Berita

Foto: Net

Kesehatan

Filsafat Politik Piton Dan Domba

JUMAT, 19 APRIL 2019 | 14:26 WIB

SORE itu di bawah bayang-bayang angkernya kemacetan kota, kami begitu bersemangat untuk menemuinya.

Bercengkrama dengannya teramat penting, sebab peta jalan tentang impian, tentang hasrat dan seterusnya ada terekam pada diarynya, kami bisa curhat sebebas-bebasnya.

Aku tidak tak begitu familiar dengan orang ini, tetapi percayalah dalam diarynya, episode kelamnya politik cukup lengkap. Sebagai seorang ‘pengisah’, kesepuhannya terkadang membuat ia hidup dalam persembunyian.


Singkat cerita, suasana hatiku seperti rentetan suara senjata otomatis, pada saat dia tiba-tiba bilang negeri kini sedang dirampok oleh para politikus yang bernasib Piton dan Domba. Maksudnya!? Seketika itu juga mencekam, dan kami pun tertawa lepas.

Berfikir keras, mengapa menggunakan simbolisme piton dan domba? Politikus, terutama wakil rakyat di semua level parlemen (mestinya) merupakan makhluk yang bermoral, agung dan luhur.

Menurutnya pada era demokrasi sekarang ini tak sedikit politikus-politikus yang menyerupai simbolik spesies hewan tersebut, mereka menumpang, mereka mendadak muncul yang terkadang menjadikan semua mengagumkan dan memesona. Namun lain dengan kenyataannya, justru menunjukkan kalau mereka lebih mirip satu dan lainnya dengan salah satu spesies.

Penggambaran mengenai kesamaan manusia parlemen dengan hewan ini, telah banyak pemikir utilitarian kontemporer yang dengan apik 'menyentilnya’. Namun sekilas alasan mengapa menggunakan simbolisme hewan? Sebab selain memang dalam banyak hal para wakil rakyat (manusia) ini tak ada bedanya dengan prilaku beberapa spesies.

Perilaku kembar seperti misalnya hewan memiliki kapasitas bersikap altruis (perhatian terhadap kesejahteraan hewan lain tanpa memperhatikan diri sendiri). Hanya bedanya para politikus wakil rakyat (memiliki tingkat intelegensi yang baik, tapi juga punya kapasitas mengembangkan altruismenya tidak hanya pada orang-orang terdekat (keluarga dan kelompoknya), namun juga pada orang lain.

Artinya yang jelas karena para wakil rakyat adalah manusia, maka semua sangat potensial berevolusi menjadi organisme apapun yang dikehendakinya.

Domba disemati stereotipe (pelabelan) negative rendah, bau dan bodoh. Sementara Piton, spesies predator yang memiliki stereotype (pelabelan) negative jahat dan pemangsa.

Meskipun begitu, sedari kecil Domba dan Piton kedua spesies ini menanamkan stereotipe yakni berupa prasangka positif dan juga negative yang terkadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan.

Sebagaimana spesiesme Piton dan Domba, karena para wakil rakyat atau beberapa dari mereka ini memendam naluri purba hewaniyah. Sikap melakukan tindakan negatif dan sewenang-wenang terhadap spesies lain dan ekosistemnya.

Piton dan Domba di sini sebagai sebuah simbol alegoris politik yang menyimpang dari para wakil rakyat yang telah di pilih secara suka rela oleh masyarkat. Politisi simbolisme Piton dan Domba ini jelas tidak sejalan dengan nilai-nilai politik, samasekali tidak ada dimensi kebaikannya, justru politik Piton dan Domba ini kejahatan, karena mengkhianati pemilihnya.

Politik simbolisme Piton menjadi simbol bagi politik siasat, politik yang setelah menang justru tidak mau kerja, politikus yang selain pemalas, alpa terhadap fungsi serta tugasnya, oportunis juga tidak punya malu. Seperti cara hidup piton, jika telah perutnya kenyang, piton akan tertidur pulas dalam waktu lama yang tak bisa diperkirakan. Dia baru akan terbangun dari tidurnya setelah habis makanan dalam perutnya.

Sedangkan politik simbolisme Domba dianalogikan sebagai simbol politik yang bodoh, rendah, dungu dan tidak tahu hal apa yang dikerjakan karena sangat tak mempunyai keahlian. Di palemen wakil rakyat dalam simbolik politik Domba hanya menggunakan logika Datang, Duduk, Diam, Dengar, Dapat Duit.

Jaga, Cegah, Kita Kawal


Risalah tentang politik typical Piton dan Domba ini suka luput, seharusnya dirilis sebelum hari pencoblosan kemarin. Agar menjadi pengingat, penyedaran, perhatian para pemilih cerdas untuk kenali pilihannya.

Melihat dan pelajari rekam jejak data primer atau informasi sekunder dari calon. Misal setidaknya mengketahui motivasi calon tersebut untuk menjadi wakil rakyat. Pemilu kali ini sesungguhnya bisa saja merupakan saat tepat untuk mempertahankan atau mengganti para pelaku politik yang di anggap mampu atau tidak berkemampuan.

Sebab seperti banyak peribahasa ‘mencegah penyakit lebih baik daripada mengobatinya’. Atau jangan sampai ‘sakit menimpa, sesal terlambat, sesudah terlanjur (terjadi), menyesal tidak ada gunanya’. Jangan menunggu penyesalan, setelah nanti baru tahu tentang politik solek yang menjebak.

Politik rezeki Piton dan Domba para politikus selama ini perhaatian kita sering luput. Terkadang baru diketahui mereka setelah terlanjur lolos menjadi wakil rakyat di Parlemen. Lagi pula selain tak akan ada gagasan-gagasan yang bisa ditelorkan, kemudian, ketika mereka merangsek naik, sewaktu-waku dapat bertindak pragmatis.

Alih-alih di Parlemen mempunyai wakil rakyat atau orang-orang yang mempunyai integritas tinggi, berinteligensi di atas rata-rata, bahkan superior.

Oleh sebab itu, kita tidak lagi memakluminya, sebab jika pun nanti diteriaki, percuma dan sia-sia tidak di dengar. Karena dalam percekapan mereka hanya mengerti bahasa piton dan domba. Sebab dalam persepsi sosail manusia hewan politik yang bernama piton dan domba, hubungan dunia wakil rakyat dengan masyarakat pemilihnya (konstituen) sangat jauh antara bumi dan langit.

Manusia Politik Di Parlemen

Politisi hanya bernalar dan berkehendak kuasa semata, belum tentu dia menjadi manusia politik. Sedangkan manusia politik punya rasa simpati besar terhadap masyarakat, melingkupi segala gugus dalam segenap dimensi persoalan sosial.

Paling tidak ada tiga alasan mengapa mereka laiak dipilih, pertama dia tahu mau melakukan apa, kedua stok ide-idenya ada untuk kepentingan rakyat, ketiga dia harus tahu di sana dia tidak sendirian, artinya dia harus terbiasa berorganisasi sebab mengurus organisasi besar yaitu (re)publik.

Sebab kita semua sama-sama tahu, semua caleg mendadak jadi tukang kecap, semuanya jadi manis, menggunakan gimmick (tipu muslihat). Sehingga sampai saatnya mereka menjadi wakil rakyat sulapan, instan. Padahal mereka sesungguhnya tidak memiliki kualifikasi sebagai manusia politik, tetapi celakanya lolos menjadi wakil rakyat. Praktik politik yang seperti inilah cikal-bakal menetesnya manusi-manusia kurop, politikus-politikus yang tak hanya lihai menyalahgunaan wewenang.

Namun kali ini kita harapkan kekuasaan di parlemen semoga diisi minimal 30 persen orang-orang genius, tidak sekedar pintar. Meminjam kalimat Budiman Sudjatmiko, parlemen harusnya diisi 30 persen itu manusia-manusia politik. manusia-manusia politik yang tahu apa dilakukan, mereka tahu apa artinya menjadi manusia politik, punya bekal pengetahuan yang cukup apa artinya menjadi wakil rakyat.

Kita menaruh harapan pada 30 persen wakil rakyat itu untuk membereskan persoalan- persoalan publik. Mereka tidak hanya berpikir masuk DPR itu datang, duduk, diam, tidur. Yang kita butuhkan minimal orang yang duduk di sebuah lembaga yang terhormat ini orang yang mengerti tentang sebuah ide tertentu.

70 persen itu kita tolerir, bahwa 30 persen harus orang-orang yang tahu tentang membagi antara kepentingan bersama dengan kepentingan pribadinya, yakinlah republik ini akan sehat.


Mujamin Jassin

Penulis Lepas

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya