Berita

Ilustrasi/Net

Politik

KPU Didesak Investigasi Dugaan Mengacaukan DPT

SELASA, 09 APRIL 2019 | 22:25 WIB | LAPORAN:

Tim Informasi dan Teknologi Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi mendesak Komisi Pemilihan Umum segera melakukan investigasi terhadap kemungkinan adanya peretas atau hacker yang mengacaukan daftar pemilih tetap (DPT).

Pasalnya, banyak DPT yang ditemukan invalid dan tidak logis.

Begitu disampaikan Juru Bicara IT BPN Agus Maksum saat membeberkan DPT bermasalah dalam pernyataan sikap bertema 'DPT Bermasalah: Pemilu 2019 Berpotensi Chaos' di Ruang KK III, Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (9/4).


Menurutnya, pengungkapan temuan DPT bermasalah yang dilakukan BPN selama ini bukan untuk mendelegitimasi KPU tetapi membantu menciptakan pemilu yang kredibel, bersih, jujur dan adil. 

Sebab dari temuan pihaknya terdapat banyak DPT bermasalah dan tidak logis, seperti pemilih memiliki tanggal lahir yang sama.

"Ada satu TPS dua ratus orang, banyak yang tanggal lahirnya sama. Kemudian ada data invalid berkode 01/01 tidak punya NKK alias nomor kartu keluarga," jelas Agus.

Selain itu, di daerah Sukabumi Kampung Gintung terdapat satu desa tanggal lahir, bulan dan tahunnya sama. 01/01/1949. Hal yang sama ditemukan di Tulungagung, di mana ada satu desa DPT penduduknya bertanggal lahir 01/10/1970. 

Terhadap temuan ini, KPU percaya dan melakukan pengecekan di sebanyak 2.000 tempat pemungutan suara (TPS).

"KPU akan mengganti karena salah pengetikan dan akhirnya akan dilakukan perbaikan. Akal sehat saya sangat sulit untuk bisa menerima karena salah ketik, apalagi jumlahnya tidak wajar. Kalau kemudian bisa ratusan dan puluhan maka itu tidak wajar," papar Agus.

Anehnya, DPT tersebut tersusun secara rapih, bahkan ada kode seperti 01-07 dan 31-12.

"Jadi apakah itu sebuah kebetulan, salah ketik bisa teratur. Saya tidak bisa menerima, saya menduga ada intruder untuk mengatur data," tegas Agus.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya