Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Habis Lebaran

MINGGU, 26 MEI 2019 | 03:30 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BEGITULAH nasib kita, eh, nasib Pakistan. Begitu sulit mencari jalan keluar. Bebannya begitu besar. Jalan berliku sudah dilalui. Oleh pemimpin baru mereka: Imran Khan. Tapi belum juga memberi harapan.

Harga-harga terus naik. Rupiah, eh, Rupee terus melemah. Begitu juga hutangnya: terus membesar.

Oposisi kelihatannya sudah tidak sabar lagi. Untung ada Ramadan. "Tapi setelah lebaran kami akan bergerak," ujar salah satu pimpinan partai di sana.


Imran Khan sudah dua kali ke Beijing. Dapat bantuan 6 miliar dolar. Sudah pula ke Saudi Arabia. Juga dua kali. Dapat bantuan 6 miliar dolar. Sudah ke Qatar. Dapat jaminan sumplay gas.

Masih juga berat. Pertumbuhan ekonomi belum ada tanda menggeliat. Defisit neraca perdagangannya masih besar. Kian besar.

Imran Khan sudah coba rombak kabinet. Menteri keuangannya sudah ia berhentikan: DR Asad Umar. Yang legendaris itu. Padahal belum punya pilihan pengganti. Sudah hampir tiga bulan pos itu belum terisi. Ia hanya mengangkat penasehat keuangan perdana menteri.

Pun akhirnya..... Imran sudah pula melakukan yang paling ia benci: menyerah ke IMF. Sampai jadi bahan ejekan. Di bully habis-habisan.

Hasil penyerahan ya pada IMF: tarif listrik harus naik. Hebohnya luar biasa. Hasilnya tidak seberapa. 75 persen pelanggan listrik di sana adalah yang di bawah 300kWh. Yang tarifnya sangat murah. Dan Imran melarang menaikkannya.

Ditambah kengerian yang satu ini: pencurian listrik di Pakistan masih di atas 20 persen. Dan yang nunggak pembayaran sulit diputus listriknya.

Di tengah kekalutan seperti itu tiba-tiba ada berkah.

Secercah titik terang pun datang. Titik terang itu membesar. Terang sekali. Imran Khan begitu gembira. Ia lihat titik terang itu bakal bisa membuat Pakistan sim salabim: bakal ditemukannya sumber minyak dan gas terbesar kedua di dunia. Lokasinya di Sumur Kekra 1.

Dengan mata berbinar Imran Khan mengumumkan titik terang itu. Berkali-kali. Kepada rakyatnya. Menimbulkan optimisme yang begitu besar. Selesailah sudah segala kesulitan. Bereslah itu barang. Masuk akal Pakistan dikaruniai ladang migas yang besar. Kan letaknya tidak jauh-jauh amat dari Qatar. Atau Bahrain. Atau Kuwait.
Persis bertetangga dengan raja minyak lainnya: Iran.

Jleb....!

Perusahaan minyak yang melakukan pengeboran Kekra 1 itu tiba-tiba mengirim halilintar. Di siang bolong: ladang minyak itu kosong! Kering.

Sudah setahun Exxon (Amerika), Eni (Italia) dan 'Pertamina'-nya Pakistan melakukan pengeboran. Yang sangat sulit. Di tengah laut. Jauh sekali: 280 km di lepas pantai Karachi.

Kedalamannya pun luar biasa. Mengalahkan Masela kita: 5.500 meter di bawah laut. Biaya Rp 1,5 triliun sudah dihabiskan. Hasilnya: 0 besar.

Harapan tinggal harapan.

Harapan itu kini tinggal satu. Tidak seberapa hebat: tambang Batubara. Di daerah Tharparkar. Dekat perbatasan dengan India. Paling miskin di propinsi miskin Sind.

Itu pun sebenarnya belum bisa disebut Batubara. Calorinya tidak sampai 3.000. Warnanya belum hitam. Kalau digali tidak bisa jadi bongkahan. Tapi 'sahabat segala musim' - Pakistan bisa mencarikan jalan keluar. Tiongkok bisa membuatkan pembangkit listrik. Dengan bahan baku brown coal seperti itu.

Bulan lalu satu unit pembangkitnya sudah menyala. Sebesar 330 MW. Satu unit lagi beroperasi bulan depan.

Dari sini Pakistan bisa menghemat devisa Rp 14 triliun tiap tahun.

Empat unit lagi masih bisa dibangun di lokasi ini. Kalau keadaan baik-baik saja.

Maksud saya: kalau otonomi daerahnya bisa dikurangi ruwetnya. Dan penduduk miskin di kawasan gersang itu mau direlokasi: dibuatkan perumahan baru. Sekalian untuk perbaikan kampung.

Itu kalau mau. Tidak mudah membuat mereka mau.

Daerah miskin kadang bisa kenyang dengan keruwetannya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

PKB Merawat NU Tanpa Campuri Urusan Internal

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:01

Polisi: 21 Karung Cacahan Uang di TPS Liar Terbitan BI

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:56

Seskab: RI Belum Bayar Iuran Board of Peace, Sifatnya Tidak Wajib

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:51

Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Sejalan Capaian Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:46

Amdatara Gelar Rakernas Perkuat Industri Air Minum Berkelanjutan

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:30

Mahfud Sebut Sejarah Polri Dipisah dari Kementerian Hankam karena Dikooptasi

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:14

AHY Optimistis Ekonomi Indonesia Naik Kelas

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:13

Gaya Komunikasi Yons Ebit Bisa Rusak Reputasi DPN Tani Merdeka

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:08

Juda Agung Ngaku Mundur dari BI karena Ditunjuk Prabowo Jadi Wamenkeu

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:05

Tragedi Anak di Ngada Bukti Kesenjangan Sosial Masih Lebar

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:04

Selengkapnya