Berita

Surat suara pilpres/Net

Publika

Kualitas Pemilu Menurun

KAMIS, 16 MEI 2019 | 09:35 WIB

TANGGAL 22 Mei 2019 nanti seharusnya menjadi hari bahagia untuk batas waktu akhir Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan kemenangan sementara hasil perhitungan suara pilpres, pileg, dan DPD.

Akan tetapi, hanya seminggu sebelum tanggal itu sudah muncul pernyataan akan dilakukannya penolakan hasil pilpres, karena terjadi “pembiaran” kecurangan pemilu.

Kecurangan terhadap “pembiaran” pelanggaran dan sengketa proses pemilu, sekalipun UU Pemilu telah menyediakan mekanisme penyelesaian hukum terhadap persoalan tersebut. “Pembiaran” yang dikhawatirkan menimbulkan momentum pengumuman hari bahagia berubah menjadi membesarnya kegiatan demonstrasi jalanan, yang dikhawatirkan ditindak oleh pemerintah secara represif.


Potensi tanda-tanda terjadinya reaksi represif itu direspons oleh sebagian rumah tangga dengan rencana pembelian sembako untuk simpanan keperluan cadangan pangan rumah tangga beberapa pekan mendatang.

Potensi aksi penolakan hasil pilpres yang dikhawatirkan meluas itu menimbulkan gejala rasa takut pada sebagian masyarakat, sebagaimana ingatan peristiwa Mei 1998 secara bombastis.

Beberapa penjelasan terhadap gejala munculnya rasa takut itu antara lain sebagai berikut. “Dihilangkannya” penyiaran hasil peliputan peristiwa politik demonstrasi terhadap KPU dan Bawaslu di media audio visual arus utama. Berhentinya penayangan diskusi Indonesia Lawyer’s Club Karni Ilyas.

Terjadinya penguatan arus media utama televisi dan cetak, serta online yang memberitakan secara sepihak yang terpersepsikan hanya membela kepentingan pemerintah secara tidak berimbang. Meningkatnya pemeriksaan tokoh-tokoh kubu 02 menggunakan ancaman pidana dan pasal makar.

Makar yang menggunakan identifikasi persiapan awal dari tindakan makar kudeta sipil tidak bersenjata. Pembentukan Tim Hukum Asistensi Kemenkopolhukam untuk memonitor ucapan para tokoh masyarakat terkesan telah mengingatkan tentang bagaimana efektivitas Adolf Hitler memulai propaganda-propaganda militer untuk menekan lawan-lawan politik ketika itu.

Kematian lebih dari 600 petugas KPPS, petugas kepolisian, dan lebih dari 3000 orang pejuang demokrasi yang sakit, namun Kementerian Kesehatan hanya melakukan autopsi verbal dan adanya himbauan mendepolitisasikan masalah itu. Kedua hal ini telah terkesankan menegangkan urat syaraf rasa takut sebagian masyarakat tentang akan terjadinya tindakan represif lebih jauh dari pemerintah untuk memastikan keberlanjutan pemenangan Pilpres kubu 01.

KPU dan Bawaslu yang membantah tentang adanya pengaduan secara formal satu pun terhadap kritik kecurangan Pemilu, itu telah menimbulkan kesan tentang hilangnya independensi kelembagaan Pemilu 2019.

Tindakan nyata dari Bawaslu, yang terkesan pasif, reaktif, dan bergantung pada mekanisme pelanggaran dan sengketa proses Pemilu ke Mahkamah Konstitusi, sekalipun Bawaslu mendapat kewenangan untuk memutus dan pengadilan untuk memutuskan perkara tersebut.

Demikian pula respons KPU yang tidak bergeming terhadap isu penurunan kualitas Pemilu 2019, telah membangkitkan penguatan horror tentang pudarnya demokratisasi pada era pemerintahan Joko Widodo.

Sugiyono Madelan

Peneliti Indef dan pengajar Universitas Mercu Buana


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya