Berita

Qu Yuan/Net

Jaya Suprana

Qu Yuan

SENIN, 10 JUNI 2019 | 08:14 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

CENDEKIAWAN muda Magister Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Tai Locu kelenteng Hok Tek Bio, Ciampea serta Fellowship 2016-17 King Abdullah Bin Abdul Aziz Interreligious Dialogue merangkap mahaguru pemikiran Khonghucu saya, suhu Tan Tai Yang menjelaskan latar belakang tradisi Peh Cun sebagai berikut:

Bak Cang

7 Juni 2019 adalah puncak Musim Panas di belahan bumi utara di daratan China yaitu tanggal 5 bulan ke 5 penanggalan Imlek (lunisolar) Anno Confucius 2570, ada yang menyebutnya sebagai "Dragon Boat Festival". Umat Khonghucu di Indonesia menyebutnya dengan istilah populer Peh Cun identik makanan yang disebut Bak Cang.


Untuk mewujudkan rasa syukur pada saat sembahyang puncak Musim Panas dibarengi tradisi membuang Bak Cang ke sungai pada saat hari Peh Cun untuk mengenang seorang mahapenyair China bernama Qu Yuan. Maka  jika umat Khonghucu punya tradisi menceburkan Bak Cang ke sungai pada hari Peh Cun ini bukan berarti umat Khonghucu memberikan Bak Cang kepada dewa sungai atau 'Hantu Laut'.

Tradisi menceburkan Bak Cang ke sungai ialah  wujud ekspresi manusia berbudaya untuk menghormati dan melestarikan sebuah peristiwa yang menurut mereka mengandung unsur kebajikan dan kebijakan.

Qu Yuan

Tradisi menyeburkan Bak Cang ke sungai ini dimulai sejak pasca kematian Qu Yuan yang merupakan seorang mahapenyair merangkap menteri dari negara Chu di jaman Tujuh Negara Berperang (Zhanguo).

Qu Yuan dicintai rakyat karena jujur dan bijaksana konon kecewa pada kaisarnya yang lebih mempercayai kaum penjilat di istana negara Chu yang korup sambil menindas rakyat sehingga negara semakin lemah dan bangkrut. Sebagai bentuk protes dan kekecewaannya maka Qu Yuan menceburkan diri ke sungai Miluo pada saat perayaan Duan Yang (5/5 Lunisolar).

Sungai Miluo sekarang terletak di tepi timur Danau Dongting, anak sungai terbesar Sungai Xiang di Provinsi Hunan utara. Namun karena rakyat begitu mencintai dan sangat mengagumi Qu Yuan maka ketika mendengar Qu Yuan telah menceburkan diri, rakyat Chu berbondong-bondong mencari Qu Yuan dengan harapan bisa menyelamatkannya atau minimal dapat menemukan jasadnya untuk diangkat dan dikuburkan. Namun apa daya sampai detik ini setelah ribuan tahun jenasah Qu Yuan belum juga ditemukan.

Masyarakat China melestarikan pencarian ini setiap tahun pada tanggal 5/5 Imlek (lunisolar) dalam perayaan Peh Cun untuk mengenang Qu Yuan sebagai sosok pejabat yang jujur serta bijaksana membela rakyat tertindas.

Berpihak Ke Rakyat


Saya pribadi bukan umat Konghucu dan saya lebih suka makan ketimbang membuang Bak Cang ke sungai. Namun saya menghormati kecintaan Qu Yuan kepada negara, bangsa dan rakyatnya. Begitu besar rasa cinta Qu Yuan kepada negara, bangsa dan rakyatnya sehingga beliau sangat kecewa atas perlakuan buruk penguasa terhadap rakyat.

Akibat tidak berdaya melawan angkara murka sehingga gagal dalam segala upaya perlawanannya maka Qu Yuan memilih cara protes terakhir yang mampu dilakukannya yaitu mengorbankan diri sendiri dengan melakukan bunuh diri. Kerap kali bunuh diri dianggap sebagai perilaku pengecut bahkan menurut agama Nasrani merupakan dosa.

Namun selama berpendapat belum dilarang secara konstitusional maka saya memberanikan diri untuk berpendapat bahwa bunuh diri yang dilakukan Judas Iskariot beda dengan Qu Yuan. Judas bunuh diri akibat menyesal mengkhianati Jesus sementara Qu Yuan bunuh diri sebagai protes terhadap penguasa yang menindas rakyat.

Bunuh diri Qu Yuan juga beda latar belakang psiko-politis dari seppuku kaum samurai. Yang jelas, bunuh diri Qu Yuan tidak seaib angkara murka bom bunuh diri kaum teroris yang tega membinasakan sesama manusia apalagi anak-anak tidak bersalah.

Sebagai pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan saya menghormati keluhuran budi-pekerti Qu Yuan sebagai seorang penguasa yang tidak mabuk rakus kekuasaan maka senantiasa tetap setia dalam keberpihakan kepada rakyat kecil.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya