Berita

Hotel Mumbai/Net

Publika

Hotel Mumbai, Teror Tanpa Jeda Yang Menyayat Jiwa

JUMAT, 12 APRIL 2019 | 23:09 WIB

DUA orang remaja memberondong ratusan penumpang kereta api di sebuah stasiun. Senjata yang digunakan adalah AK-47 bikinan Mikhail Kalashnikov.

Senjata yang dibuat di tengah Perang Dunia ke-2 ini memakai peluru dengan kaliber 7,62 x 39 milimeter dengan rentetan serbuan yang mengerikan. Darah kental pun tercecer di mana-mana. Kepala pecah, badan-badan hancur. Tangan dan kaki yang terkena serpihannya berlumuran darah.

30 menit kemudian, di sebuah kafe, seorang pelayan tertembak, lima detik kemudian, granat meledak. Dua orang remaja yang lain dengan penyerang di stasiun masuk ke dalam kafe mencari orang-orang yang masih hidup. Tanpa perasaan dan tanpa emosi dua remaja yang masih ingusan dan nampak polos itu menembak kepala orang dengan santai. Satu per satu. Kepala demi kepala dieksekusi mati dengan tenang.


Orang yang masih selamat di jalanan berlarian ke sebuah hotel. Mereka mau menyelamatkan diri dari orang yang tak diketahui itu. Ratusan orang mau masuk. Pintu hotel pun dibuka. Sialnya, empat remaja yang membawa AK 47 itu ikut masuk dalam rombongan manusia yang ketakutan dan histeris sebab menerima serangan yang bertubi-tubi dan tiba-tiba.

30 menit kemudian dengan keringat yang menetes di dahi dan pipi, empat remaja itu menembaki orang-orang di dalam hotel. Tanpa ampun. Tanpa jeda. Tanpa aba-aba. Begitu melihat korban: door. Adegan para penjahat dalam film superhero pun tak ada apa-apanya dengan ambisi remaja itu untuk mengabisi orang. Tanpa kata-kata, langsung menembak. Begitu menyayat jiwa.

Itulah adegan dalam Film Hotel Mumbai. Film ini begitu mengerikan sehingga dikasih label untuk dewasa. Dari adegan ke adegan begitu terasa nyata. Tak ada jeda untuk menarik napas. Setiap menit penuh aksi mematikan. Setiap pembantaian benar-benar menggugah jiwa. Jangankan merasakan kenyataan, melihat dalam film saja bisa bikin meringis.

Film yang disutradarai Anthony Maras dan diproduksi oleh Thunder Road Pictures benar-benar menghadirkan aksi terorisme. Lebih-lebih adegan keluarga Zahra Kashani (diperankan Nazanin Boniadi) dan suami seorang arsitektur bernama David (Armie Hammer) bersama dengan bayinya.

Mungkin pada mulanya orang mengira Davis dan Zahra akan bertindak sebagai tokoh utama dalam film ini. Apalagi pemeran keduanya bukan orang baru dalam film Hollywod. Namun tidak. Bahkan David pun harus tewas di tangan teroris remaja itu dengan mudah.

Jelas nampak pemeran utama dalam film ini adalah empat orang anak muda teroris di dalam hotel. Aksi Imran (Amandeep Singh) dan Abdullah (Suhail Nayyar) begitu sempurna. Akting mereka nyaris tanpa cela.

Film ini berbasis pada peristiwa nyata di tahun 2008 di Kota Mumbai. Inilah aksi terorisme paling bersejarah di tahun 2008. Dalam teror Mumbai ini, tak kurang dari 180 orang tewas dan sekitar 370 orang luka-luka. Kelompok yang menamakan sebagai Deccan Mujahidin menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa itu. Pemerintah India sendiri yakin aksi itu dilakukan oleh Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan. Sementara itu, Presiden Pakistan Asif Ali Zardari memastikan bahwa pemerintahannya tidak terlibat dalam kasus itu.

Dalam Film Hotel Mumbai, fokus kejadian berada di Taj Mahal Palace Hotel yang merupakan hotel mewah di kawasan Colaba, Mumbai. Hotel ini memiliki 560 kamar dan 44 suite dengan tamu-tamu para pemimpin dan selebritas dunia. Sementara serangan di Stasiun Kereta Api Chatrapati Shivaji Terminus (CST) dan Kafe Leopold digambarkan sebagai pengantar film dramatik ini. Faktanya, serangan terorisme yang membuat malu kepolisian India ini terjadi di tempat lain termasuk Nariman House, Chabad Lubavitch, Hotel Oberoi di dekat Bombay Municipal Corporation serta Vidhan Sabha, sebuah kantor majelis legislatif.

Film ini mengambarkan sisi kehidupan teroris yang miskin dan tak berpendidikan. Mereka anak-anak remaja yang mudah dicuci otaknya. Mereka tergiur dengan iming-iming harta yang akan diberikan pada keluarga. Mereka juga termotivasi dengan janji surga yang dibisikkan para mentornya. Mentornya sendiri tak peduli dengan nilai-nilai agama.

Nampak sang mentor, melalui sambungan telepon, memerintahkan anak remaja itu agar meraba beha/payudara korban untuk mengetahui paspornya. Si teroris merasa dilema, sang mentor memerintahkan memegang payudara dengan alasan kafir, sementara si teroris menilai itu bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Dilema lain, saat teroris Imron, yang dijanjikan uang untuk keluarganya kelak bila misi selesai, terguncang hatinya saat mau menembak Zahra Kashani yang mengucapkan kalimat tahlil dan dzikir dalam sejumlah ayat Al Quran. Ia kaget calon korbannya itu bisa membaca ayat suci. Ia ragu untuk menembak. Namun telepon mentor kembali tersambung dan memerintahkan: mau muslim atau bukan harus ditembak!

Ada adegan yang sepertinya mau mempertontonkan ironi lainnya. Para teroris itu begitu mudah membantai manusia tanpa ekspresi namun sangat kaget ketika dikasih tahu bahwa makanan yang dikonsumsinya adalah daging babi.

Namun ada juga adegan terkait dengan kasus lama di Afhganistan. Vasili (Jason Isaacs), seorang pengusaha asal Rusia yang menjadi tamu VIP hotel adalah bekas pasukan khusus Uni Soviet di Afghanistan. Film ini seakan menyisipkan pelajaran bahwa kasus terorisme juga kian mengental sebagai dendam yang lahir dalam persoalan yang sejatinya antara AS dan Soviet itu.

Hal ini menambah thesis bahwa faktor teror selalu tak tunggal. Mungkin ada faktor agama namun kemiskinan, pendidikan dan ketidakadilan-global juga tak kalah utama dan mendasarnya.

Hal lain dari film ini bahwa para pahlawan atau superhero tidak datang dari galaksi lain atau dari manusia yang kena serum atau percikan energi sebagaimana dalam film-film besutan Marvel ataupun DC. Pahlawan bisa datang dari mana saja. Dari Arjun (Dev Patel) misalnya yang merupakan seorang ayah dari komplek miskin di Mumbai dan bekerja sebagai pelayan hotel maupun dari kepala koki Hermant Oberoi (Anupam Kher) yang mengganggap tamu sebagai dewa.

Yayan Sopyani Al Hadi
(wartawan senior dan penikmat film)

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

NATO Turun Gunung Usai Trump Mau Tarik 5 Ribu Pasukan dari Jerman

Minggu, 03 Mei 2026 | 00:03

Komdigi Dorong Sinergi Penegakan Hukum Ruang Digital

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:45

Wamenkeu soal Purbaya Masuk RS: Insya Allah Sehat, Doakan Saja!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:32

Negosiasi Berjalan Buntu, Trump Tuding Iran Tidak Punya Pemimpin Jelas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:19

Pernyataan Amien Rais di Luar Batas Kritik Objektif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:51

Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:38

Aktivis 98: Pernyataan Amien Rais Tidak Cerminkan Intelektual

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:18

Wakil Wali Kota Banjarmasin Dinobatkan Sebagai Perempuan Inspiratif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:48

KAI Pasang Pemasangan Palang Pintu Sementara di Perlintasan Jalan Ampera

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:34

Paguyuban Tak Pernah Ideal, Tapi Harus Berdampak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:52

Selengkapnya