Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Defisit Rekor

MINGGU, 19 MEI 2019 | 03:35 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA lagi di Nha Trang saat berita ini muncul: neraca perdagangan Indonesia defisit lagi. Bahkan mencapai rekor baru lagi. Yang terparah lagi. Rekor baru itu: defisit 2,5 miliar dolar. Untuk satu bulan April 2019.

Alasan resminya: impor  BBM masih besar. Padahal impor BBM itu sudah turun sedikit dibanding bulan Maret. Padahal, impor non-migas juga sudah dibuat turun. Dengan dua usaha itu mestinya defisit teratasi.

Tapi tidak.


Kunci jalan keluarnya memang hanya dua. Yang terpenting: mengurangi impor BBM dan menaikkan ekspor.

Usaha lain-lain bisa tapi tidak terlalu menentukan.

Tapi mungkinkah kita menurunkan impor BBM?

Mungkin, asal produksi minyak kita naik. Atau mobil listrik menjadi kenyataan.

Sayangnya, dua-duanya tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Untuk meningkatkan produksi minyak perlu waktu bertahun-tahun. Sudah 15 tahun produksi kita turun terus. Di zaman pemerintahan lama maupun lima tahun pemerintahan sekarang.

Merealisasikan mobil listrik juga perlu waktu. Setidaknya dua tahun. Itu pun kalau sungguh-sungguh.

Berarti mengharap turunnya impor BBM tidak realistis. Bagaimana dengan B-20 maupun B-50 atau bahkan B-100?

Tentu membantu. Tapi tidak banyak. Untuk B-20 memang sudah bisa jalan. Pemerintah sudah cukup tegas. Penyedia BBM harus patuh. Bagi yang tidak mau mencampur 20 persen minyak sawit dikenakan penalti.

Itu sudah berlaku sejak tahun lalu. Nyatanya impor BBM masih meningkat.

Untuk meningkatkan lagi menjadi Biofuel 50 apalagi 100 masih perlu proses panjang.

Kondisi impor BBM itu kian sulit kalau harga minyak internasional naik. Dan sekarang sudah naik. Sudah di atas 70 dolar/barel.

Itu akibat ketegangan di selat Hormuz. Ketika Amerika sudah siap menyerang Iran.

Tidak menyerang pun harga minyak mentah sudah tinggi. Sejak bulan lalu. Sejak Amerika mencabut pengecualian pada lima negara: India, Taiwan/Tiongkok, Turki dan Pakistan.

Selama ini dunia dilarang membeli minyak dari Iran. Kecuali lima negara itu. Kini mereka pun sudah dilarang.

Bagaimana dengan peningkatan ekspor?

Ada dua kendala pokok. Pertama, permintaan komoditi Indonesia menurun. Sawit dan karet. Akibat melemahnya ekonomi dunia. Setelah Amerika menyerang ekonomi Tiongkok.

Kedua, industri kita belum bangkit lagi dari masa deindustrialisasi. Tidak terlihat program sungguh-sungguh untuk melawan de-industrialisasi. Yang terus dikampanyekan adalah industri  4.0.

Kesimpulannya: ekonomi kita menghadapi pilihan-pilihan yang kurang baik.

Hanya kerja keras - - ekstra keras-- pemerintah yang bisa mengatasi itu.

Apakah pemerintah yang akan datang (siapa pun) bisa kerja lebih keras?

Itu tergantung dari dagang sapi di saat pembentukan kabinet nanti.

Apakah situasi sulit akibat perang dagang bisa diatasi Indonesia?

Harusnya bisa. Bangsa kita lebih besar dari Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia dan Singapura dijadikan satu.

Vietnam bisa surplus. Neraca perdagangan Vietnam surplus 2 miliar dolar tahun lalu. Pertumbuhan ekonominya 7 persen. Bahkan di kwartal pertama tahun ini 7,1 persen.

Perang dagang itu memang parah. Tapi tetap ada yang bisa memanfaatkannya.

Ekspor Vietnam naik 28 persen. Investasi yang masuk naik hampir 10 persen. Sudah lebih satu minggu saya di Vietnam. Dari satu daerah ke daerah lain. Sudah enam daerah saya jelajah. Secara umum Vietnam masih jauh ketinggalan dari kita. Masih seperti Indonesia di tahun 1990-an. Tapi berubahannya memang sangat cepat.

Kamboja juga tumbuh sangat cepat. Meski keadaannya masih seperti Indonesia tahun 1980-an. Saya alami jalan-jalan di Phnom Pehn sangat padat. Mobil-mobil umumnya relatif  baru. Tidak terlihat mobil jelek apalagi reot. Kelas mobilnya juga menengah ke atas.

Saya tidak melihat satu pun mobil kelas Avanza atau Xenia. Kelihatannya paling rendah cc 1500. Begitu dominan Lexus di Phnom Pehn.

Vietnam dan Kamboja tampaknya yang paling bisa menarik keuntungan dari  perang dagang ini. Malaysia juga, sedikit. Ekonomi Malaysia mulai tumbuh lagi. Sudah merangkak kembali ke 4,5 persen. Di kwartal pertama tahun ini.

Apa salahnya defisit?

Defisit tidak salah. Yang salah adalah yang membaca defisit itu. Begitu terbaca defisit mata uang rupiah anjlok.

Soalnya mereka tidak hanya membaca defisit. Mereka membaca yang terjadi di balik defisit.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya