Berita

Foto: Net

Publika

Kondisi Keuangan Negara Dan Manajemen Fiskal Memprihatinkan

JUMAT, 21 JUNI 2019 | 14:46 WIB

BELUM lama ini beredar “rumor” kas negara kosong, dan terjadi keterlambatan restitusi pajak kepada wajib pajak.

Apakah benar demikian? Bagaimana kondisi keuangan negara sebenarnya?

Kondisi keuangan negara dan fiskal (APBN) saat ini memang cukup memprihatinkan. Sampai dengan triwulan pertama 2019 (Q1-2019), penerimaan pajak jauh di bawah target APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) 2019. Penerimaan pajak dalam negeri (termasuk cukai) pada Q1-2019 hanya Rp 270,33 triliun.


Sedangkan penerimaan pajak perdagangan internasional yang terdiri dari bea masuk dan bea keluar tercatat Rp 9,62 triliun saja. Sehingga, total penerimaan pajak dan bea dan cukai pada Q1-2019 menjadi Rp 279,95 triliun.

Hanya 15,67 persen dari target APBN 2019. Sangat rendah dan sungguh memprihatinkan.

Dengan kinerja seperti ini, rasio penerimaan pajak terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) turun tajam. Rasio pajak (terhadap PDB) pada Q1-2019 hanya 7,4 persen saja. Rasio yang rendah ini sangat membebani ekonomi nasional.

Defisit APBN akan membesar. Utang negara juga akan membesar. Oleh karena itu, kondisi keuangan negara yang terpuruk ini sulit diharapkan dapat memberi stimulus pembangunan ekonomi.

Rasio pajak 7,4 persen ini sangat memprihatinkan karena merupakan salah satu rasio pajak terendah secara triwulanan, dengan tren yang terus menurun. Tahun 2008, rasio penerimaan pajak sempat mencapai 13,3 persen.

Tahun 2014 rasio pajak turun menjadi 11,36 persen. Tahun 2017 rasio pajak turun lagi menjadi 9,89 persen, atau sudah di bawah 10 persen.

Kenaikan harga minyak mentah dunia dan anjloknya kurs rupiah pada 2018 membuat rasio pajak 2018 meningkat sedikit menjadi 10,25 persen. Tetapi, pada Q1-2019 rasio pajak anjlok lagi menjadi hanya 7,40 persen saja.

Perhitungannya: Penerimaan pajak Rp 279,95 triliun dibagi PDB (nilai nominal) Rp 3.782,4 triliun, dikali 100 persen.

Kalau tidak ada perbaikan yang berarti untuk meningkatkan penerimaan pajak, bukan tidak mungkin terjadi krisis APBN dalam waktu dekat ini.

Artinya, defisit APBN akan mencapai 3 persen yang merupakan batas maksimum yang dibolehkan undang-undang, tetapi belanja negara dalam kondisi rendah, sehingga pemerintah tidak mempunyai daya untuk meningkatkan belanja dan ekonomi nasional.

Penerimaan negara yang rendah membuat pemerintah harus membatasi pengeluaran belanja negara. Sampai dengan Q1-2019, realisasi belanja negara mencapai 18,37 persen dari total anggaran belanja negara pada APBN 2019.

Persentase realisasi belanja negara ini lebih tinggi dari realisasi penerimaan negara (yang hanya sekitar 15,67 persen).

Dalam nilai nominal belanja negara mencapai Rp 452,06 triliun, sehingga mengakibatkan defisit pada APBN Q1-2019 sebesar Rp 101,97 triliun.

Realisasi defisit pada Q1-2019 ini cukup besar, mencapai 34,45 persen dari target defisit 2019 yang sebesar Rp 296 triliun.

Kalau dibandingkan PDB, defisit APBN Q1-2019 sudah mencapai 2,7 persen. Defisit ini jauh lebih besar dibandingkan target defisit 2019 yang sebesar 1,84 persen.

Oleh karena itu, pemerintah harus hati-hati. Kalau tren penerimaan dan belanja negara berjalan seperti ini, dipastikan defisit akan melebar mendekati 3 persen dari PDB.

Manajemen keuangan negara akhir-akhir ini juga sangat memprihatinkan. Kebijakan fiskal dan manajemen utang sekarang ini juga digunakan untuk intervensi kurs. Seyogyanya, utang negara hanya digunakan untuk membiayai defisit APBN. Tetapi, akhir-akhir ini, pemerintah dengan sengaja menarik utang yang jauh lebih besar dari realisasi defisit APBN.

Istilah dari Kementerian Keuangan adalah _pre-funding_ untuk defisit periode mendatang. Artinya, penarikan utang di muka. Istilah awamnya, ijon. Ini dilakukan Kementerian Keuangan pada Desember 2018 dengan _pre-funding_ sebesar 3 miliar dolar AS. Dan terjadi lagi pada Januari dan Februari 2019.

Defisit APBN Januari 2019 hanya Rp 45,77 triliun tetapi penarikan utang yang disebut pembiayaan anggaran mencapai Rp 122,53 triliun. Dan defisit APBN sampai dengan Februari 2019 hanya Rp 54,61 triliun tetapi penarikan utang mencapai Rp 197,56 triliun. Luar biasa besarnya penarikan utang di muka tersebut.

Sepertinya, tujuan utama penarikan utang lebih awal ini digunakan untuk intervensi kurs rupiah: menjaga kurs rupiah agar tidak terdepresiasi. Jadi, penguatan kurs rupiah akhir-akhir ini dapat dikatakan _artificial_, atau tidak riil. Bukan karena kekuatan fundamental ekonomi.

Manajemen keuangan negara seperti ini tidak gratis. Ada biayanya, bahkan cukup besar. Beban bunga pinjaman pemerintah akan meningkat. Untuk Q1-2019 beban bunga pada APBN mencapai Rp 70,58 triliun, atau 25,21 persen dari total penerimaan pajak dan bea dan cukai. Beban bunga ini tentunya sangat tinggi. Dan dapat menjadi faktor pemicu krisis APBN.


Anthony Budiawan

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

UPDATE

Gus Yaqut dan Jokowi, Siapa yang Benar?

Minggu, 01 Februari 2026 | 04:09

Ketika Eropa Abad ke-18 Begitu Jorok, Terbelakang, dan Menjijikkan

Minggu, 01 Februari 2026 | 04:05

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

Mantan Ketua LMND Muhammad Asrul Gabung PSI

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:12

Kentungan Oranye Anies

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:01

Pemain Saham Gorengan Bakal Disikat

Minggu, 01 Februari 2026 | 02:27

MUI: Board of Peace Neokolonialisme Gaya Baru

Minggu, 01 Februari 2026 | 02:17

Jokowi Hadiri Rakernas PSI, tapi Tak Sanggup ke Pengadilan, Warganet: Penyakit Kok Pilih-pilih

Minggu, 01 Februari 2026 | 02:01

Prabowo Pede Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat di Tengah Gejolak Pasar Modal

Minggu, 01 Februari 2026 | 01:15

Pengangkatan 32 Ribu Pegawai Inti SPPG Jadi PPPK Picu Kecemburuan

Minggu, 01 Februari 2026 | 01:06

Selengkapnya