang menjadi alasan, mengapa Palestina memboikot dengan cara tidak mengirimkan delegasi ke Manama.

Sejumlah negara Arab yang berpartisipasi seperti Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab mengirimkan delegasi setingkat menteri, sedangkan Mesir, Jordania, dan Maroko hanya mengirimkan delegasi di bawah mentri. Hal ini mengindikasikan kehati-hatian dari negara-negara Arab sahabat Amerika di Timur Tengah terhadap proposal kontroversial ini.

Indikasi lain adanya muslihat yang dibuat oleh Washington dan Tel Aviv, pada proposal yang kini mulai dibahas adalah pada pengelola dana yang dijanjikan untuk membangun ekonomi Palestina akan dipegang oleh Israel dan Amerika. Padahal sumber dana berasal dan akan dihimpun dari berbagai negara donor, termasuk negara-negara Arab kaya, dan lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF, serta para pengusaha dan investor swasta, dengan nilai total 50 miliar dollar.

Fakta ini memperkuat kecurigaan pihak Palestina yang telah muncul sebelumnya, sejak ditutupnya kantor perwakilan Palestina di Amerika, dikurangi dan diberhentikannya berbagai bantuan Amerika yang selama ini diberikan kepada pengungsi Palestina,  serta pengakuan Amerika atas klaim Yerusalem sebagai ibukota oleh Israel, dengan cara memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv  ke Yerusalem.

Di samping bantuan dana untuk Palestina, bantuan ekonomi dan keuangan juga dijanjikan kepada negara-negara Arab tetangga Israel dan Palestina, seperti Mesir, Jordania, dan Lebanon. Suriah satu-satunya negara Arab tetangga yang tidak termasuk mendapatkan paket bantuan ekonomi ini. Mengapa?

Dalam menyikapi masalah ini, Indonesia mengambil sikap tetap berpegang pada perjanjian damai sebelumnya yang ditandatangani oleh Israel dan Palestina, yang diakui secara luas oleh banyak negara dan lembaga internasional termasuk PBB. Perjanjian ini sudah berjalan dan diharapkan bermuara pada two state solution.

Sejak Benjamin Netanyahu dan partai Likud yang menjadi kendaraan politiknya mengendalikan Israel, perjanjian yang ditandatangani oleh Yaser Arafat mewakili Palestina dan Yitzhak Rabin mewakili Israel ini, secara sistematis dicampakkan.

Ketika Donald Trump menghuni Gedung Putih, langkah-langkah Netanyahu mendapatkan dukungan luar biasa dari Amerika. Pertanyaannya kemudian, apakah kalau Trump meninggalkan Gedung Putih sikap Amerika akan sama atau kembali pada sikap semula?

Pemilu Amerika yang akan menentukan nasib Trump  akan berlangsung tahun depan. Sementara itu kontroversi terkait dengan berbagai kebijakan yang diambilnya terus menjadi perdebatan di masyarakat Amerika, bukan saja terkait kebijakan luar negrinya, akan tetapi juga kebijakan dalam negri.

Karena itu sangat menarik untuk diikuti, bagaimana nasib proposal yang dibuatnya, dan bagaimana nasib bangsa Palestina yang mulai ditinggal sejumlah negara Arab.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya