Berita

Irfan Amalee/Humas BNPT

Pertahanan

Anak Milenial Harus Miliki Kualitas Lawan Propaganda Terorisme Di Dunia Maya

KAMIS, 25 APRIL 2019 | 22:08 WIB | LAPORAN:

Perubahan modus kelompok pro-kekerasan dan terorisme dari model konvensional ke digital menempatkan anak muda menjadi sangat rentan.

Secara demografis, generasi milenial mendominasi ruang maya yang tak terbatas. Sementara kelompok radikal terorisme menjadikan ruang ini sebagai arena baru penyebaran propaganda, indoktrinasi dan rekrutmen.

Pola berpikir ini bisa di balik dengan menjadikan anak muda yang rentan menjadi milenial cerdas sebagai ujung tombak pencegahan konten kekerasan dan radikalisme di dunia maya dengan bahasa milenial.


Mengingat karakter dunia maya yang tak terbatas (borderless), gerakan milenial peduli dunia maya harus menjadi gerakan global.

Butuh generasi milenial atau duta-duta damai di dunia maya baik pada level nasional, regional hingga global untuk berkolaborasi menebarkan pesan-pesan perdamaian.

"Duta damai dunia maya, pertama harus kuantatif dan luas sehingga bisa menjangkau lebih banyak karena arus radikalisme dan propaganda ekstremisme itu sangat cepat dan banyak sehingga perluasan duta damai dunia maya harus eksponensial, tidak bisa satu-satu," ujar Irfan Amalee dari Peace Generation Indonesia di Jakarta, Kamis (25/4).

Apalagi, lanjut Irfan, dengan keberadaan sosial media (sosmed) di mana kesempatan untuk eksponensial itu sangat besar. Itu telah dimanfaatkan kelompok radikal untuk melakukan propaganda dan penyebaran pahamnya melalui sosmed.

Faktor kedua, sebut Irfan, generasi muda terutama duta damai dunia maya harus memiliki kualitas dan kemampuan dalam membuat berbagai konten baik itu gambar, tulisan, video, maupun games. Kualitas ini sangat penting karena faktanya konten-konten kelompok radikal dibuat dengan kualitas yang sangat baik.

Artinya kalau konten itu tidak diimbangi konten damai yang berkualitas, maka penyebaran konten propaganda radikal terorisme sulit dibendung. Pasalnya, masyarakat pasti akan lebih suka dengan konten yang berkualitas dan bagus, dibandingkan konten yang dibuat seadanya.

Selain itu, duta damai dunia maya harus bisa membuat konten yang banyak dan bagus sehingga mereka bisa menjadi agen perubahan (agent of change). Juga harus benar-benar dapat esensinya.

Duta damai dunia maya juga harus paham siapa kawan dan siapa lawan dalam membuat konten

“Jadi dengan memiliki kualitas bisa menjadi orang muda yang layak bicara tentang radikal terorisme dan dia harus dapat poinnya dalam konten yang dibuat. Juga harus bagus kualitasnya, pemahaman, metode, dan harus kreatif. Kalau sekarang visual is the king. Kalau gambar atau videonya biasa ajak dan gak menarik, pasti tidak ada yang mau melihatnya," tutur jebolan Brandeis University, Waltham, Massachusetts, USA ini.

Irfan mengaku sejauh ini Peace Generation lebih banyak membuat konten berupa games. Pertimbangannya games itu bisa lebih cepat menarik perhatian anak muda. Apalagi games itu sangat menarik dan menantang.

"Games itu sudah jadi bahasa muda. Games itu sebenarnya pola pembelajaran atau penularan gagasan dengan pengalaman, jadi bukan dengan pengajaran bukan dengan ceramah. Main games 40 menit sama dengan mendengarkan ceramah empat jam, banyak yang diselipkan di sana dan itu tidak diceramahkan, tapi mereka bisa mencari solusinya," papar Irfan.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya