Berita

Dunia

Membaca Dimensi Politik Kesepakatan Abad Ini

JUMAT, 10 MEI 2019 | 17:59 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MEDIA Israel berbahasa Ibrani Hayom, yang dikenal sangat dekat dengan Benyamin Netanyahu, membocorkan secara sengaja bagian-bagian inti dari isi kesepakatan abad ini atau "Deal of Century" yang digagas pemerintah Amerika di bawah Donald Trump.

Kecurigaan dibocorkannya secara sengaja poin-poin yang sementara ini ditutup sangat rapat, semakin menemukan pijakannya, merujuk pada sumber Kementrian Luar Negri Israel yang dikatakan Hayom sebagai sumber dari mana info didapat. Disebutkannya secara jelas sumber informasi tersebut, sebagai pesan agar para pembacanya percaya bahwa poin-poin yang diungkapnya memiliki akurasi dan sumber legitimasi yang tinggi.

Waktu yang dipilih juga bertepatan dengan saat ketegangan antara Amerika dan Iran mencapai puncaknya. Hal ini sebenarnya menjelaskan secara tidak langsung bahwa tujuan sebenarnya dari manuver militer Amerika yang melibatkannya gugus tugas angkatan laut termasuk kapal induk Abraham Lincoln dan angkatan udara termasuk bomber B-52, mendekati wilayah Iran.


Iran harus memahaminya bahwa ia tidak boleh mengganggu inisiatif Amerika terkait dengan gagasan kesepakatan abad ini antara Palestina dan Israel. Selain itu, untuk mengingatkan negara-negara Arab pro-Iran di kawasan Timur Tengah agar tidak bergerak jika tidak ingin berurusan dengan militer Amerika secara langsung.

Di antara poin-poin draft kesepakatan yang diungkapkannya, yang perlu mendapatkan perhatian antara lain: Pertama, pengakuan Yerusalem sebagai kota yang tak terbagi, dan sepenuhnya milik Israel. Meskipun keberadaan warga Palestina di kota ini tidak akan diganggu, sepanjang tunduk dengan aturan yang dibuat oleh otoritas dan administrasi pemerintah Israel. Di sisi lain Palestina harus membayar seluruh fasilitas yang dinikmati warganya, seperti sekolah atau fasilitas umum lain.

Kedua, pengakuan terhadap seluruh permukiman ilegal. Dengan kesepakatan ini, maka seluruh permukiman yang statusnya saat ini sebagai permukiman ilegal berubah menjadi legal. Konsekuensinya, Israel akan memiliki aparat keamanan dan akses jalan, serta fasilitas administratif lain untuk berada di semua wilayah negara Palestina di Tepi Barat. Kementrian Luar Negri Palestina di Ramallah menyebutnya sebagai bagian dari kebijakan apartheid.

Ketiga, negara Palestina baru yang diizinkan berdiri tidak boleh punya militer yang bertugas melindungi dan menjaga kedaulatan negara sebagaimana lazimnya sebuah negara merdeka. Jadi negara Palestina tidak boleh punya angkatan darat, angkatan laut, maupun angkatan udara. Semua tugas ini akan dititipkan kepada Israel. Palestina hanya boleh punya polisi yang dilengkapi dengan senjata ringan saja. Dengan kata lain, negara Palestina akan memiliki kedaulatan yang terbatas, dan masalah keamanan bergantung pada Israel secara permanen.

Keempat, adu-domba PLO dengan Hammas, Jihad Islam, dan faksi-faksi perlawanan lain. Perjanjian akan ditandatangani oleh Otoritas Palestina yang notabene kini dipimpin faksi Fatah di Ramallah. Sementara yang lainnya termasuk Hammas, Jihad Islam yang berada di Gaza harus mengikuti dan mematuhinya.

Kelima, adu-domba atau fait accompli Palestina dengan negara-negara Arab lain, khususnya Mesir dan Yordania yang bertetangga. Dalam batas tertentu, perjanjian ini sudah dikomunikasikan dengan tetangga-tetangga Israel, khususnya Mesir dan Yordania. Keduanya dibuat menerima berkah atau setidaknya tidak merugikan. Sementara tetangga lain, seperti Suriah dan Lebanon ditinggal.

Keenam, Jared Kushner seorang pengusaha menantu Donald Trump yang konon beragama Yahudi dan sangat pro-Israel yang menjadi otak perjanjian sekaligus mewakili kepentingan keluarga mereka, memiliki kepentingan bisnis baik di Israel maupun negara-negara Arab yang kaya di kawasan Teluk. Tentu proposal yang dibuatnya tidak bisa dilepaskan dari interesnya.

Dengan uraian di atas, tampak jelas sejumlah perbedaan dan perubahan baik dari nomenklatur maupun spiritnya bila dibandingkan dengan perjanjian Oslo Accord yang melahirkan konsep two states solution sebelumnya, yang telah ditandatangani pada 1993 di Washington,D.C oleh Yaser Arafat mewakili Palestina dan Yitzhak Rabin mewakili Israel, disaksikan oleh Presiden Amerika Bill Clinton sebagai mediator.

Gagasan two states solution terasa lebih berimbang dalam mengakomodasi kepentingan Palestina dan Israel, sementara deal of century sangat menguntungkan Israel dan sangat merugikan Palestina.

Lebih dari itu, jika dalam two states solution Amerika menempatkan diri sebagai mediator aktif, sementara aktor utamanya adalah Palestina dan Israel. Pada deal of century, Amerika menempatkan diri sebagai broker yang memegang senjata sambil mengancam pihak Palestina walaupun diiringi basa-basi seolah juga mengancam Israel.
Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya