Berita

Syekh Yusuf/Net

Jaya Suprana

Lebih Jauh Mengenal Syekh Yusuf

SELASA, 11 JUNI 2019 | 08:14 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

NASKAH al Syekh Yusuf bin Abdullah al Jawi al Makassary yang dimuat Kantor Berita RMOL 29 Mei 2019 memperoleh tanggapan sahabat merangkap mahaguru ilmu politik saya, Dr. Andi Malarangeng.

Ternyata mas Andi keturunan Syekh Yusuf dari pihak ibunda beliau. Mas Andi mengingatkan saya tentang fakta bahwa Syekh Yusuf merupakan Pahlawan Nasional Indonesia sekaligus juga Pahlawan Nasional Afrika Selatan yang menginspirasi Nelson Mandela memerdekakan bangsanya.

Juga fakta sejarah bahwa sebelum dibuang ke Afrika Selatan, Syekh Yusuf terlebih dahulu dibuang oleh penjajah ke Sri Lanka yang lebih dekat ke Indonesia.


Penelitian

Pengingatan Dr.Andi Malarangeng dibenarkan oleh atase pendidikan dan kebudayaan KBRI Bangkok, Prof Mustari Mustafa yang juga sahabat merangkap mahaguru saya tentang pemikiran Syekh Yusuf.

Bahkan guru besar ilmu filsafat pada Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia ini berbaik hati mengirimkan konsep naskah revisi buku beliau “Agama dan Bayang-Bayang Etis Syekh Yusuf Al-Makassari”.

Buku penelitian tentang pemikiran Syekh Yusuf diawali dengan Kata Pendahuluan yang mengungkap latar belakang penulisan buku komprehensif tersebut sebagai berikut:

Latar Belakang

Masalah utama yang dihadapi masyarakat Islam adalah ketika etika Islam masih dalam tahapan metafisika kontemplatif dan normatif. Hal ini menjadikan banyaknya pertentangan yang disertai dengan klaim-klaim kebenaran (truth claims) dalam kelompok-kelompok Islam sendiri, sehingga mencederai misi agama yang secara historis dikembangkan melalui dakwah Islam etis.

Karena etika religius yang ditawarkan akhir-akhir ini lebih menukik pada aspek doktrinal normatif, maka konsekuensinya, etika religius belum dapat menjawab tantangan riil kehidupan.

Sebagai akibat dari pandangan yang sempit inilah maka masyarakat Islam secara umum berada dalam kemunduran. Membahas tentang etika dalam Islam berarti membahas tentang prinsip pokok dan misi dasar Islam diturunkan ke bumi ini. (Siroj, 2006, 15).

Misi dasar ini kemudian oleh berbagai kalangan khususnya para muballigh menyebutnya dalam berbagai kesempatan, yakni Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin.

Obyektifikasi pandangan tersebut di atas berbenturan dengan kenyataan belakangan ini, dimana Islam hampir selalu dihubung-hubungkan dengan segenap aksi anarkis, intimidasi dan pemaksaan kehendak.

Hal ini sangat bertentangan dengan fitrah manusia, yang bagaimana dan kapan pun manusia selalu mendambakan kehidupan yang harmonis, moderat, toleran, dan penuh keseimbangan.

Idealisasi konsep atau misi dasar Islam sesuai fitrah tersebut justru memperkokoh semangat Islam sebagai agama penawar dan solusi atas berbagai sejarah dekadensi moral, sebaliknya tuntutan-tuntutan atas dasar pemaksaan justru mengabaikan dimensi batiniah dan etis Islam itu.

Kierkegaard


Prof. MM sabar maka ramah menjawab pertanyaan saya tentang kenapa beliau menerawang pemikiran Syekh Yusuf dengan menggunakan lensa pemikiran Soren Kierkegaard sebagai berikut:

“Waktu memulai berpikir tentang sepenting apakah saya meneliti dan menulis Syekh Yusuf, saya menemukan jawaban antara lain menawarkan pemikiran tokoh ini di tengah tengah krisis moralitas dan selanjutnya memilih konsep dasar sebagai pendekatan, maka pemikiran Kierkegaard ini lah teori yang saya amati relevan. Sengaja bukan pemikiran tokoh muslim, agar lebih kombinatif.”

Sri Lanka


Selanjutnya saya bertanya mengenai sejauh mana penelitian Prof MM tentang pemikiran Syekh Yusuf ketika beliau berada dalam pengasingan di Sri Lanka. Prof Mustari Mustafa menjawab:

“Karya Syekh Yusuf yang saya temukan dalam riset ini justru lahir pada saat beliau diasingkan di Sri Lanka. Umumnya karya-karya ini lahir sebagai respon atas pertanyaan dan dialog antara Syekh Yusuf dengan orang orang dari Tanah Air Udara yang menemuinya di Sri Lanka termasuk para calon jamaah haji yang singgah sebelum ke Mekkah. Karena itulah maka pihak Belanda memutuskan Syekh Yusuf diasingkan ke lokasi lebih jauh yakni ke Cape Town, Afrika Selatan karena menilai keberadaannya di Sri Lanka masih memberi pengaruh terhadap warga Tanah Air Udara yang pada masa itu masih disebut oleh penjajah sebagai Hindia Belanda.”

Di Cape Town, gelora semangat Syekh Yusuf melawan penjajah yang tak kunjung padam menginspirasi seorang pemuda bernama Nelson Mandella.

Penulis adalah pembelajar sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya