Berita

Foto: Net

Bisnis

Kedaulatan Pangan Tak Kunjung Tiba

RABU, 26 JUNI 2019 | 08:44 WIB

Hingga kini, Indonesia dianggap tidak mau dan tidak mampu menghadapi para kartel dan mafia bisnis yang terus-terusan menggerogoti dan menguasai berbagai bidang kehidupan, terutama bidang pangan.

Pakar ekonomi lingkungan dan energi Universitas Parahyangan (Unpar) FX Husin menegaskan, pemerintah harus berani memberantas kartel dan mafia itu.

“Jika kartel dan mafia bisnis tidak dibasmi, ya akan terus-terusan mengalami defisit,” tutur FX Husin.


Ia pun menyarankan sejumlah langkah sangat penting agar segera dilakukan oleh pemerintah.

Pertama, selamatkan dulu kebutuhan dasar di sektor pangan dan  pertanian. Bisa dengan mempercepat pemberdayaan lahan yang ada untuk pertanian dan peternakan.

Contohnya, di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dikembangkan penanaman jagung untuk kebutuhan peternakan, sehingga diharapkan mengurangi impor makanan ternak.

"Di sana juga bisa dikembangkan peternakan seperti sapi, kambing, domba dan lain-lain, secara modern dengan sistem koperasi, sehingga pada saat tertentu tidak perlu lagi impor daging sapi dari India atau dari Negara lainnya, dengan sendirinya tidak mengeluarkan devisa untuk impor," urainya.

Kemudian, untuk daerah pesisir dikembangkan industri perikanan, seperti udang, karena nilai tambah udang yang tinggi dan pangsa pasar ekspor cukup besar.

“Memang budidaya udang cukup sulit, tapi dengan teknologi yang tersedia, kesulitan dapat diatasi,” ujarnya.

Husin mengingatkan, selama ini ada kekeliruan dalam memberikan bantuan kepada petani budidaya udang. Contoh, Pemerintah Daerah tertentu memberikan bantuan pembukaan lahan, seperti alat backhoe, bibit, pakan dan lain-lain, tetapi tidak diikuti dengan pengembangan teknologi.

Sehingga, begitu lahan tambak baru dibuka, maka panen pertama berhasil bagus dan menghasilkan bagi petani tambak. Panen kedua mulai menurun, dan pada panen ketiga mati semua karena kena penyakit. Akhirnya kolam untuk udang ditebar ikan mujair dan lain-lainnya yang menyebabkan nilai jual tambah kecil.

“Saran saya, sebaiknya pemerintah mendirikan Pusat Inkubator Udang dengan teknologi, sehingga petani tambak udang dapat melakukan pembelajaran dan menerapkan sistem teknologi yang mumpuni dan bisa mengatasi penyakit pada musim tertentu,” ujar FX Husin.

Selanjutnya, pemerintah bisa mengefektifkan kembali tambak-tambak udang yang terbengkalai, seperti lahan tambak udang eks Dipasena di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.

“Memang budidaya udang cukup sulit, tapi dengan teknology yang tersedia, kesulitan dapat diatasi,” ujarnya.

Kedua, pemerintah bisa segera menerapkan rencana Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia, untuk mengubah warna plat nomor kendaraan pribadi.

“Sehingga pada saat tertentu bila harga minyak dunia meningkat, maka pemerintah dapat mengurangi subsidi BBM dan tidak perlu dengan menaikkan harga BBM yang dapat menimbulkan gejolak sosial dan meningkatnya harga bahan pokok,” jelasnya.

Husin menekankan, penerapan pengurangan subsidi BBM harus dilakukan tepat guna dan mulai saat ini.

Ketiga, kebijakan pengadaan pangan seperti beras harus dimulai, sehingga pada saatnya bisa mencapai kedaulatan dan ketahan pangan. "Nanti tidak perlu impor," katanya.

Empat, dengan melakukan rehabilitasi lahan-lahan eks pertambangan dan lahan kritis, yang umumnya berada di luar Pulau Jawa. Bila selesai bertahap, segera ditanam tebu untuk pengurangan impor gula rafinasi dan penerapan Bio Ethanol untuk BBM pada kendaraan.

"Lambat laun lahan perkebunan tebu di Pulau Jawa direlokasi keluar Pulau Jawa pada lahan eks pertambangan yang telah direhabilitasi. Sehingga lahan di Pulau Jawa dapat dimanfaatkan untuk tanaman pangan," ujar Husin.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Bripda Nopandri Anggota Polres Katingan Ditemukan Wafat Usai Gerebek Bandar Narkoba

Sabtu, 04 Juli 2026 | 22:06

GreenBus Pertamina, Ajak Generasi Muda Belajar dari Kampung Hijau Cemara

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:46

Aipda Endang Karyana Gugur usai Tertabrak Tugas di Tol Joglo

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:39

Bank Mandiri Taspen Gelar Appreciation Night Bersama Media di Pantai Sanur

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:10

Kapolri Pimpin Sertijab Enam Kapolda dan PJU Mabes

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:34

Ulang Tahun, Dasco Ucapkan Selamat untuk Nadiem Makarim

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:08

Terus Ada, Ada Terus, BNI Hadirkan Ragam Promo Spesial 80 Tahun Pengabdian

Sabtu, 04 Juli 2026 | 19:44

Partai Demokrat Ajak Publik Terlibat Tentukan Logo HUT ke-25

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:52

Pertamina Buka Rekrutmen Internship bagi Fresh Graduate, Ini Jadwalnya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:25

KAI Group Angkut 258,99 Juta Penumpang di Semester I 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:57

Selengkapnya