Berita

Sri Mulyani/Net

Hukum

SKANDAL BLBI

Sri Mulyani Punya Jejak Hitam Obral Aset BDNI

SELASA, 11 JUNI 2019 | 12:20 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Penuntasan kasus surat keterangan lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI) tidak boleh berhenti pada penetapan tersangka pasangan suami istri, Sjamsul Nursalim dan Itjih Nursalim selaku pengendali Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). KPK harus mengulik aktor-aktor lain yang turut merugikan negara di kasus ini.

Analis Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Tri Wibowo Santoso menyebut nama Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai pihak yang turut memiliki jejak hitam dalam kasus SKL BLBI.

“Pada tahun 2007 yang bersangkutan telah merugikan negara hingga Rp 4,58 triliun, karena mengobral murah aset BDNI,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Selasa (11/6).


Bowo kemudian merangkum kesaksian mantan Menteri Ekuin Rizal Ramli di Pengadilan Tipikor pada 6 Juli tahun lalu. Dia menguraikan sejumlah fakta mengenai skandal obral murah aset pengemplang BLBI.

“Diungkapkan RR bahwa pada tahun 2007 Menteri Keuangan Sri Mulyani menjual aset BDNI hanya seharga Rp 220 miliar, padahal nilai aset tersebut Rp 4,8 triliun,” katanya.

Pernyataan RR itu, kata Bowo, senada dengan mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung. Sebelum ditahan, Syafruddin sempat menyebut bahwa Sri Mulyani memang pernah mengobral aset BDNI. Angkanya persis yang disebut RR, dari Rp 4,8 triliun menjadi hanya Rp 220 miliar.

“Kata Syafruddin, masalah hak tagih Rp 4,8 triliun yang dipermasalahkan oleh KPK sudah diserahkan kepada Menteri Keuangan, dan Menteri Keuanganyang menjual itu dengan harga Rp 220 miliar," kata Bowo menirukan pernyataan Syafruddin di Gedung KPK tanggal 21 Desember 2017.

Bowo menguraikan bahwa penjualan aset BDNI kepada BPPN sebagai syarat keluarnya SKL BLBI. Kala itu, BDNI telah mengantongi surat sakti SKL. Namun disayangkan, hanya Syafruddin selaku pihak yang mengeluarkan SKL yang menjadi pesakitan di Pengadilan Tipikor karena dianggap merugikan negara Rp 4,58 triliun.

"Kesaksian Rizal Ramli dan Syafruddin Arsyad Temenggung seharusnya sudah cukup bagi KPK untuk menindaklanjuti kasus ini. KPK harus bertindak adil dengan menetapkan juga Sri Mulyani sebagai tersangka karena merugikan negara Rp 4,58 triliun pada tahun 2007,” tegas Bowo.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya